Aikido (baca: bela diri) identik dengan Kekerasan?

Terkadang bila kita bicara tentang bela diri dengan masyarakat awam, bela diri sering di identikkan dengan penyelesaian konflik melalui kekerasan, dan hanya membawa akibat yang buruk. Opini tersebut telah melekat pada orang-orang yang belum terbuka hati dan pikirannya untuk menyelami lebih dalam akan makna bela diri (khususnya Aikido).

Mungkin saja opini itu terbentuk karena kita melihat aksi –aksi bela diri dalam film dan sinetron laga. Kita lihat sendiri pada era tahun 70-an hingga 80-an awal banyak film-film kungfu dan yang paling terkenal pada saat itu adalah Bruce Lee dengan sepatu khasnya yang berbahan kain beludru hitam dan bersol karet tipis.

Saya masih ingat ketika itu sepatu “Bruce Lee” dipakai ke sekolah, teriakan Bruce Lee yang melengking pun menjadi tren. Setelah Era Bruce Lee berakhir, muncullah era Karate Kid dan beberapa film Ninja. Banyak dojo Karate berkembang disekitar perumahan karena imbas film tersebut, dan muncul pula mainan anak-anak berupa senjata-senjata Ninja (Ninja To, shuriken, kama,dsb). Dulu pernah ada film yang dimainkan oleh seorang aktor yang juga menguasai bela diri Aikido, memang pada waktu film tersebut diputar barulah orang-orang mengenal apa itu Aikido dan orang mencari dojo Aikido untuk mempelajari Aikido agar dapat menjadi seperti sang aktor tersebut.

Bela diri yang disuguhkan kepada publik telah berhasil mencetak opini publik yang membuat perkembangan bela diri itu terpengaruh pada tren, padahal mereka tidak sadar bahwa itu hanyalah rekayasa studio dan memakai stuntman (pemain pengganti) untuk adegan-adegan yang berbahaya.

Persepsi masyarakat telah diarahkan oleh film-film aksi dan media yang mempertontonkan bela diri sebagai sisi keras dari pencapaian tujuan dan penyelesaian konflik.

Sebenarnya dalam bela diri Aikido kita ini, makna bela diri jauh lebih mendalam daripada itu dan berbeda dari apa yang di persepsikan oleh masyarakat awam. Aikido yang diajarkan oleh O’Sensei mengajak kita untuk menghargai hidup kita sebagai ciptaan Sang Khalik. Konflik bukanlah suatu tujuan yang kita inginkan dalam hidup, demikian pula dengan kondisi menang ataupun kalah sebagai hasil dari suatu konflik. Semua itu adalah pilihan kita yang menghadapinya serta menyikapinya dengan bijak.

Teknik-teknik yang dipelajari dalam Aikido itu merupakan teknik yang memang berbahaya dan fatal jika diterapkan dalam suatu konflik fisik, namun kembali lagi seperti yang disebutkan diatas bahwa konflik bukanlah suatu tujuan. Aikido tidak dipelajari untuk menciptakan konflik, namun menyikapi penyelesaian konflik dengan bijak.

Bagaimana kita menyikapi konflik dengan bijak? Seakan-akan mudah sekali diucapkan daripada dilakukan bukan? Memang benar sekali, sulit untuk melakukan hal itu namun bukanlah tidak mungkin untuk dipelajari. Semua pengetahuan di dalam Aikido membutuhkan proses waktu untuk dipahami sama seperti proses belajar kita di sekolah maupun proses tubuh kita dalam pertumbuhan.

Dengan memahami teknik dan fatalnya efek dari teknik-teknik tersebut, tidak luput juga kita harus mengetahui filosofi dalam Aikido yang sering disampaikan oleh pengajar Aikido. Tanpa filosofi, Aikido bukanlah Aikido dan hanya merupakan sekumpulan teknik belaka. Adalah tugas kita para praktisi Aikido untuk memberikan informasi yang benar tentang Aikido sebagai bela diri yang tidak mengajarkan kekerasan.

Tanpa mempelajari Aikido pun kita dapat saja melakukan kekerasan, karena itu Aikido bukanlah sebuah jalan kekerasan namun adalah merupakan jalan perdamaian dan kasih seperti yang dikatakan oleh O’Sensei tentang bela diri yang di ajarkan olehnya.

Semoga tulisan singkat ini dapat membuka hati dan pikiran saudara sekalian yang masih awam akan bela diri dan dapat menerima Aikido bukan sebagai bela diri yang identik dengan kekerasan.

Popularity: 37% [?]

About the Author