1. Aikido

Aikido lahir di Jepang sebelum perang dunia ke dua. Akar seni bela diri ini adalah seni bela diri Daito Ryu Aiki Jujutsu yang sudah ada di Jepang sejak beberapa abad yang lalu. Daito Ryu Aiki Jujutsu merupakan seni perang dan seni bela diri yang hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu dari kalangan istana kerajaan, terutama samurai pilihan di istana dan tidak sembarang orang dapat mempelajarinya hingga satu saat seni bela diri ini mulai diperkenalkan kepada publik oleh Sokaku Takeda. Salah satu murid dari Sokaku Takeda adalah Morihei Ueshiba yang dikemudian hari mengembangkan Aikido.

O' SenseiSejalan dengan perjalanan hidup Morihei Ueshiba, beliau mengembangkan seni bela diri Daito Ryu Aiki Jujutsu in menjadi sebuah bela diri yang tujuannya lebih kepada melindungi dengan kasih sayang. Aikido diciptakan karena kemuakan dari Morihei Ueshiba akan perang dan banyaknya korban yang beliau lihat dan alami semasa perang. Sehingga sewaktu pulang kembali ke Jepang setelah ditugaskan berperang, beliau berpikir untuk menciptakan suatu seni bela diri yang lebih melindungi dari pada merusak dan menghancurkan.

Nama Aikido sendiri memiliki arti yang mencerminkan harapan dari pendirinya. Aikido terdiri dari 3 buah karakter kanji Jepang yaitu “Ai” yang berarti “Keharmonisan gerakan tubuh dengan jiwa”, “Ki” yang berarti “Energi kehidupan (Chi)” dan “Do” yang berarti “Jalan”. Jadi Aikido berarti “Jalan untuk mengharmoniskan gerakan tubuh dan jiwa dengan energi kehidupan”. Dengan kata lain Aikido merupakan suatu jalan untuk mengharmoniskan semua yang ada di kehidupan kita.

Dengan keharmonisan diharapkan dapat menciptakan suatu kedamaian, namun jika harus menggunakannya Aikido untuk membela diri bukan berarti harus dengan menghancurkan sesuatu untuk mencapai tujuan.

Bersandar kepada arti nama Aikido maka Aikido dapat dipelajari oleh siapapun tanpa mengenal batas umur, keadaan fisik yang kuat atau lemah, lelaki maupun perempuan. Ini disebabkan Aikido tidak berpaku hanya mengandalkan tehnik dan kekuatan fisik semata tapi lebih luas dari itu.

Kekuatan Aikido terletak pada filosofinya.

FILOSOFI AIKIDO

Filosofi Aikido sarat akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka.

Aikido mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan dan lain-lain. Aikido bukanlah agama tetapi pendiri Aikido pernah berkata bahwa dengan mempelajari Aikido, maka orang dapat lebih mudah mengerti dan mempelajari apa yang ia temukan dalam agama yang dipelajari.

Aikido mengajarkan seseorang agar berjiwa seperti seorang samurai yang menjunjung tinggi kebenaran. Jiwa ini terefleksikan pada hakama (celana khas Jepang) yang dikenakan oleh praktisi Aikido yang telah tinggi tingkatannya.

Pada hakama terdapat 7 buah ajaran samurai yang mewakili 7 pilar “Budo” (Jalan Ksatria). 7 ajaran ini meliputi “1. Kebenaran dan Kebaikan, 2. Sikap Hormat dan Kehormatan, 3. Ketulusan dan Kejujuran, 4. Loyalitas, 5. Kesopanan dan Sopan Santun, 6. Pengetahuan dan Hikmah Kebijaksanaan, 7. Keberanian”. Jadi praktisi aikido yang telah mengenakan hakama diharapkan mengerti, memahami dan menjalankan dari apa yang dikenakan.

Lebih mendalam lagi, Aikido mengajarkan tentang kehidupan dan bagaimana agar kita dapat menjalaninya secara harmonis. Pendiri Aikido pernah berkata “ Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi” yang berarti “ Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri; kemenangan sejati adalah kemenangan tanpa pergulatan sedikitpun”.

Aikido menganut filosofi “muteki” atau “tidak ada musuh”. Maksudnya tidak ada seseorang atau sesuatu pun didunia ini yang harus kita kalahkan kecuali diri sendiri, jika dalam hidup kita mampu mengalahkan ke-aku-an diri sendiri, maka sebenarnya tidak ada musuh di kehidupan ini. Lawan terberat adalah diri kita sendiri. Agar dapat mencapai hal ini, kita membutuhkan “Makoto” atau “Hati yang bersih”. Dengan hati yang bersih, maka kita dapat melihat/ menilai apa yang ada di hadapan kita dengan lebih jelas, ibarat air danau yang jernih dan tenang, maka permukaannya akan memantulkan refleksi seperti apa adanya.

Ini baru beberapa hal yang diajarkan didalam Aikido. Ajaran ini sedikit banyak dapat menjelaskan mengapa Aikido tidak ada kompetisi dan bukan bela diri sport. Karena Aikido dimaksudkan bukan unutk mengajarkan menang atau kalah dan sikap sportif tetapi lebih kepada pelajaran untuk pembentukan karakter tiap praktisinya baik dari sisi hati, akhlak, moral, mental dan terakhir, fisik.

SEJARAH AIKIDO DI INDONESIA

Aikido masuk ke Indonesia pada akhir tahun 1969. Aikido dibawa oleh Bapak Jozef Poetiray yang merupakan Ketua Dewan Guru dari Yayasan Indonesia Aikikai yang didirikan tanggal 28 Oktober 1983. Yayasan Indonesia Aikikai terdaftar sebagai anggota yang mewakili Indonesia di International Aikido Federation (IAF), Asian Aikido Federation (AAF) dan tentunya di Aikido Headquarter di Jepang.

Bapak Jozef Poetiray merupakan salah satu mahasiswa yang dikirim oleh pemerintah Indonesia ke Jepang dalam rangka beasiswa rampasan perang Jepang bagi Indonesia di tahun 1960-an. Beliau selama di Jepang mencari sesuatu yang berguna yang dapat dibawa ke Indonesia sesuai dengan amanat dari Presiden Soekarno saat itu, agar para mahasiswa mempelajari dan membawa sesuatu yang positif dari Jepang yang bukan hanya ilmu pengetahuan tapi segala sesuatu yang positif yang nantinya dapat diajarkan kepada generasi muda Indonesia mendatang.

Di sisi lain Bapak Jozef Poetiray ingin belajar seni bela diri yang cocok dengan dirinya dan dapat menyentuh hati, perasaan, jiwanya serta dapat mengoreksi tingkah laku beliau di kehidupan sehari-hari. Sampai pada suatu hari beliau melihat peragaan seni bela diri Aikido di TV lokal. Namun karena pada saat itu di Hiroshima belum ada, maka beliau baru mempelajarinya ketika pindah kuliah ke Tokyo. Beliau juga menjadi salah satu orang yang mendirikan Indonesian Students Aikido Club di Wisma Indonesia di Jepang. Banyak hal yang beliau dapat dari Aikido.

Melalui latihan yang tekun, ternyata membawa perubahan yang baik kepada tingkah laku beliau yang sebelumnya seorang yang bertemperamen tinggi dan gampang meledak. Perubahan tersebut didapat tidak hanya melalui latihan fisik namun filosofi yang dipelajari beliau juga bermanfaat di kehidupan sehari-hari seperti di rumah, kantor dan lain-lain.

Maka beliau bertekad mengembangkan Aikido di Indonesia sebagai misinya, khususnya untuk para generasi penerus bangsa Indonesia. Seiring berjalannya waktu, Aikido di bawah Yayasan Indonesia Aikikai berkembang di Indonesia secara perlahan tapi pasti.

Sampai saat ini sudah sekitar lebih dari 1000 praktisi Aikido yang berlatih tersebar di beberapa tempat di Indonesia, khususnya Jakarta. Dojo yang berada dibawah naungan Yayasan Indonesia Aikikai ada sekitar 30 buah dojo yang tersebar di Indonesia dengan 20 diantaranya berlokasi di Jakarta.

Sampai saat ini, Yayasan Indonesia Aikikai sudah menyelenggarakan berbagai kegiatan baik bersifat nasional maupun internasional dengan mengundang negara lain. Seperti ujian kenaikan sabuk hitam tahunan, dimana pengujinya masih dikirim dari Aikido Headquarter Jepang, mengundang beberapa Sensei dari Jepang untuk mengadakan seminar Aikido di Indonesia dan turut serta pada berbagai eksibisi dan seminar bela diri baik didalam maupun luar negeri. Kegiatan terakhir Yaysan Indonesia Aikikai adlaah mengikuti seminar internasional IAF di Jepang dan Bapak Jozef Poetiray menjadi pengajar Aikido untuk latihan mental di program ASEAN yang diadakan Yayasan Bina Pembangunan di Padepokan Bumi Mandiri, Cisaat. Yayasan Indonesia Aikikao juga mendapat dukungan kedutaan besar Jepang di Jakarta. Diharapkan kedepannya Aikido dapat lebih berkembang lagi dan ikut membangun akhlak dan moral bangsa Indonesia melalui filosofinya.