January 30, 2010

Meeting Aiki Kenkyukai & Pemberitahuan Resmi

Untuk para pengajar, yudansha & sabuk coklat yang aktif, dojo cho atau perwakilannya diharap kedatangannya pada meeting aiki-kenkyukai pada tanggal 7 Februari 2010 jam 4 sore sebelum latian rutin advance class di kelapa gading. Untuk membicarakan update untuk Aiki Kenkyukai sepulang Hakim Sensei dari Jepang.
dan ini pemberitahuan resmi bagi seluruh anggota aiki-kenkyukai bahwa sejak tanggal 10 Januari kemarin, Hakim Sensei resmi menyandang Dan 5 Aikido dari Aikikai Hombu. Diserahkan secara simbolik oleh Dosshu Moriteru Ueshiba pada acara kagami biraki (new year celebration).

Popularity: 3% [?]

October 12, 2009

PERATURAN PENGAMBILAN UJIAN YUDANSHA

Dalam rangka meningkatkan kualitas Yudansha dari Perguruan Indonesia Aikikai, maka Ketua Dewan Guru dan Komite Dewan Guru menetapkan peraturan untuk ujian Yudansha

Aturan Umum:
1.    Semua calon peserta ujian Yudansha wajib membuat paper dan diserahkan dan/ dikirimkan kepada Ketua Dewan Guru YIA, Poetiray Sensei, paling lambat sesuai waktu yang telah ditetapkan pada Surat Edaran YIA.
2.    Semua calon peserta ujian Yudansha wajib memiliki Surat Rekomendasi dari Sensei yang mengajar calon peserta ujian Yudansha.
3.    Semua calon peserta ujian Yudansha wajib mengisi, melengkapi dan menyerahkan berkas formulir ujian kepada panitia ujian sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan pada Surat Edaran YIA.
4.    Semua calon peserta ujian Yudansha wajib mengikuti minimal 2 kelas latihan bersama yang ditetapkan oleh Ketua Dewan Guru YIA.
5.    Paper di ketik di kertas A4, 1.5 spasi dengan ukuran huruf 12 Times Roman. Cover muka berisikan data penulis, judul paper dan tanda tangan peserta dan sensei yang memberikan rekomendasi.
6.    Paper di buat 2 bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris.
7.    Paper di jilid dengan jilid ring
8.    Paper yang dibuat berisikan:
a.    Kata Pengantar
b.    Pendahuluan
c.    Isi
d.    Kesimpulan dan Penutup
e.    Daftar Pustaka
Aturan Khusus:
A.    Untuk ujian ke tingkat Shodan:
1.    Membuat Paper dengan tema : Prinsip tehnik dalam Aikido
2.    Tema bukan merupakan judul. Calon peserta dapat menetapkan judul paper sesuai dengan tema.
3.    Untuk calon Shodan, paper minimal berjumlah 7 halaman(termasuk cover depan, daftar isi, isi dan daftar pustaka.  Tidak termasuk cover belakang).
B.    Untuk ujian ke tingkat Nidan:
1.    Membuat Paper dengan tema: Filosofi dalam Aikido
2.    Tema bukan merupakan judul. Calon peserta dapat menetapkan judul paper sesuai dengan tema.
3.    Untuk calon Nidan, paper minimal berjumlah 9 halaman( termasuk cover depan, daftar isi, isi dan daftar pustaka.  Tidak termasuk cover belakang).
C.    Untuk ujian ke tingkat Sandan:
1.    Membuat Paper dengan tema: Budo di dalam Aikido
2.    Tema bukan merupakan judul. Calon peserta dapat menetapkan judul paper sesuai dengan tema.
3.    Untuk calon Sandan, paper minimal berjumlah 11 halaman (termasuk cover depan, daftar isi, isi dan daftar pustaka.  Tidak termasuk cover belakang).
4.    Untuk calon Sandan akan diadakan ujian lisan dari paper yang dibuat dan wajib diikuti.
D.    Untuk ujian ke tingkat Yondan:
1.    Membuat Paper dengan tema: Aikido in daily life
2.    Tema bukan merupakan judul. Calon peserta dapat menetapkan judul paper sesuai dengan tema.
3.    Untuk calon Yondan, paper minimal berjumlah 14 halaman( termasuk cover depan, daftar isi, isi dan daftar pustaka.  Tidak termasuk cover belakang).
4.    Untuk calon Yondan akan diadakan ujian lisan dari paper yang dibuat dan wajib diikuti.

Artikel ini adalah Pengumuman Resmi dari Ketua Dewan Guru & Komite Dewan Guru Yayasan Indonesia Aikikai

Popularity: 9% [?]

July 29, 2009

Liputan Gashuku Aiki Kenkyukai 2009 “Aiki Camp”

“50 % training, 100% good times” rasanya sebagian besar peserta aiki camp akan setuju dengan kalimat diatas untuk mendeskripsikan apa itu “aiki camp” yang baru saja di gelar di Padepokan Judo Ciloto, dari tanggal 24 - 26 Juli kemarin.

Atmosfir persaudaraan diantara peserta Aiki Camp kali ini begitu hangat mengalahkan dinginnya udara puncak yang relatif mendung selama Aiki Camp berlangsung. Ikatan hati Sensei & murid-muridnya, sempai & kohainya, saudara antar dojo makin terjalin erat lewat latihan dan kebersamaan. Inilah mungkin salah satu nilai tambah yang bisa kita dapatkan dari mengikuti gashuku seperti kemarin selain belajar tentang aikido. Nilai tambah lainnya mungkin udara segar yang jarang bisa kita hirup di Jakarta & menu makanan rumahan dengan rasa yang relatif enak.

Seperti “Aiki Camp” 2 tahun yang lalu, kali ini sesi latian dipimpin oleh Aiki Kenkyukai Cho Imanul Hakim Sensei (4th Dan) & beberapa sesi diisi oleh tamu kehormatan Kaoru Murase Sensei (4th Dan) dari Aikido Kenkyukai International. Dalam sesi beliau, Hakim Sensei kembali menekankan tentang belajar melalui “rasa”, bagaimana kita seharusnya mensikapi teknik sebagai sebuah sarana latian, bukan tujuan dan lebih memfokuskan pengembangan “rasa” menggunakan hati. Sedangkan Kaoru Sensei berbagi Jo (tongkat) waza, bagaimana menghadapi bokken menggunakan Jo. latian pada hari Sabtu tanggal 25 dimulai dari jam 7 pagi & selesai jam 4.30 sore, 5 sesi latian, latian yang panjang dan menyenangkan.

Setelah makan malam, ada sesi diskusi yang disediakan Hakim Sensei untuk murid-murid mengajukan pertanyaan seputar aikido dan latian yang sudah dijalani selama ini, karena tidak banyak yang berinisiatif melontarkan pertanyaan, Hakim Sensei memulai diskusi dengan bercerita tentang perjalanan beliau belajar aikido, dimana titik-titik kejadian yang membawa perubahan dalam perkembangan aikido yang beliau latih. Diskusi ini ditutup dengan pesan beliau bahwa seseorang yang belajar Budo (the way of the warrior) adalah seorang ksatria & dalam diri seorang ksatria haruslah terdapat hati yang lembut, karena ada kekuatan yang hanya didapat melalui kelembutan hati yang tidak dapat dicapai jika seseorang memiliki hati yang keras.

Hari kedua, Minggu 26 Juli latian kembali dijadwalkan jam 7 pagi, tapi apalah daya, sebagian besar peserta “ngaret”, bisa dimaklumi karena hari sebelumnya hampir semua mengikuti sesi latian kurang lebih 7 jam. Meskipun begitu, setiap peserta tetap latian dengan penuh semangat. hari ini sesi pagi dipimpin Murase Sensei dengan memberikan penjelasan tentang bagaimana untuk menjaga agar badan tetap dalam keadaan betul-betul rileks dalam latian  baik saat menjadi nage maupun uke. Hakim Sensei di sesi kedua Hakim Sensei menjelaskan kembali tentang 7 karakteristik Aiki hingga sesi berakhir pada jam makan siang, sebelum ditutup, Hakim Sensei berpesan pada peserta untuk membawa pulang “rasa” dan berusaha berlatih menghidupkan “rasa” tersebut dalam latian di dojo masing-masing.

Di Gashuku kali ini juga ada ujian kenaikan tingkat untuk sabuk putih (kyu 6 - 4) dan kita bersyukur semua lulus dengan baik, Selamat bagi yang lulus ujian. Untuk para pembaca, semoga kita bisa bertemu lagi tahun depan di Aiki Camp 2010!

Popularity: 15% [?]

July 5, 2009

Liputan Seminar Ikuhiro Kubota Shihan

Aula Gedung INDOSAT, Jakarta, Minggu, 28 Juni 2009.

Akhir bulan Juni yang lalu, Aiki Kenkyukai mengadakan seminar yang telah menjadi semacam agenda rutin tahunan yaitu seminar aikido yang dipimpin oleh Ikuhiro Kubota Shihan (7th Dan).  Tetapi untuk tahun ini seminar hanya diadakan 1 hari saja di Jakarta & Kubota Shihan pada hari Senin nya langsung melanjutkan seminarnya di Bandung.
Pada seminar kali ini, Kubota Shihan memberikan beberapa pengulangan singkat tentang kokyu sore yaitu 9 sistem / bentuk latihan napas. (kokyu sore sudah beliau bahas lebih panjang di seminar tahun 2008). Seminar dilanjutkan dengan latian 5 bentuk kokyu ho, 5 bentuk ini pada dasarnya adalah metode latian dasar agar kita bisa memahami apa itu awase (blending/ penyelarasan) dan musubi (connection/ keterikatan), terutama bentuk ke-5 yang menggunakan gerakan melingkar membuat kita lebih mudah mengerti konsep ki no nagare (flowing energy).
Sehubungan dengan pelatihan teknis, Kubota shihan memberikan pelatihan tentang morotte dori (uke memegang satu tangan nage menggunakan dua tangan). Beliau menekankan bahwa didalam aikido kita menyesuaikan diri dengan keadaan, jadi tidak ada teknik yang harus dipaksakan, ini ditunjukkan dengan melakukan berbagai teknik penyelesaian dari satu bentuk serangan (morotte dori). Arah gerakan dan penyelesaian teknik sangat tergantung dari faktor-faktor seperti posisi awal, reaksi uke, keadaan lingkungan dan lain-lain.
Di akhir sesi latian teknik, Kubota shihan memberikan beberapa contoh teknik token-dori (teknik menghadapi pedang). Hal yang sama juga ditekankan bahwa penyelesaian teknik dalam aikido sangat bergantung dari bagaimana jalan yang terbaik menyesuaikan diri dengan keadaan pada saat itu. Selain itu juga Kubota shihan menyampaikan bahwa dalam teknik dasar Token-dori, atemi perlu dilakukan untuk melemahkan genggaman uke pada pedang.
Wejangan Kubota shihan dalam seminar kali ini adalah “untuk dapat berkembang dengan baik , kita harus meniru/mengkopi guru/Sensei kita” tentunya bukan hanya dalam konteks teknik, melainkan juga hal-hal yang baik lainnya dari guru kita. Semangatnya, sikapnya, tindak-tanduknya dan sebagainya.
Sungguh latihan dengan beliau adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan dan membawa pemahaman lebih dalam. Walaupun penggunaan bahasa jepang oleh beliau ditambah translator yang masih on & off membuat beberapa murid mengantuk pada saat diberikan penjelasan panjang lebar tentang pemahaman latihan. Mudah-mudahan hal ini bisa diperbaiki di seminar tahun depan, ada yang berminat latihan jadi penterjemah?

foto seminar ikuhiro kubota shihan di jakarta, juni 2009 foto bersama dojo kelapa gading di seminar ikuhiro kubota shihan di jakarta, juni 2009

Popularity: 18% [?]

May 7, 2009

SYUKURAN ULANG TAHUN AIKI KENKYUKAI ke 4

Dojo Aiki Kenkyukai mengadakan syukuran ulang tahun nya yang ke 4 pada hari Minggu tanggal 3 Mei ‘09 di Graha Surveyor Indonesia. Acara dihadiri sebagian besar anggota dari dojo-dojo aiki kenkyukai baik dalam dan luar kota. Turut diundang pula, saudara-saudara aikidoka dari dojo-dojo yang bernaung dalam Yayasan Indonesia Aikikai (YIA). Yang berkesempatan datang diantaranya dari dojo Sakura (Emilia Sensei) , dojo asuhan Nugroho Sensei, aikido children class asuhan Bawor Sensei, dan perwakilan dari Aikido Bandung, Hector.

Acara hari itu dimulai dengan latihan bersama dipimpin langsung oleh guru kepala Aiki Kenkyukai. Acara berikutnya adalah sesi Embukai  (exhibition) dari dojo-dojo undangan dibuka oleh peragaan teknik oleh kelas aikido anak yang begitu atraktif, lugu, lucu, begitu menggambarkan jiwa dari aikido yang tanpa permusuhan. Dilanjutkan peragaan teknik dari dojo Sakura, dojo asuhan Nugroho Sensei yang diwakili oleh murid-murid senior beliau, setelah itu embukai murid-murid wanita dari berbagai dojo Aiki Kenkyukai dipimpin Shanti Sempai, kemudian embukai dari Eka Machdi Sensei (Aiki Kenkyukai Tenkei) dan sesi embukai ditutup oleh embukai dari Aiki Kenkyukai Cho, Imanul Hakim Sensei. Acara kemudian diteruskan dengan pemotongan kue ulang tahun dan tumpeng dan makan bersama. Acara terakhir adalah latihan bersama Hakim Sensei.

Acara syukuran ini dimulai dari jam 10 pagi hingga tuntas jam 3 sore.

klik link dibawah ini untuk melihat embukai Hakim Sensei di acara syukuran ulang tahun

(sumbangan murid Aiki Kenkyukai Bogor)

http://www.facebook.com/home.php#/video/video.php?v=77881692158&ref=share

Berikut ini juga beberapa hasil jepretan ketika acara berlangsung.

(sumbangan murid Aiki Kenkyukai Surveyor Indonesia)

Foto Ultah Aiki Kenkyukai ke 4a

foto Ultah Aiki Kenkyukai ke 4b

Popularity: 24% [?]

February 23, 2009

HASIL UJIAN YUDANSHA 2009 & Penganugerahan Dan 5 kepada Ketua Dewan Guru PIA Ir. Josef I. Poetiray Sensei

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Yang Maha Kuasa atas karunia-Nya. Enam orang murid Aiki Kenkyukai yang menempuh ujian Yudansha pada hari Sabtu tanggal 21 Februari 2009 yang lalu telah dinyatakan semuanya lulus ujian.berikut nama-nama murid Aiki Kenkyukai yang ikut dan lulus ujian kemarin:Lulus ke Dan 3:1. Shanti Indriati, Aiki Kenkyukai Koshinkan DojoLulus ke Dan 2:2. Yosy Revaleo, Aiki Kenkyukai Kelapa GadingLulus ke Dan 1:3. Leonardo/ Leo, Aiki Kenkyukai Kelapa Gading4. Komar Setiawan/ Iwan, Aiki Kenkyukai Kelapa Gading5. Achmad Moesadad Sathrie/ Usa, Aiki Kenkyukai Sukasari, Bogor6. Wawan Abdullah, Aiki Kenkyukai Tenkei UI, DepokBerita gembira yang juga harus kita syukuri bersama adalah  Ketua Dewan Guru PIA (Perguruan Indonesia Aikikai) Bpk. Ir. Josef I. Poetiray Sensei telah resmi di anugerahi Dan 5 dari Aikido Doshu Moriteru Ueshiba, penyerahan ijazah Dan 5 beliau di laksanakan setelah acara ujian yudansha hari Sabtu kemarin dan diserahkan langsung oleh Fujimaki Hiroshi Shihan (Dan 6).

Popularity: 33% [?]

February 16, 2009

Obrolan Ngalor Ngidul Seputar Hasil Latihan Aikido

Berikut ini adalah liputan diskusi seputar teknik dan filosofi Aikido yang dilakukan oleh Bung Yosy dan Jon pada Malam Kamis & Kamis dini hari(!), 12-13 Februari 2009.  Berawal dari chatting iseng-iseng via Facebook mengenai pengalaman masing-masing akan Aikido, keduanya akhirnya memasuki tahap saling mengkonfirmasi mengenai beberapa ‘pencerahan kecil’ yang mereka peroleh di dalam pembelajaran selama ini.

Dalam liputan ini, Bung Yosy mengemukakan pula pemahaman terbarunya seputar hukum universal yang bekerja di balik segala fenomena alam yang tentu saja sama dengan yang kita kenal dan kita pelajari dalam bentuk Aiki.  Semoga chatting ringan yang bermula dari suatu pertemuan alam maya yang bersifat kebetulan ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan lain dan mungkin di kesempatan yang lain dapat kita kembangkan pula menjadi salah satu sarana pembelajaran mengenai Aikido yang tidak terbatas dalam ruang dan waktu di Dojo masing-masing.

Popularity: 34% [?]

July 3, 2008

Sebuah Perenungan dalam Aikido

Sebuah Perenungan dalam Aikido

Jakarta 2 Juli 2008


I.    Pendahuluan

Berikut ini adalah ‘perenungan’ saya perihal aikido yang saya ikuti sejak tahun 1993 -Jan 2000, 2004 - saat ini. Tahun 2000 -  2004 : vakum.
1993 - 2000, latihan waza tanpa mengaitkan atau diajarkan kaitannya dengan perkataan-perkataan O’Sensei.
2004-2005, sama dengan periode 1993-2000
2005-sekarang, ada pengaitan dengan esensi, hanya saja sampai dengan keluarnya perenungan ini, masih merasa “ada sesuatu “ yang mesti ‘dilakukan’ atau “dipikirkan” bersama.

II.    Perkataan O’sensei 
O’sensei berkata :
Fifty Six
A good stance and posture reflect a proper state of mind.
(Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens).

One Hundred One
The techniques of the Way of Peace change constantly; every encounter is unique,
and the appropriate response should emerge naturally. Today’s techniques will be
different tommorrow. Do not get caught up with the form and appearance of a
challenge. The Art of Peace has no form - it is the study of the spirit.

Popularity: 57% [?]

April 10, 2008

Words Of The Founder April’08

As soon as you concern yourself with the “good” and “bad” of your fellows, you create an opening in your heart for maliciousness to enter. Testing, competing with, and criticizing others weaken and defeat you.

Ketika kau memikirkan tentang baik dan buruk nya sesama-mu, maka kau ciptakan kesempatan untuk kejahatan memasuki hati mu. Menguji kemampuan, berkompetisi dan mengkritik orang lain akan melemahkan dan mengalahkan dirimu

Popularity: 63% [?]

March 18, 2008

Words Of The Founder Maret’08

The secret of Aikido is not in how you move your feet, it is how you move your mind.

Rahasia aikido tidak terletak pada bagaimana menggerakan kaki mu melainkan pada bagaimana menggerakkan hati dan pikiran mu

Popularity: 63% [?]

Mencegah Kebosanan dalam Berlatih Aikido

Rasa bosan atau jenuh adalah salah satu kendala yang ditemui oleh hampir semua orang yang berlatih aikido. Rasa bosan dalam berlatih aikido banyak faktor penyebabnya antara lain, bentuk latihan dasar yang monoton, teknik dasar aikido yang terkesan tidak aplikatif, tidak adanya pertandingan ataupun wahana “uji kemampuan” untuk melihat apakah latihan kita sudah benar atau belum, dan lagi ditambah pemahaman terhadap filosofi terasa sangat sulit dicapai melalui latihan yang kita lakukan.

Popularity: 64% [?]

February 4, 2008

Words of The Founder Februari ’08

“Loyalty and devotion lead to bravery. Bravery leads to the spirit of self-sacrifice. The spirit of self-sacrifice creates trust in the power of love.”

Kesetiaan dan pengabdian mengarahkan kita pada keberanian. Keberanian membawa kita pada semangat rela berkorban. Semangat rela berkorban menumbuhkan kepercayaan akan kekuatan cinta.

Popularity: 67% [?]

January 2, 2008

Tahap/Aspek Kedua Pembelajaran Aikido

Memasuki tahap kedua dari pembelajaranku akan Aikido membuatku agak kesulitan untuk mengadaptasikan apa yang telah kualami ke dalam segi pemikiran yang terwakili ke dalam kalimat-kalimat sederhana.  Dua tahap pembelajaran Aikido yang kumaksud adalah masa-masa dimana diriku bersentuhan dengan dua aspek yang semula kelihatannya berbeda namun pada akhirnya tampak berkaitan satu sama lain.  Tahap pertama yang kualami adalah pengenalan Aikido di dalam dimensi keteknikan yang masih dapat dijelaskan secara logis.  Dalam hal ini, teknik masih dapat terpahami secara sederhana melalui penjabaran kombinasi sudut masuk (irimi), kuncian dan movement yang berkesinambungan setelah melebur dengan arah dan intensi serangan uke (yang terwakili dalam proses penerimaan, positioning antara center line kita sebagai nage dan center line uke serta positioning untuk mengalirkan arah intensi-serangan uke tanpa konflik).  Dalam tahap pertama ini, rasionalisasi dari proses eksekusi teknik ke dalam pembahasaan sederhana sekurang-kurangnya dapat ‘menularkan pengetahuan’ ini bagi rekan aikidoka yang lain.  Dalam hal ini, penjelasan konseptual mendahului dan mampu merangsang munculnya pemahaman dan pengalaman.

Memasuki tahap kedua, yang telah kualami selama beberapa minggu belakangan ini dan puncaknya terakhir, malam latihan kemarin yang baru saja berlalu, membuatku kembali teringat akan sebuah untuaian kalimat-kalimat tua yang amat sulit untuk terpahami olehku selama ini.  Bersentuhan dengan aspek kedua Aikido adalah berada di dalam dimensi ‘pengenalan melalui pengalaman’, mengalami sendiri secara langsung, tanpa didahului pra-konsepsi.  Jika di dalam tahap pertama, penyampaian konsepsi (penjelasan logis-intelektual) dapat menumbuhkan pengenalan (pemahaman) tanpa proses mengalami, di dalam tahap kedua ini, mutlak diperlukan proses mengalami terlebih dahulu.  Setelah itu, apabila sempat, baru dibahasakan untuk disimpan dalam Buku Diary :)  Logika dan Pikiran manusia menemui sejenis hambatan dalam pengenalan aspek kedua ini.

Berikut ini adalah beberapa baris kalimat sulit yang tampaknya baru tersingkap maknanya setelah diriku berkesempatan mengecap dan mengalami proses tahap kedua Aikido:

The Tao1) that can be expressed in words,
Is not the true and eternal Tao;
The name that can be uttered in words,
Is not the true and eternal name.

The word “Nothingness” may be used
to designate the beginning of Heaven and Earth2);
The word “Existence (Being)” may be used
to designate the mother of all things.

Hence one should gain an insight into the subtley
of Tao by observing Nothingness,
and should gain an insight into the beginning
of Tao by observing Existence (Being).

These two things, Nothingness and Existence,
Are of the same origin but different in name.
They are extremely profound in depth
Serving as the door of myriad secret beings.

Chapter 1, The Book of Tao and Teh (Dao De Jing)

Tulisanku kali ini mungkin akan sedikit membingungkan rekan-rekan pembaca yang lain.  Untuk memahami apa yang seseorang alami, minimal perlu sebuah tindakan menarik mundur ke dalam historisitas perkembangan pengalaman dan pemikiran orang tersebut, berusaha menyelami apa yang dimaksud oleh orang tersebut dengan penggunaan konsep dan kata-kata tertentu.  Beberapa penjelasan sederhana berikut ini mudah-mudahan dapat membawa orang lain menuju apa yang menurut saya amat sangat menarik untuk dibahas dan dibagikan ke teman-teman yang lain.

Kearifan Timur setahu saya secara sederhana seringkali dikatakan berbeda dengan kearifan Barat.  Mungkin hal ini ada benarnya tatkala kita mencoba untuk menyelami ‘tools’ pengenalan dan proses penjabaran masing-masing kubu akan sesuatu.  Dunia barat cenderung menggunakan rasio untuk menjelaskan segala sesuatu dan umumnya mencapai tujuan melalui analisis dan penyederhanaan, diaman suatu kasus atau benda dipilah-pilah yang kemudian ditelusuri satu persatu secara mendalam secara terpisah.  Kearifan timur cenderung dikembangkan melalui intuisi dan dalam prosesnya mencoba untuk menggabungkan, menyatukan berbagai aspek yang pada awalnya terlihat tidak berkaitan satu sama lain.  Aikido, sebagai salah satu produk kearifan timur mewakili kecederungan pola pikir timur ini.  Makanya jangan heran, mengapa O’ Sensei berbagi ‘peta’ proses perjalanan spiritualnya berupa teknik bela diri.  Apa hubungan logis antara teknik bela diri dan spiritualitas?  :)

Dalam bait kedua kalimat di atas disinggung dua konsep kata yang kalau mau kita analisa mendalam, akan menumbuhkan banyak pengertian dan mudah-mudahan menstimulasi sedikit pencerahan :)  Kita cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang telah ada, nyata dan terlihat, atau bahasa filosofisnya ‘telah bereksistensi’.  Kalau semata-mata membahas masalah dalam dimensi “keberadaan”, logika dan pemikiran barat telah dikembangkan dengan sangat baik selama ini dan membuahkan karya peradaban tinggi manusia akhir-akhir ini.  Science dan Teknologi adalah salah produk unggulan dimensi ini.

Dalam tataran pengalamanku, apa yang menjadi terpahami setelah memasuki tahap kedua dari pembelajaran akan Aikido adalah penyadaran akan adanya aspek atau dimensi lain yang dalam bahasa sederhananya terwakili dalam kata “Nothingness” (Chinese: Wu, Japanese: Mu).  Kalau kata pertama, ‘Eksistensi’ mewakili segala sesuatu yang ada dan dapat dikenali, kata kedua, ‘Ketiadaan’ mewakili sesuatu yang ada namun tidak (atau belum) dikenali, tentu saja oleh penginderaan dan pikiran sebagai alat penerima proses pengenalan.

Penggunaan kata “dikenali” ini umumnya kita pakai untuk mewakili dimensi keberadaan yang dikenali secara kognitif, berada di dalam dimensi intelek dimana processing tools-nya adalah kognisi/pencerapan dan rasio.  Pola pendidikan kita selama ini terbiasa dengan pola pikir Barat sehingga seringkali tanpa kita sadari, aspek pengenalan kita menjadi terbatas, hanya pada sesuatu yang nyata dan dapat dilihat, atau sekurang-kurangnya mengacu pada sesuatu yang telah tertanam entah dari kapan di dalam pikiran kita.  Segala sesuatu diterima sebagai ada karena masuk akal3), dapat terpahami karena telah ada pra-kognisi dan pra-konsepsi sebelumnya, yang ujung-ujungnya hanya menyentuh aspek kognitif dari keberadaan.  Padahal pada kenyataannya, keberadaan-diluar-jangkauan-kognitif juga banyak.  Maka dari itu, menurut pendekatan ini, eksistensi atau keberadaan hanya menyentuh aspek yang dapat diterima oleh pikiran saja, segala sesuatu ada karena ada dalam pikiran, dikenali oleh pikiran dan sesuai dengan alur logika berpikirnya.  Logika sesatnya akhirnya menjadi: karena tidak ada dalam pikiran (cth: karena sulit dinalar, sulit diterima akal sehat), maka sesuatu itu disimpulkan tidak ada.  Sesuatu dikatakan bereksisten apabila telah mendapat ‘polesan mind’ manusia berupa pengenalan (labelling) melalui proses pencerapan dan berpikir (penalaran).  Cogito ergo sum, “aku berpikir, maka aku ada”.

Bersentuhan dengan kata kedua, ‘Nothingness’, penggunaan pola pikir ketimuran akan lebih dapat membimbing kita menuju ke dalam pemahaman sejati akan makna kata yang sulit ini. Contoh istilah dalam Zen dan seni beladiri Jepang yang sering menggunakan kata ini, termasuk Aikido adalah istilah Mushin (Mu = tiada/tanpa; Shin = hati/pikiran).  Pengertian sederhananya adalah menjadi ‘tanpa pikiran’ atau ‘tanpa didahului proses berpikir’.  Mushin adalah fenomena yang jelas-jelas ada, walaupun menggunakan kata yang sifatnya negatif, yakni ‘tiada’.  Keefektifannya dalam eksekusi teknik merupakan pembuktian bahwa itu ada; sesuatu yang “tiada(tanpa)-pikiran” itu ada.  Sebuah ketiadaan yang ada; sebuah statement yang sulit dipahami oleh pola pikir Barat.  Unik bukan?  Jadi pembelajaran penting yang kuperoleh kali ini adalah penerimaan adanya keberadaan tataran pengenalan lain, selain yang melalui proses pemikiran (kognisi).  Nah inilah yang menurutku menjadi pintu gerbang untuk masuk dan memahami aspek atau tahap kedua dalam Aikido.

Apa itu aspek dan tahap kedua dalam Aikido?  Secara sederhana dapat dijabarkan (sesuai dengan apa yang pernah disampaikan Sensei Hakim) ke dalam istilah ‘Bentuk-Tanpa-Bentuk, Teknik-Tanpa-Teknik’.  Jika dalam tahap pertama, cara yang diandalkan untuk mengontrol nage adalah melalui sarana fisik seperti sudut kuncian, positioning dan tentunya memanfaatkan grabbing (pegangan tangan); memasuki tahap kedua, diriku mengalami pengontrolan secara non-fisik (’non-touch’, istilah Sensei Jamal).  Dalam hal ini, ada semacam daya (kekuatan) di luar hukum-hukum materi dan yang pastinya membingungkan pikiran karena selama ini ia telah terbiasa berpikir secara mekanistis (cth: siapa lebih kuat, lebih cepat pasti menang; ada keterhubungan/koneksi secara mekanis baru bisa bekerja, dll…).

Controlling through ki, through mind dan through will (aiki-waza?) yang melangsungkan proses pengontrolan tanpa didahului tindakan sentuhan fisik (non-touch), sepanjang yang kupahami, mewakili aspek/tahap kedua pembelajaran Aikidoku kali ini.  Mungkin bagi yang belum pernah mengalami, akan mengalami kesulitan dalam menangkap maksud penyampaian ini.

Inti yang ingin kusampaikan kali ini adalah bahwa fenomena semacam ini ada dan nyata walaupun sulit terpahami oleh pikiran.  Satu-satunya jalan masuk adalah pengenalan melalui pengalaman, mengalami sendiri secara langsung, sulit untuk memulainya dengan konsepsi manusia yang terbatas.  Maka dari itu, diriku seakan membagi proses pembelajaran Aikido ke dalam dua tahap, dimana dalam tahap kedua ini, proses pengenalan tahap pertama, yang memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan secara konseptual, tidak cukup relevan.  Dalam tahap kedua, kurang lebih terwakili dalam statement sederhana berikut: ‘Pengalaman mendahului Eksistensi, yang kemudian baru diikuti Esensi’ (modifikasi dari pernyataan Sartre, Eksistensi Manusia mendahului Esensinya :-p).

Kalau pada tahap pertama, esensi keteknikan bisa disampaikan secara verbal melalui pembicaraan untuk merangsang pengenalan yang kemudian dikonfirmasi melalui pengalaman ketika eksekusi berlangsung, dalam tahap kedua, esensi baru bisa terpahami secara perlahan setelah seseorang mengalami sendiri, yang akhirnya mengarahkan dirinya untuk mencari seluk beluk akan keberadaan hal baru tersebut.  Ujung-ujungnya, baru bisa dipahami bahwa esensi kedua tahap yang awalnya seakan berbeda itu kurang lebih ternyata rada-rada mirip pada akhirnya!  Bingung kan, hehehe….  Kemiripan esensi ini belum bisa saya utarakan dalam tulisan kali ini karena tampaknya bersentuhan dengan aspek filosofis-spiritual Aikido, yang perlu saya konfirmasi lagi melalui banyak pengalaman lain.  Mohon maaf sebelumnya….

Mengacu pada bait ketiga mengenai kedua ‘jalan menyelami Tao’, prinsip yang sama tampaknya juga berlaku di dalam Aikido.  Cara menyelami pertama adalah pendekatan melalui aspek yang terlihat, terpahami oleh pikiran, pendekatan terhadap sesuatu yang dikatakan telah bereksistensi, telah ada di dalam kerangka konseptual pikiran.  Produknya adalah penemuan suatu hukum, prinsip, yang dapat terkomunikasikan, yang akhirnya dapat diwariskan sebagai sebuah ‘ilmu’, sama seperti produk science dan teknologi Barat.  Penjabaran keefektifan teknik Aikido secara fisik dan mekanistis mewakili produk aspek pertama.  Sebaliknya, cara kedua, sebagai pelengkap cara pertama adalah langsung menembusi inti Tao melalui pendekatan terhadap aspek yang sifatnya Nothingness (Tiada namun Ada), tidak berwujud, tidak terbentuk, tidak terdefinisi, tidak ternalar proses pikiran selama ini.  Darinya mungkin penelusuran kembali dimensi spiritualitas manusia bermula dan dapat membimbing manusia kembali ke hakikat awal keberadaan dirinya.  Dalam hal ini, apa yang diceritakan para Sensei mengenai Aiki-Waza (ekstrimnya Kami-Waza) mungkin mewakili dimensi ini, dan sarana pemahaman satu-satunya menurut saya adalah hanya dengan mencicipinya secara langsung dari Sensei atau Sempai atau rekan Aikidoka lain yang kompeten.

Secara sederhana, refleksi yang penuh dengan segala keterbatasan akan pengalaman tahap kedua ini bagi saya  cukup bermanfaat untuk menstimulasi semangat untuk lebih menggali prinsip Aikido yang tampaknya hampir tidak terbatas.  Hal ini terus terang belum menyentuh aspek spiritualitas Aikido sebagaimana yang diutarakan O’ Sensei.  Tapi bagi saya hal ini cukuplah… cukup membingungkan, hehehe.

Terakhir, sama halnya dengan bait keempat, kedua jalan ini juga berlaku di dalam Aikido, dimana jalan yang satu akan melengkapi jalan yang lain.  Apa yang terpahami dalam proses kedua, kurang lebih memiliki esensi yang sama walaupun hal ini dalam diri saya hal ini masih baru tampak sebagai cahaya yang remang-remang.  Kedua tahap ini berhubungan satu sama lain dan membimbing kita lebih dalam kepada Inti Aikido yang masih penuh dengan misteri :) (bagi saya).

Intinya, dalam pembelajaran akan tahap kedua ini, saya pribadi mengalami sebuah transformasi paradigma mengenai keberadaan hubungan antara materi dan energi.  Ada dimensi dan keberadaan daya energi halus yang melampaui hukum mekanikal-fisikal materialistis yang bekerja di dalam alam semesta, dan hal yang sama ternyata juga berlaku di dalam keberadaan diri saya sebagai manusia yang terbatas.  Pengenalan akan hal ini menyadarkan diri saya bahwa saya adalah bagian dari Alam Semesta yang sangat luas dan akan menjadi sangat bodoh apabila saya berpikir bahwa diri saya dapat terpisah darinya, apalagi berpikir mampu untuk menguasainya (mengeksploitasi tanpa batas) secara keseluruhan.  Mungkin pemahaman ini masih jauh dari spiritualitas Aikido yang sejati, tapi bagi saya, hal ini cukup efektif untuk sedikit demi sedikit mengikis ‘false belief’ mengenai keberadaan diri yang salah selama ini.

Berusaha untuk tetap menjaga Beginner’s Spirit (Shoshin) mungkin salah satu sikap yang baik untuk tetap menjaga dan mengasah kepekaan guna mampu menerima pemahaman-pemahaman lanjutan Aikido yang tampaknya makin lama makin menghalus.  Mengacu pada bait pertama, apa yang saya jadikan dasar spirit saya pribadi selama ini dalam mendalami Aikido adalah selalu jangan terburu-buru menjustifikasi pengalaman yang saya temukan baru-baru ini sebagai inti tertinggi dari Aikido.  Sebagaimana dengan jelas tersirat, pengenalan dan penamaan hanyalah sarana bantu untuk mewakili, mendekati obyek yang sesungguhnya, namun pengenalan dan penamaan itu sendiri bukanlah Hal Itu.

Akhir kata, terima kasih sekali lagi untuk bimbingan dan transfer ilmu dari para Sensei (S. Hakim untuk transfer ilmunya secara konseptual, sayang saya agak jarang bertemu dengan beliau; secara khusus thd. S. Jamal dan S. Imei untuk pengenalan Aiki-Wazanya & S. Tony, thx juga tuk sharing karakteristik aikinya 2 minggu yang lalu), juga dari para Sempai Aiki kenkyukai (Mas Gunarto, Mas Iwan, P’ Kendy, P’ Haresh, P’ Handry, dll..) selama ini, khususnya dalam share ‘ilmu hitam’nya (aspek Aikido kedua, dalam istilah saya pribadi), hehehe…  Mari kita menjadi lebih semangat dalam menelusuri inti Aikido sebagaimana yang diajarkan oleh O’ Sensei dan yang juga difasilitasi oleh komunitas Aiki Kenkyukai.  Onegai Shimasu!

Footnote:

1. Secara eksplisit, masih belum jelas adakah konektivitas antara Aikido yang berakar dari Shinto (Chinese: Shen Dao / Shen Tao) dengan Daoisme (Taoisme) klasik China.  Untuk sementara ini, saya hanya dapat menyimpulkan, bahwa dengan fakta penggunaan huruf Kanji (Chinese: Han Zi) yang sama, “Do” (Chinese: Dao/Tao), mungkin kedua pola pikir peradaban tinggi kuno tersebut saling berhubungan satu sama lain.

2. Dalam bait kedua menyentuh istilah ‘Heaven and Earth’, yang bisa dan seringkali diterjemahkan secara harafiah, dalam tataran makrokosmik (Heaven:Langit/Surga dan Earth: Bumi/Alam Manusia).  Dalam pengertian lain, kedua kata ini ternyata sering juga digunakan untuk mewakili aspek mikrokosmik (Heaven=Mind/Spirit, Earth=Body).  Ingat kan nama teknik Tenchi-nage (Ten/Tian=Heaven; Chi/Di=Earth)?  Ternyata dengan penggabungan penggunaan kedua pengertian ini akan lebih mudah ‘masuk’ karena selain aspek fisik yang terwakili dalam eksekusi berupa positioning tangan yang berbeda yang mewakili posisi Langit dan Bumi, tanpa ‘harmonizing’ mind and body antara nage dan uke, eksekusi teknik tersebut akan sulit untuk mengalir secara smooth.  Lagi-lagi apabila pendekatan ini menggunakan penggabungan dua pendekatan jalan, akan saling menunjang satu-sama lain.   Menarik bukan?

3. Istilah ‘make sense’ (masuk akal) walaupun produk pemikiran Barat sebenarnya menyiratkan adanya tools selain akal sebagai sarana untuk mengkonfirmasikan keberadaan sesuatu.

Jon

(13 Desember 2007: 03.00 ~ 12.30)

Popularity: 77% [?]

November 13, 2007

Aiki no Kokoro (Jiwa dari Aiki) Bagian 2

 

Menyatu dengan lawan dapat digambarkan seperti dua sisi mata uang logam, meskipun berbeda dan bertolak belakang namun tidak mungkin ada satu sisi tanpa sisi lainnya dan tidak dapat dipisahkan. Setelah kita melebur dengan ki lawan, selanjutnya anda memelihara hubungan (koneksitas) yang harmonis dengannya setiap saat melalui sensitifitas, anda dapat mengikat “ki” lawan anda dalam gerakan yang anda lakukan, seakan menjadi dua kutub magnet yang saling melekat. Bila “ki” telah menjadi milik anda, maka anda dapat menggerakkan tubuh lawan seperti menggerakkan tubuh anda sendiri. Pada kondisi seperti ini, anda tidak merasakan lagi kekuatan atau berat tubuh lawan anda. Kedua hal tersebut seperti menghilang begitu saja, pada saat anda memulai kontak pertama dengan lawan. Hal ini yang disebut dengan “ki no musubi”

Popularity: 92% [?]

October 1, 2007

Aiki no Kokoro (Jiwa dari Aiki) Bagian 1

Langkah pertama untuk mempelajari Aikido adalah untuk memahami jiwanya (spirit/ kokoro), sedangkan langkah pertama untuk mempelajari jiwa Aiki (aiki no kokoro) adalah memulainya dengan memahami diri kita sendiri. Artinya anda mempelajari tentang hati, pikiran dan tubuh kita sebagai satu kesatuan.

Popularity: 100% [?]

September 7, 2007

Seminar Ikuhiro Kubota Shihan

Seminar Ikuhiro Kubota Shihan
Graha Surveyor Indonesia, 1 & 2 September 2007

Tanggal 1 & 2 September 2007 kemarin, Aiki Kenkyukai menggelar seminar Aikido dengan pengajar utama Ikuhiro Kubota Shihan (7th Dan). Seminar di laksanakan dua hari, hari Sabtu yang diperuntukkan bagi semua level, sedangkan dihari kedua yang direncanakan untuk yudansha tapi kemudian Kubota Shihan memperbolehkan diikuti oleh peserta hingga kyu 2.

Popularity: 94% [?]

August 11, 2007

Aiki Trip: Yogya!

        Akhir Juli lalu, Hakim Sensei mendapat undangan dari Aikikai Yogya untuk menghadiri semacam martial arts seminar dan coaching clinic yang diikuti oleh banyak cabang beladiri. Beliau berangkat bersama istri (Santi Sempai) dan beberapa murid senior (Eka Sensei, Hartanto Sensei, Erik Sempai dll) juga murid-murid setia (baca: tim penggembira) dari Cipete dan Mayapada. Berikut liputannya :

Popularity: 97% [?]

June 11, 2007

Untuk Apa Kita Belajar Aikido?

Sekilas pertanyaan ini sepertinya hanya layak dilontarkan pada orang-orang yang belum atau baru saja berlatih & belajar tentang aikido. Tapi dalam satu kesempatan bercengkrama setelah latihan dengan Hakim Sensei beberapa waktu lalu, pertanyaan ini beliau lontarkan kepada semua murid yang pada waktu itu hadir, baik junior maupun senior.

Popularity: 100% [?]

Kesamaan Filosofi Aikido dengan Meditasi Lintas Agama

Dear Sensei,

Dalam perjalanan tugas ke Bali awal Juni 2007 ini saya berbincang-bincang dengan kakak Ipar saya yang merupakan penduduk asli Bali.

Secara tidak sengaja kami masuk kedalam topic Meditasi yang setelah saya dengarkan secara seksama memiliki banyak persamaan dengan filosofi Aikido yang saya terima di Dojo.

Popularity: 98% [?]

May 10, 2007

Liputan Khusus

Acara Ulang Tahun Aiki Kenkyukai ke-2 di Dojo Sportmall Kelapa Gading

Tanggal 6 Mei kemarin diadakan acara syukuran ulang tahun Aiki Kenkyukai di dojo Sportmall acara dihadiri oleh sebagian besar anggota Aiki Kenkyukai, senior-senior, para guru Aiki Kenkyukai, tamu-tamu dari Aikido Bali, Mizu dojo, Forum Pecinta Silat Indonesia, dan tamu kehormatan dari perguruan silat Cikalong Pancer Bumi.
Acara ulang tahun kali ini unik karena diisi dengan diskusi bertemakan “similaritas aikido dengan silat cikalong”. Sejak pertemuan pertama dengan silat Cikalong di bulan februari dalam acara diskusi yang diakomodir oleh Forum Pecinta Silat Indonesia, fenomena kesamaan antara Aikido dan silat Cikalong ini kerap menjadi pembahasan dikalangan aikido maupun kalangan silat. Untuk lebih memuaskan rasa ingin tahu dari anggota aikikenkyukai yang tidak sempat menghadiri pertemuan pertama, maka pada kesempatan syukuran ini Hakim Sensei mengundang saudara-saudara dari silat Cikalong Pancer Bumi untuk berbagi dan mengkaji lebih dalam tentang fenomena keharmonisan yang juga ditemukan di filosofi dan teknik silat Cikalong seperti di Aikido.

Popularity: 90% [?]

Angin Barat & Angin Timur

Sebagai orang yang mempelajari beladiri  seringkali kita kesulitan oleh apa yang kita pelajari. Maksudnya ada saat-saat dimana kita terbebani oleh keinginan untuk cepat-cepat menguasai apa yang kita pelajari. Namun kita lebih sering menemui kegagalan dan semakin kita berusaha sekuat mungkin, semakin kita merasa tidak mengerti dan tidak memahami. Akhirnya banyak diantara kita yang putus asa dan tidak ingin melanjutkan apa yang sudah kita mulai.

Popularity: 88% [?]

March 31, 2007

Wacana Internal Aiki Kenkyukai: “Aiki Kenkyukai Berbenah Diri”

1. Latar Belakang

Aiki Kenkyukai adalah komunitas perguruan seni beladiri yang sejak didirikannya menekankan pada penegakan nilai-nilai ke-ksatria-an (Budo) sehingga secara otomatis Aiki Kenkyukai sebagai sebuah komunitas bersifat non-profit. Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu hingga sekarang Aiki Kenkyukai telah berkembang menjadi komunitas yang cukup besar.

Popularity: 84% [?]

Kisah Cangkir & Teko

” Maaf, rasanya lebih baik saya latihan dengan yang lain saja, yang lebih tinggi “, reflek saya menoleh ke arah asal suara tersebut, wheew !…ternyata anak baru latihan hari ini, kontan saya tersenyum, teringat kisah tentang teko dan cangkir, yang pernah di ceritakan sensei…

Popularity: 58% [?]

March 3, 2007

Efektifkah Aikido?

Ini pertanyaan yang sering diutarakan oleh orang yang baru berlatih aikido. Bila sekilas melihat latihan aikido, wajar memang bila pertanyaan ini terlontar. Karena didalam latihan aikido kita tidak akan menemukan berbagai gaya pukulan maut atau tendangan lompat nan spektakuler. Pemandangan yang umum terlihat pada sebuah dojo aikido adalah dua orang yang berlatih berpasangan melakukan sebuah gerakan bak tarian yang anggun namun sekaligus powerful.

Popularity: 65% [?]

“Ai” Harmonisasi

Sebelum saya menekuni Aikido, konsep beladiri bagi saya adalah cara bagaimana orang yang lemah dapat menang menghadapi orang yang lebih kuat. Dalam prakteknya, orang yang lemah harus memperkuat diri dengan cara berlatih hingga menjadi cukup kuat untuk dapat mengalahkan orang yang tadinya lebih kuat dari dirinya. Namun sampai kapan kita dapat menjadi yang terkuat, tercepat dan paling cerdik? Bukankah ada pepatah diatas langit masih ada langit?

Popularity: 66% [?]

Tahap -Tahap Harmonisasi

( lanjutan artikel Ai “Harmonisasi” )
Setelah kita memahami tentang konsep harmonisasi, pertanyaan yang umumnya muncul adalah “Bagaimana?”. Bagaimana kita melatih harmonisasi? Bagaimana kita mengadaptasi pemahaman konsep kepada aplikasi sehari-hari? Untuk menjawab ini, aikido yang saya pelajari mem-breakdown harmonisasi menjadi beberapa tahap yang masing-masing tahap bersifat hirarki dimana pemahaman tentang tahap berikutnya sangat tergantung penguasaan kita pada tahap yang lebih rendah. Tahap pertama, seperti juga banyak hal lain dalam hidup kita, mulai dari diri sendiri.

Popularity: 59% [?]

Ukemi

Setiap orang yang berlatih aikido tentu sangat akrab dengan istilah ukemi. Lebih dari separuh waktu latihan kita habiskan untuk melakukan ukemi. Apa sebenarnya manfaat ukemi?. Kebanyakan dari kita pada saat menjadi uke dan melakukan ukemi, masih berpikir ukemi hanya sekedar cara menyelamatkan diri, atau cara menghindar dari cidera serius dalam latihan dan tidak lebih dari itu. Tidak sedikit juga yang termotivasi belajar berbagai bentuk ukemi yang “spektakuler” agar teknik yang dilakukan dapat terlihat lebih “dahsyat”. Apakah ini makna dari berlatih ukemi? Jika memang ukemi hanya berfungsi agar teknik aikido terlihat “heboh” seperti di film-film, bukankah sebenarnya kita hanya berlatih sebuah sandiwara bertemakan beladiri?

Popularity: 58% [?]

KIHON GENRI (PRINSIP DASAR) Bag IV

KOKYU (NAFAS)
Kokyu secara harfiah berarti “nafas”.dalam Budo “kokyu” dihubungkan dengan “energi kehidupan universal” yang terdapat dalam diri manusia, yaitu dimana “seika tanden” (hara) menjadi titik poros konsentrasi “kokyu” melaluinya, “ki” terserap dan terpancar keluar hingga menyatu dengan energi yang datang dari luar.

Popularity: 58% [?]

Konsekuensi Jalan Ksatria: Tugas, Tanggung Jawab & Pengorbanan Diri.

 

Belum lama berselang, di sebuah obrolan setelah latihan, kembali saya diingatkan tentang apa yang menjadi esensi dari latihan aikido yang saya tekuni ini. Yaitu tentang Budo atau jalan ksatria. Didalam hidup, setiap manusia diberi wewenang oleh Yang Maha Kuasa untuk memilih jalan hidupnya. Pada saat seseorang memutuskan untuk hidup di jalan tertentu, maka sebaiknya orang tersebut sudah berpikir matang-matang tentang apa konsekuensi dari menjalani hidup di jalan tersebut. Jika kemudian konsekuensi-konsekuensi jalan hidup ini tidak sanggup diterima, maka kemungkinan besar jalan tersebut akan dirasakan teramat berat dan pada akhirnya menyerah atau mencari jalan hidup yang lain.Contohnya saja seseorang yang memutuskan untuk menjalani hidupnya sebagai selebriti/public figure dengan segala kemewahan dan kehidupan glamour yang dapat diraih melalui jalan hidup sebagai selebriti namun disisi lain seorang seleb harus sanggup menanggung konsekuensi seperti kehilangan privasi kehidupan pribadi, keharusan memakai topeng dalam kehidupannya agar tetap mendapat simpati publik, dan lain-lain. Dan tidak sedikit kasus selebriti yang tidak sanggup menanggung beban konsekuensi hidup sebagai seleb dan akhirnya kehidupannya hancur bahkan bunuh diri, atau meninggalkan dunia gemerlap tersebut untuk kemudian hidup sebagai orang biasa.

Popularity: 46% [?]

KIHON GENRI (PRINSIP DASAR) Bag III

Su Chu (Fokus/ Proyeksi)

Kemampuan untuk memfokuskan seluruh elemen kekuatan material dan immaterial ke satu arah atau pun satu titik, merupakan hal yang sangat esensial dalam memahami arti “kekuatan” dalam Aiki. Bahkan pada level seseorang telah mampu memelihara “Chushin” (centre line) dengan sangat baik namun pada saat bergerak ia gagal memfokuskan seluruh elemen “kekuatan” yang ia miliki dengan baik, maka ia akan mengalami kesulitan, bahkan kegagalan dalam melakukan teknik.

Popularity: 57% [?]

Apa itu Aikido?

Apa itu Aikido?

Aikido bagi kebanyakan orang mungkin just another japanese martial arts, sebagian lagi mungkin berkomentar “Aikido itu beladirinya Steven Seagal”. Orang yang lebih mendalami beladiri mungkin dapat menilai “Aikido itu beladiri yang menggunakan teknik kuncian dan bantingan serta memanfaatkan tenaga lawan seperti judo atau jujutsu dan bukan menekankan pada pukulan atau tendangan seperti karate atau tae kwon do”. Semua penilaian diatas tidak dapat disalahkan, namun belum dapat dikatakan tepat. Layaknya menilai buah hanya dari kulitnya, kita sulit untuk menikmati durian kalau yang kita makan hanya kulitnya bukan?. Segala sesuatu tentunya jadi lebih bernilai pada saat kita mengerti hingga ke esensinya.

Popularity: 44% [?]

Tips Berkendara Ala Aikido

Kita hidup di jaman yang relatif damai, kebanyakan dari kita tidak mengisi kesehariannya dengan bertempur atau berperang. Tapi bukan berarti hidup ini lepas dari konflik. Konflik dalam kehidupan masa damai seperti ini banyak muncul dalam bentuk-bentuk yang lebih halus namun tetap merupakan sebuah konflik, yang bila tidak diselesaikan dengan baik akan berakibat buruk secara psikis maupun fisik.

Popularity: 43% [?]

KIHON GENRI (PRINSIP DASAR) Bag II

ENSHIN(POROS LINGKARAN)

Hakikat dari tehnik-tehnik Aiki adalah sebuah lingkaran yang sempurna, tidak terputus ataupun terpatahkan. Bagaikan air yang mengalir tanpa gangguan atau seperti ritme nafas kehidupan yang terus berhembus hingga akhir waktu.

Popularity: 55% [?]

Awase: Menyatukan Diri Dengan Segala Sesuatu

“Awase: Menyatukan Diri Dengan Segala Sesuatu”

Tujuan dari aikido adalah harmonisasi. Harmonisasi adalah suatu keadaan dimana segala sesuatu merupakan bagian dari satu kesatuan besar yang setiap bagiannya berjalan selaras, sesuai peran masing-masing, tanpa konflik. Melalui latihan, saya menyadari bahwa untuk dapat mewujudkan keharmonisan yang dimaksud didalam teknik dan kehidupan maka pintu pertama yang harus dilalui adalah mengerti tentang awase.

Popularity: 55% [?]

KIHON GENRI (PRINSIP DASAR)

Bag I

CHUSIN(GARIS TENGAH/CENTER LINE)

Segala sesuatu selalu memiliki garis tengah / garis pusat sebagai titik pusat tumpuan atau poros keseimbangan. Pada tubuh manusia garis pusat keseimbangan dimulai dari titik seika tanden yang berada kira-kira 3 jari dibawah pusar. Kemudian ditarik garis lurus keatas melalui bagian tengah tubuh hingga berakhir pada ubun-ubun kepala dan dari tanden ditarik garis lurus kearah bawah, sehingga jatuh tepat diantara dua kaki pada posisi Shizen Tai. Pada saat anda berkonsentrasi di garis tengah tersebut, anda akan merasa lebih seimbang, stabil dan terfokus. Posisi selanjutnya untuk melatih Chusin adalah pada posisi Kamae. Pada posisi ini anda dapat melihat dan merasakan keberadaan Chusin sebagai garis imajiner dalam latihan. Bagi para pemula, wajib untuk mengkonsentrasikan setiap gerakan dan tehnik yang mereka lakukan pada Chusin. Fokuskan tubuh, tangan, pinggang dan kaki dalam satu garis lurus. Bergeraklah secara simultan.

Popularity: 52% [?]

Aikido (baca: bela diri) identik dengan Kekerasan?

Terkadang bila kita bicara tentang bela diri dengan masyarakat awam, bela diri sering di identikkan dengan penyelesaian konflik melalui kekerasan, dan hanya membawa akibat yang buruk. Opini tersebut telah melekat pada orang-orang yang belum terbuka hati dan pikirannya untuk menyelami lebih dalam akan makna bela diri (khususnya Aikido).

Popularity: 40% [?]

Menyuarakan Pengajaran Aikido

Sekilas kita akan bertanya-tanya mengenai judul tulisan ini, apa yang dimaksud dengan menyuarakan pengajaran Aikido? Aikido saat ini muncul sebagai trend di ibukota Jakarta dan sekitarnya sehingga membuat perkembangan Aikido maju dengan pesat. Banyak dojo-dojo yang berdiri dibawah naungan organisasi Aikido yang sudah ada maupun lisensi dari luar negri.

Popularity: 40% [?]

Memahami Makna Hakama Dalam Latihan Kita

Hakama adalah pakaian tradisional Jepang yang biasa digunakan dalam seni beladiri seperti Aikido, Kendo, Jujutsu, dan Kyudo. Hakama dianggap sebagai suatu hal yang menarik bagi praktisi beladiri yang memakainya. Tidak sedikit dari praktisi beladiri tersebut yang berlatih hanya karena berambisi untuk dapat mengenakan hakama tanpa memahami maknanya. Bahkan beberapa diantaranya hanya ingin terlihat gagah atau anggun dengan hakama. Tentu saja hal ini sangatlah disayangkan.

Popularity: 39% [?]

Aikido: Kokoro No Budo

Seni Beladiri yang Datang dari Hati

Aikido adalah Budo. Banyak orang berpikir bahwa Budo adalah jalan (cara) untuk membela diri atau suatu alat yang dapat dipakai untuk membela diri. Pendapat ini tidak salah, namun juga belum sepenuhnya benar. Jika kita berpikir bahwa Budo hanya sebagai alat untuk membela diri, bahkan hewan pun dapat membela diri mereka dengan menggunakan kemampuan fisik dan naluri (insting). Oleh sebab itu, apabila manusia hanya dapat bergantung kepada kemampuan tubuh dan instingnya saja untuk membela diri, maka dimana perbedaan antara kita manusia dengan hewan?

Popularity: 38% [?]

Aikido Book Refference

 

Souvenirs