“50 % training, 100% good times” rasanya sebagian besar peserta aiki camp akan setuju dengan kalimat diatas untuk mendeskripsikan apa itu “aiki camp” yang baru saja di gelar di Padepokan Judo Ciloto, dari tanggal 24 – 26 Juli kemarin.
Atmosfir persaudaraan diantara peserta Aiki Camp kali ini begitu hangat mengalahkan dinginnya udara puncak yang relatif mendung selama Aiki Camp berlangsung. Ikatan hati Sensei & murid-muridnya, sempai & kohainya, saudara antar dojo makin terjalin erat lewat latihan dan kebersamaan. Inilah mungkin salah satu nilai tambah yang bisa kita dapatkan dari mengikuti gashuku seperti kemarin selain belajar tentang aikido. Nilai tambah lainnya mungkin udara segar yang jarang bisa kita hirup di Jakarta & menu makanan rumahan dengan rasa yang relatif enak.
Seperti “Aiki Camp” 2 tahun yang lalu, kali ini sesi latian dipimpin oleh Aiki Kenkyukai Cho Imanul Hakim Sensei (4th Dan) & beberapa sesi diisi oleh tamu kehormatan Kaoru Murase Sensei (4th Dan) dari Aikido Kenkyukai International. Dalam sesi beliau, Hakim Sensei kembali menekankan tentang belajar melalui “rasa”, bagaimana kita seharusnya mensikapi teknik sebagai sebuah sarana latian, bukan tujuan dan lebih memfokuskan pengembangan “rasa” menggunakan hati. Sedangkan Kaoru Sensei berbagi Jo (tongkat) waza, bagaimana menghadapi bokken menggunakan Jo. latian pada hari Sabtu tanggal 25 dimulai dari jam 7 pagi & selesai jam 4.30 sore, 5 sesi latian, latian yang panjang dan menyenangkan.
Setelah makan malam, ada sesi diskusi yang disediakan Hakim Sensei untuk murid-murid mengajukan pertanyaan seputar aikido dan latian yang sudah dijalani selama ini, karena tidak banyak yang berinisiatif melontarkan pertanyaan, Hakim Sensei memulai diskusi dengan bercerita tentang perjalanan beliau belajar aikido, dimana titik-titik kejadian yang membawa perubahan dalam perkembangan aikido yang beliau latih. Diskusi ini ditutup dengan pesan beliau bahwa seseorang yang belajar Budo (the way of the warrior) adalah seorang ksatria & dalam diri seorang ksatria haruslah terdapat hati yang lembut, karena ada kekuatan yang hanya didapat melalui kelembutan hati yang tidak dapat dicapai jika seseorang memiliki hati yang keras.
Hari kedua, Minggu 26 Juli latian kembali dijadwalkan jam 7 pagi, tapi apalah daya, sebagian besar peserta “ngaret”, bisa dimaklumi karena hari sebelumnya hampir semua mengikuti sesi latian kurang lebih 7 jam. Meskipun begitu, setiap peserta tetap latian dengan penuh semangat. hari ini sesi pagi dipimpin Murase Sensei dengan memberikan penjelasan tentang bagaimana untuk menjaga agar badan tetap dalam keadaan betul-betul rileks dalam latian baik saat menjadi nage maupun uke. Hakim Sensei di sesi kedua Hakim Sensei menjelaskan kembali tentang 7 karakteristik Aiki hingga sesi berakhir pada jam makan siang, sebelum ditutup, Hakim Sensei berpesan pada peserta untuk membawa pulang “rasa” dan berusaha berlatih menghidupkan “rasa” tersebut dalam latian di dojo masing-masing.
Di Gashuku kali ini juga ada ujian kenaikan tingkat untuk sabuk putih (kyu 6 – 4) dan kita bersyukur semua lulus dengan baik, Selamat bagi yang lulus ujian. Untuk para pembaca, semoga kita bisa bertemu lagi tahun depan di Aiki Camp 2010!
Popularity: 27% [?]


Saya peserta Gashuku dari KL, Malaysia. Saya rasa amat gembira dengan Aikicamp. Aikidoka di Indonesia amat bertuah kerana mempunyai Sensei seperti Sensei Hakim. Manfaat kan kehadiran beliau.