Sekilas pertanyaan ini sepertinya hanya layak dilontarkan pada orang-orang yang belum atau baru saja berlatih & belajar tentang aikido. Tapi dalam satu kesempatan bercengkrama setelah latihan dengan Hakim Sensei beberapa waktu lalu, pertanyaan ini beliau lontarkan kepada semua murid yang pada waktu itu hadir, baik junior maupun senior.
Dalam hati saya menjawab, jujur saja, niat pertama saya belajar aikido ya untuk belajar beladiri. Lalu tanpa harus mendapat respon verbal dari murid-muridnya, seperti mengerti apa yang kami pikirkan, Hakim Sensei mengajak kami merenung lebih dalam dengan melontarkan pertanyaan berikutnya, “Kalo seumur hidup kita tidak sampai dihadapkan pada keadaan harus membela diri seperti berperang,bertempur atau bahkan berkelahi, berarti latihan kita tidak ada gunanya dong? Lagipula di aikido tidak ada pertandingan atau apapun yang dapat dijadikan tolok ukur prestasi atau keberhasilan latihan kita? Jadi untuk apa kita menghabiskan tenaga, biaya, & waktu untuk sesuatu yang belum tentu kita gunakan dalam hidup kita?â€.
Memang pertanyaan reverse psychology macam ini cukup efektif menimbulkan respon yang beragam di mimik muka murid yang mendengarkan. Bahkan jika kurang menyimak bisa jadi responnya bengong karena bingung & kaget kok guru aikido malah membuat statement belajar aikido ada kemungkinan tidak berguna sama sekali?. Namun dari yang mendengarkan waktu itu, termasuk saya responnya adalah menunduk, sambil senyum-senyum, “Iya sih, tapi…walaupun niat awal memang untuk belajar beladiri namun saya merasa bersyukur bahwa kemudian setelah mendalaminya ternyata aikido memberikan saya banyak pengetahuan, pemahaman, keahlian serta kesempatan berlatih & belajar tentang banyak hal yang jauh lebih luas tentang kehidupan dibandingkan sekedar beladiri†pikir saya dalam hati.
Sekali lagi, seperti sudah mengerti dan memberikan pembenaran terhadap jawaban hati kami, Hakim Sensei melanjutkan, “Kita hidup di zaman yang relatif damai sehingga kebanyakan dari kita tidak setiap hari, jarang, bahkan mungkin hampir tidak pernah dihadapkan pada situasi hidup dan mati dimana kita harus menggunakan ilmu beladiri dan tentunya tidak satupun dari kita yang berharap untuk dihadapkan pada situasi seperti itu. Meskipun begitu, setiap hari kita semua menghadapi apa yang disebut kehidupan, dengan segala problema, kesulitan, keresahan dan sebagainya. Kenapa tidak kita latih dan gunakan aikido kita untuk menjalani hidup?â€.
O Sensei selalu mengingatkan kita melalui puisi-puisi & perkataan beliau bahwa aikido bukanlah beladiri dalam arti teknik mengalahkan orang lain, melainkan sebuah jalan untuk hidup harmonis dengan segala sesuatu. Salah satu perkataan beliau saya kutip “Aikido is the way to harmonize heaven, earth & humankind†translasi bebas dari perkataan ini kira-kira aikido adalah jalan mengharmoniskan diri kita dengan sesama ciptaan dan berujung pada penyerahan diri total kepada Sang Maha Pencipta. Jika kita dapat melihat aplikasi dari aikido seluas seperti yang dinyatakan oleh O Sensei ini tentu membuat kita bersyukur bahwa kita berkesempatan mempelajari sesuatu yang tidak hanya berguna di setiap saat dalam kehidupan kita namun juga bermanfaat sebagai bekal spiritual kita untuk lebih memahami tujuan akhir hidup kita yaitu kembali kepada-NYA.
Popularity: 93% [?]

“The secret of Aikido is not in how you move your feet, it is how you move your mind. I’m not teaching you martial techniques, I’m teaching you nonviolence.
———–
Kata O’Sensei, dia tidak ngajarin beladiri, dia ngajarin non-violence. Dia juga bilang bahwa dia nggak ngajarin cara menggerakkan kaki tapi menggerakkan pikiran.
Non-violence dan moving our mind adalah hal yang dibutuhkan di kehidupan sehari-hari di dunia yang penuh dengan konflik, baik konflik pikiran, verbal maupun fisikal.
Konflik fisikal adalah manifestasi akhir dari sebuah konflik yang dimulai di tataran mind, di tataran pikiran.
Disambung dengan masakatsu agatsu atau true victory is vistory over self maka menurut saya, O’sensei mengajarkan kita untuk menyudahi konflik yang ada di diri kita sendiri, menggerakkan pikiran kita untuk keluar dari konflik.
Konflik terjadi di dunia dualitas, dunia yang kita huni ini, kehidupan duniawi sehari-hari yang kita hadapi.
Konflik terjadi ketika kita punya pendapat, punya pikiran sendiri, punya definisi-definisi sendiri, punya deskripsi2 sendiri tentang segala sesuatu. Entah itu definisi/deskripsi spiritual maupun definisi-definisi benar-salah lainnya.
Masing-masing orang mendeskripsikan/merumuskan salah-benar versinya masing-masing, thus konflik terjadi.
Bukan berarti kita tidak punya pendapat benar-salah, karena yang salah ya mesti kita bilang salah, cuma bedanya, kali ini kita tidak lagi melihat salah sebagai salah tapi sebagai absennya kebenaran, alias bisa dibilang : “tidak ada yang salah”, yang ada adalah tidak adanya kebenaran.
Atas adanya kondisi/situasi tidak adanya kebenaran maka kita tidak melawan kondisi itu, melawan adalah konflik, melawan bukan lagi non-violence.
Kita tidak melawan perampok, tidak melawan koruptor, tidak melawan uke. There’s no enemy of love kata O’sensei.
Atas adanya ketidak-adaan kebenaran maka kita embrace. Atas adanya disharmony kita “membungkus sekaligus masuk” dengan harmony. Atas adanya konflik, kita membungkusnya, embrace it with Ai, kita embrace dengan love (kokoro).
Non-violence, move our mind, masakatsu agatsu.. sepertinya tiga hal tapi setelah dimasuki lebih jauh ternyata ya sama aja…
Apa tujuan belajar Aikido ? to put an end/mengakhiri konflik, konflik yang sebenarnya adanya di diri kita sendiri, oleh karena itu masakatsu agatsu.
Belajar Aikido adalah untuk meniadakan diri, karena sumber konflik adalah diri sendiri. Meniadakan diri adalah spiritualisme. Meniadakan diri adalah bahasa lain dari berserah diri atau mengasihi Allah dengan segenap diri atau anatta.
Thus, belajar Aikido adalah menempuh jalan spiritual.
Cheers,
Rio
Hai, menarik ya. 10 menit lalu baru aja bincang2 tentang aikido dengan teman. Stuju dengan non violence. Setuju dengan embrace the conflict, plus the true victory is victory over self. Yup, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Tidak ada penyebab di luar diri melainkan hanya diri sendiri. Karena saya tidak bisa selalu mengontrol apa yang ada dalam diri, maka saya kontrol diri sendiri karena cuma itu yang (paling) saya bisa. Thus, dengan begitu saya belajar mengambil tanggung jawab atas apapun yang terjadi di dalam dan sekitar saya. Akhirnya, saya menghargai diri saya sebagai subyek dan bukan obyek:).
Yah, sederhananya seperti dialog dalam film Gladiator “kegagalan engkau sebagai anak, lebih sebagai kegagalanku sebagai ayah.”
Meski aikido atau apapun martial art dll tidak bisa memberi jawaban atas semua persoalan hidup, tapi pada akhirnya saya harus memilih. Saya tertarik belajar aikido…yang embrace the conflict not hit your enemy. Di mana saya bisa belajar aikido? Please mail me. Thanks.
jadi pengen AIKIDO. . .nih
Hmm,.. ikut nimbrung sedikit,.. nadanya sama2 aja seperti yang lainnya. sama memberi komen fasih beraikido hehehe..
selama ikut berlatih, sejujurnya, saya ingin terampil bela diri, tapi tidak menemukan yang sesuai karena umumnya bela diri memang mengasah katajaman tubuh, tapi lebih jauh lagi tidak membuat saya super jago!.. karena selalu ada yang lebih dari yang lebih!,.. di samping memang saya juga lebih menyukai hal yang bersifat spiritual dan khususnya keagamaan,.. aikido menawarkan 2 unsur yang cukup dalam.
simpel saja,.. awal saya belajar, saya mengenal teknik serangan “kata te” (memegang bagian tangan nage). Pada awal belajar lewat club di kantor dulu, saya di beri pengetahuan bahwa teknik aikido yang mempergunakan tenaga lawan di gambarkan dalam bentuk teknik ini, itu dan lain sebagainya, yang justru dalam hati saya berkata kalau teknik ini semua juga ada di bela diri lain dan bahkan lebih komplit. Lalu apa yang spesial dari teknik aikido yang di tunjukkan. namun umumnya saat latihan pertanyaan saya selalu di jawab dengan “teknik aikido di lakukan dengan rileks dan “ki” yg dipancarkan. dan begitu setiap saat tergelitik untuk bertanya lebih kurang jawaban yang kurang efektif dan cenderung kurang mendukung kembali saya dengar. dan begitu terus selanjutnya hingga saya bosan.
tapi kembali masa berikutnya saya ingin mengkaji kembali kelebihan Aikido ini, karena saya optimis bahwa di balik apa yang saya lihat pasti ada sesuatu yang bisa menjelaskan bahwa aikido memang unggul (maklum saat itu saya masih jauh lebih pemula di banding sekarang yang masih pemula) akhirnya saya berlatih kembali di tempat lain. Alhamdulillah saya bertemu dengan sensei dan peserta latihan yang terbiasa mengkaji latihan dengan terbuka dan ramah tamah yang baik. di sana saya temukan inti permasalahan (hanya dari perkara) menggerakkan tubuh dengan teknik aikido. dari sana saya mengenal hal yang justru sederhana saja dan sudah lama kita lupakan ketika kita masih kecil dulu, dari mulai semangat, fokus, rileks dan lain sebagainya terutama totalitas kejujuran kita dalam hidup.. jelas Allah sudah memperingatkan kita lewat agamanya!.. bahwa secara fitrah manusia (nature) memiliki dua kondisi yang saling menyeimbangkan..
so,.. tentang kajian latihan sudah banyak yang mengerti,.. namun sebatas saling memberi kabar tentang kebaikan, sejauh apa ilmu pengetahuan yang logik (aikido) ini kita kaji, sudah berlatihkah kita dengan Jujur dan bersyukur,sejauh apa kita berbagi dan saling membantu dalam latihan, sudah lurus kan niat kita atau masih cukup sering berubah-ubah, sudah gigihkah dalam latihan, dan pada akhirnya apakah kita sudah mengukur diri pada batas mana kita sekarang melangkah!
trimakasih
GW PENGEN ELAJAR AIKIDO NE
tp belajar aikidonye mahal
wahh…memang aikido mempunyai nilai-nilai filosofis yang sangat indah. namun, apakah komunitas aikido ini telah merasa melakukan hal yang berguna untuk masyarakat setelah belajar aikido? misalnya apa?
tolong di jawab ya…hehehe
mengendalikan pikiran kita, mengendalikan kata-kata kita, mengendalikan tindakan kita agar tidak merusak alam semesta dan tetap menjaga hubungan keharmonisan dengan alam dan sesama, adalah suatu suatu tindakan nyata yang berguna untuk masyarakat.
Bayangkan kalau 50% dari seluruh penduduk melakukan hal seperti itu, dunia tempat tinggal kita akan menjadi dunia tempat tinggal yang mehyenangkan, bahagia, dan selaras baik antar sesama manusia, dan dengan alam.
Masalah yang kita hadapi sekarang ini memang masalah pengendalian pikiran….karena tidak setiap orang mengendalikan pikirannya (napsu duniawi sering kali lebih memegang peranan dalam mengendalikan pikiran kita, sehingga muncul kata-kata dan tidakan yang tidak selaras).
Belajar aikido adalah belajar mengendalikan pikiran, belajar mengosongkan diri dan menyatukan diri kita dengan alam semesta.
Kita diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta ini.
Kita adalah bagian dari alam,
Sebenarnya, pada awalnya hubungan antara manusia dengan alam selaras, tetapi dengan berbagai perkembangan yang diciptakan oleh manusia, keselarasan itu semakin tipis (berkurang).
Dengan belajar aikido kita kembali menyelaraskan diri dengan alam.
Keselarasan dengan alam bisa didekati dengan mengosongkan diri, mengendalikan diri, yang akan menghasilkan kerendahan hati.
Saya sendiri belajar aikido untuk menemukan hal-hal itu.
Kekuatan yang kita bangun dalam diri kita adalah kekuatan fisik dan ketahanan stamina untuk menjalani kehidupan agar menjadi lebih baik, kekuatan untuk mencintai baik kawan maupun lawan, kekuatan untuk memperhatikan yang tertindas dan terabaikan…tindakan-tidakan tersebut memerlukan kekuatan yang dibangun dengan keselarasan dengan alam semesta
Peace…..
Belajar ilmu beladiri, seperti belajar matematika di universitas, kadang-kadang sering tergoda rasa ingin menonjolkan universitas mana yang paling baik.
Padahal intinya, kita belajar matematika.
sebenarnya belajar matematika bisa dimana saja, bahkan di universitas yang mungkin tidak terkenal sama sekali.
Hasil belajar kita sangat tergantung dari diri kita sendiri : kesungguhan kita belajar, ketekunan kita belajar, semangat kita belajar, dan disiplin kita belajar.
Adalah lebih baik bagi kita untuk tidak tergoda untuk membanding-bandingkankan universitas mana yang lebih baik atau juga murid mana yang lebih menguasai matematika…
Masuklah ke dalam diri kita sendiri, tanyakan pada diri kita secara jujur apakah kita sudah belajar dengan sungguh-sungguh, apakah kita sudah belajar dengan tekun, …semuanya hasilnya adalah untuk “keselarasan”.
Hasil belajar kita bukan untuk dipertandingkan, tetapi untuk berkolaborasi dengan sesama dan alam menjadikan dunia tempat tinggal kita menjadi dunia yang lebih baik dan selaras.
Kalau memang anda tertarik dengan aikido dan mau belajar….tekunilah pilihan itu dan belajarlah dengan kesungguhan dan ketekunan, apapun hasilnya anda yang akan merasakannya dalam hati anda..
peace…
aikido course lewat youtube dgn guru imanul hakim sensei, sangat bermangfaat buat gw
aikido susah dipikirkan kepala jadi serasa melayang mendingan dirasakan aja sendiri. aku ikut aikido pusing mikirin macem – macem, sekarang nyadar ternyata jangan terlalu dipikirin dirasain aja tapi masih sering kluar emosinya nih jadi gak tenang waktu latian mungkin kalo yang udah bisa bilang aku kurang rileks gitu ya.
belajar seni bela diri Aikido berbeda dengan mempelajari ilmu bela diri lainnya. Karena di Aikido hampir seluruhnya berfokus kepada tehnik, dimana 90% melibatkan kerja dari pada otak/ pikiran. Gerakan fisik hanyalah manifestasi dari kerja keras otak untuk menghasilkan suatu tehnik (baik bagi Uke maupun Nage). Dimana hasil dari semuanya adalah timbulnya keselarasan (harmony) baik otak dan fisik, baik bagi Uke maupun bagi Nage..