Editorial mei’07

Kisah Kepompong & Kupu-kupu

Alkisah ada seorang anak yang tinggal disebuah perkebunan bunga yang banyak sekali terdapat kupu-kupu. Anak ini sering melihat kupu-kupu yang keluar dari kepompong dan terbang dengan anggun menggunakan kedua sayap indahnya. Anak ini juga memperhatikan bahwa sebelum kupu-kupu itu dapat keluar dan terbang, mereka harus berjuang siang dan malam untuk merobek dinding kepompong, bahkan 2 hingga 3 hari, kupu-kupu itu seperti terkurung dan tersiksa, bergulat sana-sini dengan susah payah didalam kepompong berusaha untuk keluar. Anak ini kemudian menjadi iba, “bagaimana jika kutolong saja mereka agar tidak perlu bersusah payah seperti itu?” pikirnya. Lalu setiap ada calon kupu-kupu yang hendak keluar, anak ini kemudian merobek kepompong tersebut sehingga kupu-kupu didalamnya dapat keluar dengan mudahnya. Namun apa yang kemudian terjadi? Kupu-kupu yang dibantu keluar oleh anak ini,tidak kemudian terbang layaknya kupu-kupu yang lain, melainkan jatuh ketanah dan hanya merayap-rayap kemudian akhirnya mati menjadi makanan semut.
Memang secara sekilas terlihat, yang terjadi pada kupu-kupu itu ketika ia berusaha keluar dari kepompong adalah sesuatu yang berat dan menyengsarakan. Namun yang anak ini tidak ketahui adalah dibalik proses bersusah payah merobek kepompong, secara bersamaan terjadi pula proses penguatan sayap-sayap kupu-kupu itu hasil dari usahanya untuk merobek kepompong tersebut. Sehingga pada saat anak itu membantu merobek kepompong agar lebih mudah keluar, maka proses penguatan sayap itu tidak terjadi, sehingga sayap kupu-kupu yang keluar menjadi lemah dan tidak dapat terbang.
Ini yang disebut dengan hikmah, kebaikan dibalik segala sesuatu. Seburuk atau seberat apapun hal yang harus kita hadapi kita harus yakin bahwa ini adalah kehendak Yang Maha Pengasih & Penyayang. Aneh rasanya jika Yang Maha Pengasih & Penyayang menghendaki kesengsaraan bagi hambaNYA. Kemungkinan besar kita-lah yang kurang merenung dan mengkaji, atau terlalu mudah menyerah hingga tidak dapat memetik hikmah dari kesulitan yang kita hadapi.
Hakim Sensei baru-baru ini mengingatkan saya tentang Budo (Jalan Ksatria) sebagai jalan yang penuh darah & airmata, artinya penuh pengorbanan dan keharuan, bagaimana seseorang dapat sanggup menjalani hidup seperti itu? Lalu saya kembali ingat salah satu dari 7 pilar Budo yaitu Pengetahuan & Hikmah (knowledge & wisdom). Seorang Bushi (ksatria) tabah hidup dijalan yang begitu membutuhkan pengorbanan dan penuh keharuan karena bermodalkan pengetahuan dan senantiasa berusaha memetik hikmah.

Popularity: 88% [?]

About the Author