Seminar Aikido Yoshinobu Takeda Shihan

October 1, 2007

Pengalaman Berlatih Aikido

Terus terang ketertarikan saya pada Aikido bertambah besar ketika saya membaca beberapa deskripsi tentang pengalaman spiritual O Sensei yang mendasari munculnya Aikido sebagai suatu seni bela diri plus-plus yang tidak hanya menempa tubuh fisik, melainkan juga jiwa (pikiran dan hati). Sebelumnya pengenalan saya terhadap Aikido hanyalah sebatas teknik bela diri yang menurut mama saya merupakan tingkat pelatihan lanjutan dari Jujutsu dan bahkan Judo. Kebetulan beliau menyandang Dan 1 Judo namun sayangnya ilmu beliau tidak diturunkan ke saya, hehe…

Sebagai seorang pemula, secara kebetulan saya mendapatkan banyak sekali bimbingan yang bermafaat dari para Sensei (baru sebatas Sensei Jamal, Sensei Yosy & Sensei Ime), juga para sempai di Dojo Kelapa Gading. Dari sudut pandang keteknikan (waza), apa yang sensei lakukan pada saat menjadi nage ketika eksekusi teknik berjalan adalah mengenalkan saya sebagai uke bahwa ada titik/ruang kosong dimana energi yang saya salurkan sama sekali tidak berdaya ketika diposisikan dalam kombinasi sudut masuk, sudut kuncian dan gerakan (positioning) tertentu dari sang nage. Penguasaan ruang kosong uke oleh sang nage inilah yang membuat seolah-olah tanpa energi tambahan dari si nage, si uke sendiri terbeban oleh gaya gravitasi dan momentum gerakan dari tubuhnya sendiri.

Beruntung sekali, apa yang dibekali kepada saya selama berlatih selama 1.5 bulan ini (masih termasuk baru ya?) tidak hanya sebatas teknik-teknik fisik walaupun itu sangat membantu untuk pemahaman aspek selanjutnya dari Aikido. Wejangan-wejangan dan pembahasan-pembahasan mengenai sikap awal, pengondisian jiwa dan spirit Aikido dari para sensei dan sempai membawa saya menuju kepada penyimpulan bahwa tanpa kesatuan tubuh dan jiwa serta pemahaman yang mendalam akan tujuan Aikido diciptakan, pelatihan-pelatihan Aikido akhirnya akan menjadi teknik yang mati dan hanya berujung pada pemuasan ego belaka sebagai ‘pemenang’. Aikido berbeda sama sekali.

Dari sudut pandang filosofis, Aikido menawarkan sebuah bentuk penanganan terhadap konflik dengan tidak menciptakan konflik baru. Inilah yang ditempa secara kejiwaan selama eksekusi teknik berlangsung. Jadi Aikido bagi saya sementara ini bukanlah sebatas seni olah fisik yang menekuni bidang penguasaan titik-titik kuncian terhadap sendi-sendi maupun pencarian sudut-sudut ketidakseimbangan lawan, namun Aikido juga sekaligus menawarkan sebuah transformasi kejiwaan dengan jargon ‘mushin’, ‘masakatsu’, ‘agatsu’, ‘katsu hayabi’, dll… Sebagai peminat Psikologi, saya tercengang bahwa Aikido sangat sarat dengan muatan psikologisnya dan apabila mau didalami dengan sungguh-sungguh, dapat dijadikan sebagai sebuah bentuk self-therapy dan pengembangan diri yang efektif untuk dapat tetap bertahan di dalam dunia yang semakin kompleks ini.

Saya secara khusus tertarik pada konsep unifikasi (blending?) karena pada saat eksekusi dilakukan, uke dipandang sebagai bagian dari nage sehingga dengan sikap demikian, tidak ada sikap untuk menyakiti lawan (uke). Inilah keunikannya. Walaupun sebagai pemula, saya masih sering ragu dan masih terpecah konsentrasinya ketika berhadapan dengan uke, namun perlahan-lahan saya mulai menikmati masa-masa latihan ini dan perlahan-lahan mulai menyadari bahwa Aikido adalah lebih dari yang saya bayangkan sebelumnya. Menyadari bahwa Aikido begitu luas dan mendalam aplikasinya, akankah kita menyia-nyiakannya?

Senang rasanya bisa berbagi sesuatu yang positif dengan teman-teman semua. Semoga ada kesempatan berkenalan dengan teman-teman yang lain untuk berlatih teknik bersama dan sekaligus mengembangkan sebentuk pemurnian jiwa yang tersirat di dalam berbagai eksekusi teknik Aikido. Onegai-shimasu!

-Jon-
Dojo Sky 23 Tomang

Saran & Masukan:

Sensei, kebetulan saya pernah dipinjamkan dan akhirnya meng-copy buku berjudul “The Spiritual Foundation of Aikido”, karya (Sensei?) William Gleason dari Sensei Jamal. Di dalamnya banyak intisari Aikido yang benar-benar mendalam, seperti istilah Makoto, Sunao, Keiko, pengaruh & aplikasi Kototama, serta Misogi (purification) sebagai tujuan akhir Aikido. Menurut saya pembahasan hal-hal seperti ini akan menambah kedalaman bekal filosofis bagi anggota Aiki Kenkyukai apabila di dalam Inside Aiki juga ditambahkan rubrik khusus untuk mengupas buku-buku aikido yang bersifat filosofis secara bertahap dan kontinu, seperti buku ini.

Selain itu, bentuk lain bisa juga dengan membentuk semacam “sesi bedah buku” yang diselipkan pada akhir pelatihan bersama dwi-mingguan di dojo pusat. Resikonya memang bisa jadi sesi pembahasan seperi ini akhirnya melebar dan berakhir menjadi perdebatan teosofis belaka. Namun kalo didasari dengan spirit beginner yang selalu mau terbuka pikirannya dan belajar, sepertinya dapat juga menstimulasi insight akan tujuan dan intisari Aikido itu sendiri. Dengan sendirinya, pembekalan ini akan memurnikan spirit dan sikap selama berlatih. Mudah-mudahan saran ini bisa menambah khasanah sarana pembelajaran bagi anggota Aiki Kenkyukai.

Popularity: 81% [?]

Teman-teman Aikidoka..saya sebetulnya ingin berbagi pengalaman..namun karena lum tahu posting kemana jadi ya disini saja… saya baru saja berlatih aikido..masi awam banget..baru 6 bulan..sekarang ini saya mulai merasakan kesulitan..sulitnya itu bukan latihan di dojo, tapi dikehidupan sehari-hari. Yang paling sulit adalah untuk membentuk pikiran dan kerendahan hati yang benar yang kemudian bisa digunakan dalam mempelajari aikido dan kehidupan sehari-hari..pernah saya mencoba untuk menjajal ke dojo lain, namun tampaknya saya salah dalam menempatkan diri, hati, dan pikiran karena pernah belajar di dojo says..yang ada malah kesombongan saya dengan merasa lbh baik dan lbh mengerti aikido..padahal saya tidak lbh baik dari siapapun dan tidak lbh mengerti dari siapapun. Hasilny, saya tidak cuma malu tapi juga menyakiti hati teman saya. SAya jadi tertegur, saya ini belum apa-apa. Malu rasanya mengingat saat itu..Namun hari itu saya jadi ingat satu ajaran yang dulu Pernah saya baca dalam buku The Spiritual Foundation of Aikido, teNtang 10 evil of samurai..teman sebagai manusia kita sering kali sok tahu padahal tidak tahu, mengerti padahal tidak mengerti, dan yang terparah kita sombong dengan hal tersebut. Hari itu saya diajarkan hal tersebut..semoga pengalaman saya berguna bagi teman-teman Aikidoka. pada kesempatan ini saya juga ingin Minta maaf kepada Sensei saya karena telah membuat malu dan juga kepada Sensei dojo yang saya datangi atas kesombongan saya datang ke dojo Sensei juga kepada teman yang sudah saya sakiti.Trims, Wassalam

Comment by chris — April 4, 2008 @ 1:49 am

Harmoniskan dengan Komentar

   

Aikido Book Refference

 

Souvenirs