June 11, 2007
Untuk Apa Kita Belajar Aikido?
Sekilas pertanyaan ini sepertinya hanya layak dilontarkan pada orang-orang yang belum atau baru saja berlatih & belajar tentang aikido. Tapi dalam satu kesempatan bercengkrama setelah latihan dengan Hakim Sensei beberapa waktu lalu, pertanyaan ini beliau lontarkan kepada semua murid yang pada waktu itu hadir, baik junior maupun senior.
Dalam hati saya menjawab, jujur saja, niat pertama saya belajar aikido ya untuk belajar beladiri. Lalu tanpa harus mendapat respon verbal dari murid-muridnya, seperti mengerti apa yang kami pikirkan, Hakim Sensei mengajak kami merenung lebih dalam dengan melontarkan pertanyaan berikutnya, “Kalo seumur hidup kita tidak sampai dihadapkan pada keadaan harus membela diri seperti berperang,bertempur atau bahkan berkelahi, berarti latihan kita tidak ada gunanya dong? Lagipula di aikido tidak ada pertandingan atau apapun yang dapat dijadikan tolok ukur prestasi atau keberhasilan latihan kita? Jadi untuk apa kita menghabiskan tenaga, biaya, & waktu untuk sesuatu yang belum tentu kita gunakan dalam hidup kita?”.
Memang pertanyaan reverse psychology macam ini cukup efektif menimbulkan respon yang beragam di mimik muka murid yang mendengarkan. Bahkan jika kurang menyimak bisa jadi responnya bengong karena bingung & kaget kok guru aikido malah membuat statement belajar aikido ada kemungkinan tidak berguna sama sekali?. Namun dari yang mendengarkan waktu itu, termasuk saya responnya adalah menunduk, sambil senyum-senyum, “Iya sih, tapi…walaupun niat awal memang untuk belajar beladiri namun saya merasa bersyukur bahwa kemudian setelah mendalaminya ternyata aikido memberikan saya banyak pengetahuan, pemahaman, keahlian serta kesempatan berlatih & belajar tentang banyak hal yang jauh lebih luas tentang kehidupan dibandingkan sekedar beladiri” pikir saya dalam hati.
Sekali lagi, seperti sudah mengerti dan memberikan pembenaran terhadap jawaban hati kami, Hakim Sensei melanjutkan, “Kita hidup di zaman yang relatif damai sehingga kebanyakan dari kita tidak setiap hari, jarang, bahkan mungkin hampir tidak pernah dihadapkan pada situasi hidup dan mati dimana kita harus menggunakan ilmu beladiri dan tentunya tidak satupun dari kita yang berharap untuk dihadapkan pada situasi seperti itu. Meskipun begitu, setiap hari kita semua menghadapi apa yang disebut kehidupan, dengan segala problema, kesulitan, keresahan dan sebagainya. Kenapa tidak kita latih dan gunakan aikido kita untuk menjalani hidup?”.
O Sensei selalu mengingatkan kita melalui puisi-puisi & perkataan beliau bahwa aikido bukanlah beladiri dalam arti teknik mengalahkan orang lain, melainkan sebuah jalan untuk hidup harmonis dengan segala sesuatu. Salah satu perkataan beliau saya kutip “Aikido is the way to harmonize heaven, earth & humankind” translasi bebas dari perkataan ini kira-kira aikido adalah jalan mengharmoniskan diri kita dengan sesama ciptaan dan berujung pada penyerahan diri total kepada Sang Maha Pencipta. Jika kita dapat melihat aplikasi dari aikido seluas seperti yang dinyatakan oleh O Sensei ini tentu membuat kita bersyukur bahwa kita berkesempatan mempelajari sesuatu yang tidak hanya berguna di setiap saat dalam kehidupan kita namun juga bermanfaat sebagai bekal spiritual kita untuk lebih memahami tujuan akhir hidup kita yaitu kembali kepada-NYA.
Popularity: 100% [?]
“The secret of Aikido is not in how you move your feet, it is how you move your mind. I’m not teaching you martial techniques, I’m teaching you nonviolence.
———–
Kata O’Sensei, dia tidak ngajarin beladiri, dia ngajarin non-violence. Dia juga bilang bahwa dia nggak ngajarin cara menggerakkan kaki tapi menggerakkan pikiran.
Non-violence dan moving our mind adalah hal yang dibutuhkan di kehidupan sehari-hari di dunia yang penuh dengan konflik, baik konflik pikiran, verbal maupun fisikal.
Konflik fisikal adalah manifestasi akhir dari sebuah konflik yang dimulai di tataran mind, di tataran pikiran.
Disambung dengan masakatsu agatsu atau true victory is vistory over self maka menurut saya, O’sensei mengajarkan kita untuk menyudahi konflik yang ada di diri kita sendiri, menggerakkan pikiran kita untuk keluar dari konflik.
Konflik terjadi di dunia dualitas, dunia yang kita huni ini, kehidupan duniawi sehari-hari yang kita hadapi.
Konflik terjadi ketika kita punya pendapat, punya pikiran sendiri, punya definisi-definisi sendiri, punya deskripsi2 sendiri tentang segala sesuatu. Entah itu definisi/deskripsi spiritual maupun definisi-definisi benar-salah lainnya.
Masing-masing orang mendeskripsikan/merumuskan salah-benar versinya masing-masing, thus konflik terjadi.
Bukan berarti kita tidak punya pendapat benar-salah, karena yang salah ya mesti kita bilang salah, cuma bedanya, kali ini kita tidak lagi melihat salah sebagai salah tapi sebagai absennya kebenaran, alias bisa dibilang : “tidak ada yang salah”, yang ada adalah tidak adanya kebenaran.
Atas adanya kondisi/situasi tidak adanya kebenaran maka kita tidak melawan kondisi itu, melawan adalah konflik, melawan bukan lagi non-violence.
Kita tidak melawan perampok, tidak melawan koruptor, tidak melawan uke. There’s no enemy of love kata O’sensei.
Atas adanya ketidak-adaan kebenaran maka kita embrace. Atas adanya disharmony kita “membungkus sekaligus masuk” dengan harmony. Atas adanya konflik, kita membungkusnya, embrace it with Ai, kita embrace dengan love (kokoro).
Non-violence, move our mind, masakatsu agatsu.. sepertinya tiga hal tapi setelah dimasuki lebih jauh ternyata ya sama aja…
Apa tujuan belajar Aikido ? to put an end/mengakhiri konflik, konflik yang sebenarnya adanya di diri kita sendiri, oleh karena itu masakatsu agatsu.
Belajar Aikido adalah untuk meniadakan diri, karena sumber konflik adalah diri sendiri. Meniadakan diri adalah spiritualisme. Meniadakan diri adalah bahasa lain dari berserah diri atau mengasihi Allah dengan segenap diri atau anatta.
Thus, belajar Aikido adalah menempuh jalan spiritual.
Cheers,
Rio
Comment by Rio — October 22, 2008 @ 3:59 pm