Konsekuensi Jalan Ksatria: Tugas, Tanggung Jawab & Pengorbanan Diri.

 

Belum lama berselang, di sebuah obrolan setelah latihan, kembali saya diingatkan tentang apa yang menjadi esensi dari latihan aikido yang saya tekuni ini. Yaitu tentang Budo atau jalan ksatria. Didalam hidup, setiap manusia diberi wewenang oleh Yang Maha Kuasa untuk memilih jalan hidupnya. Pada saat seseorang memutuskan untuk hidup di jalan tertentu, maka sebaiknya orang tersebut sudah berpikir matang-matang tentang apa konsekuensi dari menjalani hidup di jalan tersebut. Jika kemudian konsekuensi-konsekuensi jalan hidup ini tidak sanggup diterima, maka kemungkinan besar jalan tersebut akan dirasakan teramat berat dan pada akhirnya menyerah atau mencari jalan hidup yang lain.Contohnya saja seseorang yang memutuskan untuk menjalani hidupnya sebagai selebriti/public figure dengan segala kemewahan dan kehidupan glamour yang dapat diraih melalui jalan hidup sebagai selebriti namun disisi lain seorang seleb harus sanggup menanggung konsekuensi seperti kehilangan privasi kehidupan pribadi, keharusan memakai topeng dalam kehidupannya agar tetap mendapat simpati publik, dan lain-lain. Dan tidak sedikit kasus selebriti yang tidak sanggup menanggung beban konsekuensi hidup sebagai seleb dan akhirnya kehidupannya hancur bahkan bunuh diri, atau meninggalkan dunia gemerlap tersebut untuk kemudian hidup sebagai orang biasa.

O Sensei mengatakan Aikido adalah Budo. Aikido adalah jalan hidup seorang ksatria. Lalu apa konsekuensi jika menjalani hidup sebagai seorang ksatria?. Seorang ksatria hidup untuk menjalankan tugasnya, menunaikan tanggung jawabnya, dan jika diperlukan, bersedia mengorbankan dirinya untuk tujuan menunaikan tugas dan tanggung jawab yang diamanatkan kepadanya. Dari esensi jalan hidup ksatria diatas sudah dapat dibayangkan bahwa jalan ksatria (Budo) ini bukanlah jalan yang mudah ditempuh. Budo adalah sebuah jalan pengabdian penuh terhadap nilai-nilai yang lebih berharga bahkan dari kehidupan seseorang yang menjalani jalan ksatria itu sendiri.

Lalu apa imbalannya? Ini adalah pertanyaan yang wajar terlontar pada saat seseorang harus menghadapi suatu konsekuensi apalagi yang sifatnya pengorbanan. Di dunia yang modern dan cenderung materialistis ini memang menjadi suatu kebiasaan untuk kemudian menilai segala sesuatu dari satuan materi dalam hal ini yang paling umum adalah uang. Jika dilihat dari sisi ini, tawaran yang diberikan Budo dapat dikatakan sangat tidak menarik. Sederhana saja, berapa anda bersedia dibayar jika yang diminta adalah nyawa anda?.

Oleh karena itu, untuk dapat memahami tentang Budo mari kaji kembali tujuan utama dari jalan ksatria. Budo adalah jalan menemukan kebenaran sejati. Kebenaran sejati hanya datang dari Yang Maha Benar. Yang Maha Benar dijagat raya ini hanya satu yaitu Tuhan kita semua. Jadi imbalan dalam budo tidak lebih dari ketentraman hati yang muncul dari keyakinan bahwa kita hidup di jalan kebenaran, dijalan yang direstui oleh Tuhan Yang Maha Kuasa Pemilik Seluruh Alam, hanya itu. Dan memang untuk memahami hal ini dibutuhkan kesanggupan untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan terhadap hal yang bersifat semu dan sementara dengan kata lain, duniawi.

Tentunya maksud pernyataan diatas bukan berarti kita sebagai manusia tidak perlu memperdulikan kesejahteraan duniawi, jalan ksatria mengajarkan kita melepaskan diri dari keterikatan dengan hal-hal duniawi sehingga kita dapat lebih teguh memperjuangkan nilai-nilai yang lebih tinggi didalam hidup kita, yaitu tugas yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai manusia, tanggung jawab yang diembankan oleh Tuhan kepada kita sebagai ciptaan-NYA yang paling sempurna, dan untuk tugas dan tanggung jawab yang diembankan oleh NYA-lah, kita rela berkorban apapun. Karena kita tahu, bahwa segala sesuatu adalah milik-NYA. Dan kepada-NYA lah semua akan kembali.

                                                                                   

Popularity: 41% [?]

About the Author