Seminar Aikido Yoshinobu Takeda Shihan

March 31, 2007

Dunia Nyata dan Lingkungan Dojo.

Sewaktu kuliah (kalau tidak salah antara smester 3 atau 4), seorang senior menghampiri saya. Ia bilang bahwa dia tidak suka dengan prilaku saya yang menurut dia “petantang-petenteng” kayak jagoan.

Kalau kata temen-teman saya dia emang lagi mau cari masalah antar organisasi (kebetulan saya ikut ormawa waktu kuliah), dan menyuruh saya untuk membiarkannya. Tapi senior saya ini masih tetap mencari-cari kesalahan saya sampai akhirnya dia menantang saya untuk berkelahi 1 lawan 1 diluar kampus, tanpa ada embel-embel “senior” dan “junior”. Karena saya juga ikut panas, akhirnya saya menerima tantangannya (prinsip saya dulu “lo jual, gw beli”). Selagi jalan menuju tempat duel, saya diberitahu oleh teman saya kalau dia atlet beladiri yang tingkat sabuknya sudah tinggi. Waktu sampai ditempat yang dituju dia langsung memasang kuda-kuda fight, dari kuda-kudanya saya sadar kalau dia memang atlet beladiri sedangkan saya mungkin sudah 4 tahun tidak berlatih beladiri.

Serangan menendang dia lakukan kearah kepala saya, langsung saya tangkap kakinya dan saya menendang alat vitalnya. Selagi sedang kesakitan, saya langsung menghajar kepalanya dengan botol bekas yang ada didekat tempat itu dan terus menghajarnya sampai dia mohon ampun kepada saya. Dalam keadaan yang babak belur teman-teman senior saya itu sedikit menggerutu, “Curang kok nendang alat vital, trus mukul pake botol lagi..”. Karena saya yang masih panas langsung saya menyahuti mereka, “Lho dia sendiri ikut beladiri sedangkan gw sekarang gak ikut beladiri apa-apa, lagian ini kan Street Fight bukan pertandingan resmi..!! kalau emang masih gak suka gw yang menang, hayo maju satu-satu terserah mo pake apa..!!”

Kejadian itu memang sangat tidak saya banggakan justru setelah saya ikut Aikido, saya menyesali sikap saya dulu yang panasan dan emosian. Kalau saja saya membiarkannya dan berbicara baik-baik, tentu tidak akan terjadi hal seperti itu.

Yang mau saya bicarakan disini bukan penyesalan saya, tapi perkataan teman senior saya yang mengatakan bahwa saya telah berbuat curang pada perkelahian tersebut.

Apa benar perbuatan tersebut dinyatakan perbuatan yang curang dan menyalahi etika dalam perkelahian? Kalau saya bilang sih tidak, mungkin di kompetisi beladiri yang resmi perbuatan tersebut bisa dikataka curang dan peserta yang melakukannya bisa dikurangi nilainya bahkan di diskualifikasi. Tapi ini dunia nyata, bukan suatu pertandingan kompetisi. Dalam dunia nyata saya berpendapat bahwa ini termasuk salah satu cara bela diri.

Apa mungkin anda mengatakan curang kepada seseorang yang sedang menodong anda karena dia menggunakan pisau sedangkan anda tangan kosong? Atau ketika ada seorang preman yang ingin membacok anda dengan golok, anda memohon waktu sebentar untuk mengambil katana dirumah supaya perkelahian menjadi adil (Preman tsb pake golok dan anda pakai katana). Itu suatu hal yang tidak lazim dilakukan dalam situasi tsb.

Dalam dunia nyata ini, begitu kita berada dalam situasi-situasi seperti diatas berarti kita sudah menaruh keselamatan hidup kita pada kemampuan diri kita dalam membeladiri. Kalau kemampuan beladiri kita tinggi, maka kemungkinan kita selamat juga tinggi begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu banyak bermunculan perguruan seni beladiri, yang mengajarkan kita bagaimana dapat bertahan hidup dalam menghadapi situasi-situasi seperti itu.

Umumnya tujuan kita belajar beladiri agar dapat selamat apabila menghadapi situasi-situasi berbahaya yang tidak kita inginkan. Lalu bagaimana bagi orang yang belajar beladiri dengan tujuan menjadi kuat dan tidak terkalahkan? Oleh karena itu diciptakanlah kompetisi beladiri bagi mereka yang ingin menguji seberapa hebat atau seberapa tinggi ilmu beladiri yang mereka miliki. Faktor inilah yang terkadang membuat lupa mana perkelahian yang memang kompetisi dan mana perkelahian yang benar-benar nyata.

Di dalam Aikido saya belajar bagaimana cara beladiri, bagaimana caranya bila berada dalam situasi-situasi penodongan atau perkelahian yang TIDAK diinginkan, dapat keluar dalam situasi tersebut dengan selamat. Dalam berlatih Sensei menyuruh untuk berlatih dengan sungguh-sungguh, bila menjadi Uke harus sungguh-sungguh dalam menyerang. Dan bila menjadi Nage, juga harus sungguh-sungguh dalam melakukan teknik. Jangan karena kita sudah mengenal Uke atau Nage, lalu kita berlatih dengan santai tanpa kesungguhan. Karena di dalam dojo kita mungkin mengenal satu sama lain, tapi kalau diluar dojo tidak mungkin seseorang yang berniat jahat kepada kita menyerang dengan santai. Pastilah menyerang dengan niat menyakiti kita dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Itulah perbedaannya antara dunia nyata dan lingkungan di Dojo, mungkin mulai sekarang kita harus berlatih dengan sungguh-sungguh dan belajar untuk menjadi Uke yang baik. Yang menurut Sensei untuk menjadi Uke yang baik “Good Attacker and Good Reciever…”.

BKM

Popularity: 91% [?]

Keselamatan seseorang terletak pada bagaimana cara dia menjaga lidahnya. semakin kasar apa yang kita ucapkan maka lawan bicara akan lebih kasar lagi dari apa yang kita ucapkan, semakin lembut yang kita ucapkan maka lawan bicara akan lebih lembut lagi dari apa yang kita ucapkan. Karena konsep KONFLIK adalah lakukan yang sama dan lebih, sedangkan konsep KOOPERATIF adalah lakukan pekerjaan sesuai dengan keahliannya masing-masing. Dalam hal ini, Aikido lebih cenderung pada konsep kooperatif, di mana uke terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan emosi, sementara nage hanya menggunakan tenaga seperlunya dan tenang. Ketenangan (sabar) dapat dilakukan hanya dengan perhitungan yang matang (shalat), karena itu jadikanlah sabar dan shalat sebagai alat bantu dalam menghadapi apapun.

Comment by sumarman — April 23, 2008 @ 2:01 am

awalnya gw ikut aikido cm bwt olahraga aj, sblmny gw jg pnh dger aikido dan soal filosofiny yg beda dgn bela diri laen yakni memanfaatkan tenaga lawan, artinya aikido itu g nyari mslh. stlh bnr2 terjun k dlm aikido tnyt bkn hy utk bela diri, tpi jg mlatih mentalitas pribadi spt tdk egois, sombong, sok tahu. aikido melatih kita utk menahan emosi..

Comment by raini munti — May 7, 2008 @ 12:01 pm

Harmoniskan dengan Komentar

   

Aikido Book Refference

 

Souvenirs