Tips Berkendara Ala Aikido

Kita hidup di jaman yang relatif damai, kebanyakan dari kita tidak mengisi kesehariannya dengan bertempur atau berperang. Tapi bukan berarti hidup ini lepas dari konflik. Konflik dalam kehidupan masa damai seperti ini banyak muncul dalam bentuk-bentuk yang lebih halus namun tetap merupakan sebuah konflik, yang bila tidak diselesaikan dengan baik akan berakibat buruk secara psikis maupun fisik.

Stress, agresivitas yang senantiasa tinggi, mudah terpicu, adalah ciri-ciri manusia yang berada dalam keadaan ber-konflik baik dengan manusia lain atau diri sendiri. Dan di jalan-jalan umum kota besar adalah tempat yang paling mudah menemukan pribadi-pribadi seperti ini. Aturan yang tidak tegak, perasaan bahwa sebagian besar pengendara  lain bukanlah orang yang kita kenal, ditambah lagi kaca film mobil yang gelap menambah kecenderungan untuk berbuat anti-sosial dan memicu konflik di jalan-jalan umum menjadi sangat tinggi.

Bagi kita yang menekuni aikido sebagai sebuah jalan hidup tentunya dapat bersyukur karena kita dapat menemukan jalan keluar dari keadaan menyedihkan yang sering kita alami pada saat kita berkendara di jalan asal saja kita mau belajar memahami kemudian mempraktekkan esensi dari latihan aikido kita.

Berikut ini sekadar tips-tips berkendara yang didasari pemahaman tentang esensi aikido:

1.Jaga tanden/hara dan rileks: baik di dalam maupun diluar dojo, dengan senantiasa menjaga tanden dan keadaan tubuh dan pikiran yang rileks akan membuat kita lebih dapat fokus terhadap apa yang sedang kita lakukan. Tubuh yang rileks juga membuat gerakan yang kita lakukan dapat lebih terkontrol dan tidak terlambat atau bereaksi berlebihan pada saat harus beradaptasi pada keadaan jalan yang tidak dapat diprediksi (contohnya saat kendaraan lain memotong dari kiri secara tiba-tiba). Disisi lain menjaga tanden juga berfungsi untuk mengontrol emosi sehingga bila kejadian yang tidak diinginkan terjadi, kita dapat bereaksi dengan wajar dan tidak berlebihan.

2. Pancarkan Ki Positif: memancarkan Ki akan membuat kewaspadaan kita meningkat jauh dibandingkan kita berkendara dengan pikiran yang tidak terpancar. Salah satu faktor penyebab kecelakaan adalah pengendara melakukan kegiatan lain selain mengemudikan kendaraannya, seperti menggunakan handphone, ngobrol/berdebat dengan penumpang didalam mobil, dan semacamnya. Untuk kita yang mempelajari Ki tentu dapat menilai bahwa pada saat pikiran seseorang terfokus pada sesuatu yang dekat dengan dirinya maka Ki-nya pun tidak terpancar jauh sehingga kesadaran akan keadaan lingkungannya akan berkurang.

Dan fungsi dari memancarkan Ki yang positif adalah untuk menjaga ketenangan yang tentunya akan mempengaruhi pilihan cara bereaksi kita di jalan. Contohnya, jika sejak awal kita jaga pancaran Ki yang positif maka misalnya saja kemudian kita sadar mobil dibelakang kita hendak mendahului dengan cara kurang sopan dengan membunyikan klakson berkali-kali atau menyalakan lampu jauhnya terus menerus, kita tidak terpicu untuk kemudian agresif dan malah mempercepat laju kendaraan kita atau menghalangi jalannya, tetapi dapat dengan tenang memberikan jalan dan melanjutkan perjalanan anda dengan nyaman tanpa harus berkesal hati dikarenakan ulah pengemudi lain.

Memancarkan Ki dapat juga bermanfaat untuk membaca gelagat apa yang akan terjadi sebelum hal itu terjadi dari perangai dan perilaku pengemudi-pengemudi di sekitar anda.

 

3. Awase: yaitu menyatukan diri kita dengan orang lain sehingga kita dapat benar-benar mengetahui apa yang dirasakan dan diinginkan orang lain. Dalam berkendara, awase berguna agar kita dapat bersikap menerima keadaan sekitar kita, contohnya bila kendaraan umum didepan kita tiba-tiba berhenti dalam posisi yang menghalangi jalan kita untuk mencari/menurunkan penumpang kita daripada bersikap kesal dan membunyikan klakson berkali-kali yang hampir selalu tidak digubris dan pada akhirnya hanya akan membuat kita bertambah kesal, lebih baik anda bersikap tenang dan belajar merasakan kesusahan yang dirasakan si sopir kendaraan umum yang mengandalkan nafkah dirinya dan keluarganya dari penumpang yang naik & turun dari mobilnya dan pada saat yang sama harus menghadapi kekesalan dan caci-maki pengendara mobil pribadi yang tidak bisa mengerti keadaannya.

Contoh lain misalnya, jika saat terjebak kemacetan anda berpikir “waduh, waktu SAYA terbuang!” “SAYA harus keluar dari kemacetan ini” perhatikanlah perilaku anda selanjutnya, anda akan mulai membunyikan klakson untuk meminta jalan, memerintahkan mobil lain untuk tidak memotong jalan anda, atau sekedar melampiaskan frustasi dan pada saat yang sama anda juga mulai serobot sana-sini mencari jalan keluar. Agresivitas anda akan dirasakan oleh pengemudi lain dan pada gilirannya mereka punya kesempatan melampiaskan agresivitasnya pada orang lain maka mereka akan melakukannya. Seperti yang kita sama-sama ketahui, perilaku seperti ini hanya akan membuat jalan semakin kacau dan bila semua orang yang terjebak kemacetan di tempat itu berpikiran dan bersikap sama-sama mementingkan diri sendiri maka deadlock akan terjadi.

Mulai lah dengan awase, mulai lah dengan merasakan perasaan orang yang bersama kita terjebak macet, anda lelah, mereka juga, anda diburu waktu, begitu juga mereka, anda tidak suka berada dalam kemacetan, siapa yang suka?

 Kemudian perhatikan bagaimana perilaku kita dapat berubah 180 derajat. Awalnya, hati kita akan berubah, kita menjadi lebih tenang, dan tidak lagi berada dalam kekesalan dan kemacetan pada waktu yang sama. Tokh, kenyataannya kemacetan tidak berubah tergantung mood anda bukan?. Lalu berpikirlah sebagai satu kesatuan, daripada berpikir SAYA harus keluar dari kemacetan ini, maka berpikirlah KITA semua harus bisa keluar dari kemacetan ini. Anda tidak lagi berusaha menghalangi orang yang ingin masuk ke jalur anda dan jika bisa, berikan senyuman tulus bahwa anda tidak keberatan jika memang pengemudi lain dapat lebih dulu keluar dari kemacetan ini. ketulusan yang anda berikan ini akan berpengaruh pada pengemudi lain yang pada nantinya akan merubah perilakunya pula dan pada gilirannya ia akan dengan lapang dada memberikan jalan bagi orang lain dan bisa jadi orang lain tersebut adalah anda.

Selamat Berlatih!  

Popularity: 39% [?]

About the Author