March 3, 2007
“Ai” Harmonisasi
Sebelum saya menekuni Aikido, konsep beladiri bagi saya adalah cara bagaimana orang yang lemah dapat menang menghadapi orang yang lebih kuat. Dalam prakteknya, orang yang lemah harus memperkuat diri dengan cara berlatih hingga menjadi cukup kuat untuk dapat mengalahkan orang yang tadinya lebih kuat dari dirinya. Namun sampai kapan kita dapat menjadi yang terkuat, tercepat dan paling cerdik? Bukankah ada pepatah diatas langit masih ada langit?
Kesombongan dimasa lalu membuat saya harus menyadari hal diatas lewat jalan yang cukup pahit, setelah kecelakaan yang mengakibatkan tangan kanan saya patah, saya tidak dapat lagi berharap saya dapat sekuat orang normal, dan kenyataan bahwa tulang lengan yang relatif besar dan keras dapat patah, merupakan bukti keterbatasan saya sebagai manusia biasa.
Dalam keadaan seperti ini saya mulai mempertanyakan konsep beladiri yang saya pelajari hingga saat itu, jika memang pada akhirnya tujuan dari beladiri adalah tetap adu kekuatan, maka seperti tidak ada gunanya saya berlatih, karena jika ada orang yang dilahirkan lebih kuat, lebih cepat dan lebih cerdik kemudian berlatih sama kerasnya dengan saya, apakah bukan berarti saya tidak akan punya kesempatan menang?
Aikido mengajarkan saya bahwa kemenangan dapat dipilah menjadi tiga kategori. Pertama, menang setelah bertarung, ini adalah kemenangan yang paling rendah tingkatannya dimana kemenangan baru kita dapatkan setelah pertarungan selesai. Orang yang berkelahi atas dasar emosi dan luapan amarah, membabi-buta, tanpa pikir panjang dan persiapan, jikalau ia berhasil memenangkan pertarungan tersebut maka kemenangan yang didapat biasanya harus dibayar mahal dengan kerugian materi maupun korban jiwa. Kemenangan seperti ini sangat relatif, karena kemungkinan untuk keadaan berbalik menjadi suatu kekalahan sangatlah besar.
Kedua, menang sebelum bertarung, dimana pihak yang memenangkan pertarungan telah mengetahui hasil pertarungan bahkan sebelum pertarungan dimulai. Hal ini terjadi dari hasil persiapan yang matang, dengan melatih diri dan menyusun strategi hingga memiliki kekuatan yang lebih untuk mengalahkan pihak lain. Namun kemenangan seperti ini pun tidaklah tanpa resiko, kemungkinan terluka atau jatuh korban tetap ada bahkan faktor diluar perhitungan yang muncul dapat merubah kemenangan yang terlihat pasti menjadi kekalahan total. Saya akan berikan sebuah penggambaran sebagai contoh, seorang petinju kelas berat professional berhadapan dengan seorang penjambret yang kurus di sebuah lorong gang. Diatas kertas, perbedaan kekuatan fisik ini menguntungkan bagi sang petinju. Semua akan setuju bila saya katakan sang petinju dalam posisi menang sebelum bertarung. Namun ketika sang petinju menyiapkan kuda-kuda, penjambret dihadapannya merasa terancam dan mencabut pistol. Pada titik ini, hasil pertarungan tidak lagi dapat dengan mudah diprediksi. Hal seperti ini umum terjadi di kehidupan nyata dimana banyak terdapat faktor yang tidak dapat diperhitungkan. Mungkinkah seseorang mencapai kemenangan yang mutlak? Kemenangan sejati yang terlepas dari perbandingan kekuatan serta pengaruh situasi dan kondisi lingkungan yang tak dapat diduga? Aikido membuka mata saya akan kemungkinan mencapai kemenangan sejati ini.
Kemenangan sejati adalah kemenangan tingkat tertinggi dimana kemenangan dicapai tanpa pertarungan. Tentunya akan muncul pertanyaan didalam benak kita, bagaimana suatu kemenangan dapat dicapai tanpa pertarungan?. Bagaimana suatu kemenangan dapat diraih terlepas dari perbandingan kekuatan antara pihak yang berhadapan?
Kuncinya ada pada penempaan diri secara fisik, mental dan spiritual hingga tercapai pemahaman dimana besar, kecil, cepat, lambat, keras, lembut merupakan kenyataan yang tidak lagi diperbandingkan melainkan suatu kesatuan yang saling melengkapi dan menetralkan satu sama lain seperti Yin dan Yang.
- Ada keras ada lembut, tidak akan ada yang keras jika tidak ada yang lembut.
- Ada cepat ada lambat, tidak akan ada yang cepat jika tidak ada yang lambat.
- Ada siang ada malam, jika siang hilang maka bukan hanya ada malam melainkan malam pun hilang.
- Ada pria ada wanita, jika tidak ada pria maka bukan hanya akan ada wanita, melainkan wanita pun akan lenyap.
- Ada kebaikan ada kejahatan, jika tidak ada kebaikan, maka kejahatan tidak akan terwujud.
Semua terjadi karena isi alam ini diciptakan saling melengkapi dan menyeimbangkan. Inilah konsep harmonisasi.
Harmonisasi merupakan hukum alam yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta. Segala sesuatu yang sifatnya ciptaan berasal dari satu sumber yaitu Yang Maha Esa, oleh karena itu pada hakekatnya segala sesuatu di alam ini terikat satu dengan yang lainnya sebagai satu kesatuan besar yang teratur terlepas dari perbedaan dan keterpisahan secara fisik yang umumnya kita lihat. Contoh sederhana dapat kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari, matahari dan planet-planet yang berputar mengelilinginya, selama berjuta tahun mereka berotasi dan berevolusi didalam orbit masing-masing dengan teratur. Secara fisik, diantara planet-planet tersebut hanya ruang hampa, tidak ada rel atau benang penghubung seperti yang biasa kita lihat didalam buku sains lalu apa yang memungkinkan mereka bergerak sedemikian rupa? . Contoh lain, kijang makan rumput, kemudian kijang dimakan macan, lalu macan mati, dagingnya membusuk ditanah dan menjadi protein untuk rumput bisa tumbuh dan kemudian menjadi makanan kijang. Jika diperhatikan dari contoh diatas maka dapat kita lihat bahwa di alam ini keberadaan setiap mahluk memiliki keterikatan dengan mahluk lain dalam tugasnya menjalankan peran masing-masing yang ditentukan oleh Yang Maha Pencipta.
Layaknya didalam sebuah mesin, roda gigi ada yang besar, ada yang kecil, ada yang berputarnya lambat, ada yang cepat. Tetapi, tidak berarti roda yang besar lebih penting dari roda yang kecil, atau roda yang bergerak cepat lebih berjasa dibandingkan roda yang bergeraknya lebih lambat, mereka semua hanya menjalankan tugas masing-masing. Ini yang disebut harmonisasi. Sekarang kita bayangkan jika didalam sebuah mesin, roda gigi yang tugasnya berputar lambat karena merasa kurang berjasa tiba-tiba memutuskan untuk berputar lebih cepat, roda gigi yang tugasnya berputar kekanan tiba-tiba saja merasa bosan dan berputar kekiri atau roda gigi yang besar merasa roda gigi yang kecil tidak signifikan dan memutuskan untuk menjalankan mesin seorang diri. Apa yang akan terjadi? sudah pasti roda gigi tersebut akan rusak dan tidak hanya itu bahkan seluruh mesin pun akan hancur.
Pada intinya, harmonis adalah keadaan dimana segala sesuatu adalah bagian dari suatu kesatuan dan masing-masing bagian berfungsi sesuai tugas masing-masing, dan harmonisasi adalah proses mencapai keadaan tersebut. Aikido mengajarkan kita tentang harmonisasi dan hanya melalui harmonisasi, kemenangan tanpa pertarungan dapat kita raih.
Popularity: 100% [?]

Harmonisasi alam akan selalu terjaga, karena tidak ada satupun makhluk di alam semesta ini yang melanggar kodratnya masing-masing. Harmonisasi manusia masih perlu kita pertanyakan, kenapa? Listrik alam adalah DC (searah), sedangkan listrik manusia adalah AC (bolak balik). Oleh karena itu, kemenangan bagi seorang manusia adalah ketika dia mampu menyesuaikan listrik ACnya dengan medan-medan listrik yang ada disekitarnya, baik yang dikeluarkan oleh alam (DC) maupun oleh manusia lainnya (AC). Untuk itu, manusia dituntut untuk dapat BERADAPTASI dengan mendeteksi seberapa besar voltase/ohm/watt medan listrik yang ada disekitarnya. Medan listrik tersebut dalam kehidupan sehari-hari dapat berwujud apapun, oleh karena itu, manusia juga dituntut untuk dapat menterjemahkan wujud tersebut ke dalam angka-angka volt/ohm/watt.
Apa yang terjadi jika seseorang sedang emosi (tegangan tinggi) dan kita juga melakukan hal yang sama (tegangan tinggi)? pastilah kerusakan akan terjadi, kenapa tidak kita pasang kabel ground aja (pelampiasan yang positif dan benar) dengan begitu kelebihan tegangan akan turun dengan sangat drastis, tidak terjadi kerusakan dan semua senang.
Comment by sumarman — April 23, 2008 @ 2:30 am