July 3, 2008
Sebuah Perenungan dalam Aikido
Sebuah Perenungan dalam Aikido
Jakarta 2 Juli 2008
I. Pendahuluan
Berikut ini adalah ‘perenungan’ saya perihal aikido yang saya ikuti sejak tahun 1993 -Jan 2000, 2004 - saat ini. Tahun 2000 - 2004 : vakum.
1993 - 2000, latihan waza tanpa mengaitkan atau diajarkan kaitannya dengan perkataan-perkataan O’Sensei.
2004-2005, sama dengan periode 1993-2000
2005-sekarang, ada pengaitan dengan esensi, hanya saja sampai dengan keluarnya perenungan ini, masih merasa “ada sesuatu “ yang mesti ‘dilakukan’ atau “dipikirkan” bersama.
II. Perkataan O’sensei
O’sensei berkata :
Fifty Six
A good stance and posture reflect a proper state of mind.
(Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens).
One Hundred One
The techniques of the Way of Peace change constantly; every encounter is unique,
and the appropriate response should emerge naturally. Today’s techniques will be
different tommorrow. Do not get caught up with the form and appearance of a
challenge. The Art of Peace has no form - it is the study of the spirit.
One Hundred Two
Ultimately, you must forget about technique. The further you progress, the fewer
teachings there are. The Great Path is really No Path.
Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens.
III. Pemahaman dari seorang Aikidoka atas Perkataan O sensei
Di perkataan no 56 (fifty six) kata intinya ada di : “reflect”. Disusun ulang bisa menjadi : “a proper state of mind is reflected in a good stance and posture”.
Kontemplasi lebih lanjut : apa yang dimaksud dengan “good stance and posture” di kalimat tersebut ?
————-
http://www2.dokidoki.ne.jp/unoaiki/Qtaa-dic.html
Fudo No Shisei : Immoveable posture, mind focused on one point, body relaxed and Ki flowing
———–
Fudo No Shisei = mind focused on one point, body relaxed and Ki flowing
Fudo No Shisei didapat dari mind focused in one point, body relaxed dan ki flowing.
Focus in one point, body relaxed dan ki flowing didapat dari proper state of mind yakni Fudoshin (Japanese: 不動心). Fudoshin is a state of equanimity or imperturbability (literally and metaphorically “immovable heart”or “immovable mind”)
Fudo No Shisei lahir dari Fudhosin.
Fudo no shisei tidak membicarakan bentuk tertentu. A good stance tidak lantas berarti posisi berdiri (stance) saja tapi bisa juga di posisi seiza (duduk). Dan kalau di’kembangkan’ lagi bahkan bisa di posisi jongkok .
Artinya fudo no shisei, a good stance and posture itu tidak terbatas oleh batasan2 fisikal (berdiri, duduk atau jongkok). Tidak terbatas di tegaknya punggung atau bungkuknya punggung. Kita juga bisa saksikan (melalui film atau langsung) bahwa dalam mengeksekusi shihonage terlihat O’sensei atau shihan2 membungkukkan punggungnya ketika memutar tangan di atas kepala.
Proper state of mind adalah esensi.
State of mind nya adalah : awase, ki no musubi dan mushin atau malah bisa terangkum di satu kata saja yakni mushin.
State of mind atau mind sejatinya adalah bebas. Mind tidak terbatas oleh bentuk, oleh materi. Ketika mind terbatas oleh bentuk/materi maka matilah mind itu.
Aikido melatih mind untuk kembali bebas. Mind over matter. Oleh karena itu, O’sensei selanjutnya berkata :
Mind, proper state of mind atau esensi terefleksi di good stance and posture. Good stance and posture bukan bentuk fisikal tertentu, missal kaki jaraknya sekian cm, punggung tegaknya sekian tegak, tangan di posisi ttt dll, tapi lebih ke non fisikal (abstrak) yakni fudo no shisei : Immoveable posture, yakni : mind focused on one point, body relaxed and Ki flowing
Fudoshisei bukan di masalah punggung tegak atau langkah kaki harus sekian derajat dll.
Fudhosin atau esensi (awase, musubi dan mushin) bisa terlihat di posisi fisikal berdiri, duduk atau bahkan tiduran (tergeletak). Good stance and posture, immoveable posture bisa di tiap posisi fisikal, entah tegak lurus, duduk atau bahkan jongkok.
Sama halnya penghormatan tidak harus ditunjukkan dengan sikap membungkuk karena dalam keadaan berdiri tegak pun penghormatan bisa dilakukan.
III.1 Lahirnya Esensi dan Penyampaiannya
Sebelum menemukan Aikido, O’sensei itu mempelajari banyak ilmu beladiri dan semuanya dalam mind setting : ada musuh yg harus dihadapi. Semua jurus adalah jurus2 untuk melumpuhkan musuh (seefektif dan seefisien mungkin). Lalu dia mengalami pencerahan, Ai-ki-do, the way of harmony with ki, yang memiliki mind setting yang adalah kebalikan dari semua ilmu2 yang pernah dipelajarinya, musuh bukan lagi dipikir/dipandang sebagai musuh tapi sebagai bagian dari diri (embrace, awase, ki no musubi).
Mitsugi Saotome Shihan (salah satu murid langsung dia) di buku nya : Aikido and Harmony of Nature menulis O’sensei berkata : “there is no enemy of ai (love)”.
Yang didapatkan oleh O sensei itu adalah suatu pencerahan/enlightment, sesuatu yang abstrak dan dia ingin membagikan pencerahannya itu ke murid2nya.
Sesuatu yang abstrak (esensi) yang akan disampaikannya tersebut membutuhkan alat bantu sehingga dia memilih waza2 yang pernah dipelajarinya sebelum dia mendapatkan pencerahan (tehnik2 dari ilmu2 nya dulu).
Waza diberi muatan/konten/spirit yang berbeda, waza adalah sebagai alat bantu, bukan lagi yang hendak dikuasai (mastering). Sehingga dia katakan “Aikido is not about technique”.
Kalau boleh dianalogikan, misalnya rasa (analog pencerahan) yang timbul di hati seseorang, lalu dia hendak mengkomunikasikan rasa itu pada orang lain. Maka kemudian orang itu menggunakan alat bantu, yakni perkataan (bahasa) atau benda-benda, misalnya untuk mengungkapkan rasa sayang lalu berkata : “sayang” atau memberikan bunga/perhiasan.
O’sensei meminjam/menggunakan apa yang telah diketahuinya, yang dipelajarinya sebelumnya yakni waza2/tehnik2 yang dipelajarinya.
O’sensei berangkat dengan latar belakangnya, kata/bahasa yang digunakannya adalah bahasa Jepang, karenanya digunakanlah bahasa Jepang : “ki no musubi”, “awase” dan “mushin” dan untuk menyampaikan hal itu, dia menggunakan waza (tehnik).
Tehnik (waza) adalah sarana, adalah alat untuk mewakili esensi.
Tehnik bukan lagi gerakan fisikal semata, bahkan bisa kita katakan tehnik kehilangan maknanya yang ‘dulu’ (untuk melumpuhkan, mematahkan, mengunci atau mengalahkan penyerang).
Dalam shihonage, four corner throw, bukan tehnik itu yang melumpuhkan uke, yang menjatuhkan uke.
Bukan nage yang menjatuhkan uke. Uke unbalance, uke lumpuh atau terjatuh adalah karena ulahnya sendiri, karena berada di ketidakharmonian, yakni dengan pikirannya/niatnya untuk menyerang nage.
O’sensei bilang ( di “Harmony of Nature” nya Mitsugi Saotome) : berfikir akan adanya musuh sudah mengalahkan si pemikir itu.
Nage “tidak ada”. Nage tidak terpisah dengan alam, dengan harmony, bahkan nage meng-embrace uke. Karena nage tidak ada, tidak terpisah, maka tidak ada tehnik yang dieksekusi oleh nage. Nage tidak melakukan apa-apa, selain membawa uke dalam harmony, yang mana nage itu sendiripun bukanlah si harmony itu sendiri, nage hanya menyatukan dirinya dengan harmony. Dan,harmony tidak melakukan apa-apa. Harmony hanya meng-ada, hanya ada.
Sebelum menyerang, uke berada dalam harmony juga, dalam ke-ada-an juga, namun ketika dia memilih untuk menyerang, maka dia memilih untuk mengingkari ke-ber-ada-annya, melawan dirinya sendiri, ini adalah konflik.
Karena nage tidak ada, maka tehnik tidak ada. Bukan gerakan fisikal tertentu yang membuat uke unbalance, membuat uke lumpuh atau terjatuh tapi itu semua ulahnya uke sendiri yang berniat menyerang, yang berada dalam disharmony.
Unbalancenya uke, lumpuhnya uke atau jatuhnya uke ini sudah terjadi sejak awal si uke memiliki a mind of discord, pikiran/niat yang disharmony, “jauh” sebelum tangannya terangkat ke atas untuk melakukan shomen, sebelum tangannya melakukan yokomen, sebelum dia melakukan katate atau ushiro ryo katate, atau tsuki.
Pada nage, “gerakan fisikal/bentuk” dari waza adalah indikasi/peng-lihatan bagi uke (dan bagi yang lainnya) apa yang terjadi di tataran pikiran/niat itu.
Redirecting ki, atau pelumpuhan yang seolah2 dilakukan nage itu sejatinya adalah uke melumpuhkan dirinya sendiri (ketika berbenturan dengan harmony, dengan nage).
Hara naik, hara turun, exploding, loosening dll adalah untuk menunjukkan bahwa disharmony adalah kehancuran, adalah pelemahan diri sendiri, adalah ‘kematian’ bagi uke.
Adapun pada pengamat, karena bukan pihak yang mengalami disharmony (menyerang)/menjadi uke dan menerima harmoni-sasi, maka pengamat bisa salah dalam menyimpulkan, yakni seolah2 uke unbalance, lumpuh atau jatuh adalah karena gerakan fisikal dari si nage, karena jurus/waza yang dilakukan oleh nage.
Pengamat bisa dengan mudah terjebak di mengandalkan bentuk/jurus/waza.
Dalam shihonage, pengamat mungkin akan berfikir : “karena tangannya diarahkan ke bawah maka uke jatuh”, padahal tidak demikian. Uke jatuh karena dia melawan dirinya sendiri, berada dalam disharmony, menyerang nage.
Gerakan tangan ke bawah (shihonage) hanya penggambaran dari abstrak itu (disharmony uke).
Bukan gerakan tangan itu intinya, bukan sudutnya, bukan seberapa jauh tangannya direntang, bukan seberapa dekat tangan itu dari nage, bukan seberapa bengkok sikunya mesti dibengkokkan, bukan harus diletakkan didepan nage dan lain-lain bentuk2/aturan2 fisikal lainnya.
Waza bukan lagi gerakan yang melumpuhkan uke, karena toh the fight is finished before it’s begun.
Kurang lebih sama aja dengan penggunaan kata/bahasa untuk menyampaikan rasa yang kita alami, misalnya pada rasa sayang kita gunakan kata “sayang” atau rasa kruyuk2 di perut kita gunakan kata “lapar”. Bukan kata2 itu intinya, intinya adalah rasa sayang dan lapar.
Tanpa berkata2 pun bisa, misalnya dengan menunjuk perut atau dengan memberi bunga (sayang) atau berkata2 tapi menggunakan bahasa Inggris.
Sama halnya dengan kata “sayang” dan “lapar”, maka menunjuk perut atau memberi bunga itu bukan intinya juga, intinya adalah rasa (rasa lapar dan rasa sayang). Karena bisa saja menunjuk perut tapi bukan karena lapar atau memberi bunga bukan karena sayang.
One Hundred Two
Ultimately, you must forget about technique. The further you progress, the fewer
teachings there are. The Great Path is really No Path.
Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens.
Waza adalah alat/sarana, waza adalah untuk melatih mempertahankan esensi (awase, musubi dan mushin). Yang mana harapannya adalah kalau di sepanjang waza kita bisa mempertahankan esensi itu maka kita jadi terbiasa dan akhirnya bisa mempertahankannya atau menerapkannya dalam kehidupan sehari2 di luar dojo. Sepanjang hari, sepanjang hidup adalah awase, musubi dan mushin.
Shihonage adalah waza tersulit untuk mempertahankan esensi karena ada muternya, ada membelakangi uke yang bisa menyebabkan koneksi kita (awase) kita putus. Ketika sudah dalam posisi menjatuhkan tangan, ego nage bisa muncul.
III.2 Pengajaran Esensi ?
1. Dengan teori-teori, dengan wejangan2, ini untuk pikiran, untuk mind setting. Untuk pikiran agar mendapatkan gambaran.
2. Dengan memberikan/transfer rasa /esensi itu atau pemberi (sempai/sensei) menjadi esensi itu sendiri. Ini untuk “memasukkan” esensi ke uke, merealisasikan esensi di uke (kalau uke mau).
Pengajar yang hendak mengajarkan/menjelaskan tentang esensi maka si pengajar itu mesti sudah menjadi esensi itu sendiri. Sehingga murid tidak cuma mendapatkan teori2 yang adalah hanya untuk intelek saja,untuk pikiran saja.
“Susah dong ?”
Ya benar susah, yakni bagi pengajar yang cuma tahu teori2nya aja.
Pengajaran esensi harus dilakukan oleh essenser. Penjelasan/pengajaran tentang mangga harus dilakukan oleh “mangga” itu sendiri. Kata-kata dan teori2 tidak bisa membuat orang paham rasa mangga. Rasa mangga hanya bisa didapatkan kalau memakan mangga. Sehingga pengajar haruslah memang sudah merupakan “mangga” yang bisa dirasakan oleh pendengar ajaran tentang mangga.
Yang diajarkan adalah esensi dengan alat bantu waza.
Waza adalah alat, sekedar alat, bukan yang hendak dikuasai. Waza adalah sarana bantu memahami/mempertahankan esensi (yg abstrak). Dan karena waza adalah alat bantu maka tidak ada waza standar, tidak ada waza yang sama walau sama-sama katatetori shihonage, karena tidak ada uke yang sama, bahkan nage hari ini berbeda dengan nage kemarin, nage ketika berhadapan dengan uke A berbeda dengan nage (orang yg sama) ketika berhadapan dengan uke B
Bentuk waza hanya guidelines umum, katate tori = pegangan satu tangan. Shihonage =four corner throw
One Hundred One
The techniques of the Way of Peace change constantly; every encounter is unique,
and the appropriate response should emerge naturally. Today’s techniques will be
different tommorrow. Do not get caught up with the form and appearance of a
challenge. The Art of Peace has no form - it is the study of the spirit.
IV. Bagaimana kita tahu bahwa esensi sudah dipahami ? sudah dimengerti ? sudah terinternalisasi ?
Ini tidak bisa dicek/dilihat dengan apa yang terlihat (indra penglihatan), tidak bisa diamati. Pemahaman esensi/internalisasi esensi bisa diketahui dengan dirasakan !.
Sama halnya kita tidak bisa menilai orang dari tampilan fisiknya (dengan dilihat fisikalnya saja misalnya pakaiaannya rapih, tingkahnya santun, bahasanya halus), tapi harus dari mengenali “rasanya” orang itu, yakni dengan mengenali pribadinya. Dikatakan pohon dikenali dari buahnya. Ini berarti buah itu mesti dirasakan, bukan cuma dari melihatnya saja. Mesti dirasakan, mesti dimakan.
Tapi, bukankah pakaian yang rapih/bersih, tingkah yang santun dan bahasa yang halus dapat menggambarkan kepribadian (rasa/esensi) orang itu ? ya benar, tapi jangan sampai “bablas”/keterusan, esensi memang bisa terlihat di fisikal, namun tidak berarti fisikal mencerminkan esensi.
Mengapa demikian ? karena fisikal bisa saja sandiwara, sama saja dengan eksekusi waza, bisa dilakukan dengan sandiwara, sama halnya seperti adegan berkelahi di film-film… kayaknya beneran padahal diatur2 alias sandiwara.
Jadi bagaimana tahunya bahwa aikidoka sudah memahami esensi ? sudah menginternalisasi esensi ? ya rasakan si aikidoka itu, seperti halnya kita makan buah.
Esensi adalah rasa, sehingga untuk tahu rasa ya dirasakan, bukan ditonton/dilihat.:-)
Ujiannya repot dong ? ya memang !, penguji mesti merasakan satu-satu tiap aikidoka yang diujinya. Ya sama aja kayak ki-test. Ki test ya mesti dilakukan penguji, bukan ditonton.
Dalam ujian maka ujian adalah pada saat aikidoka menjadi nage (konsiten dengan ki-test).
Aikidoka menjadi uke :
Ketika menjadi uke, maka uke tidak diuji, artinya kalau si uke sudah kecapaian (apalagi pakai hara-to hara, esensi) yang sangat menguras tenaga uke, maka uke bisa digantikan oleh yang lainnya.
Uke tidak sedang diuji semangat juangnya (fighting spirit) karena uke berada dalam posisi disharmony, semangat juang bukanlah semangat juang dalam disharmony, semangat juang melawan. Semangat juang dalam disharmony adalah suatu kesia-siaan.
Satu-satunya yang bisa didapatkan ketika aikidoka menjadi uke adalah pelemahan fisik si aikidoka dengan tujuan pengujian ketika dia menjadi nage (kalau mau menepuh pelemahan fisikal dengan metode ini). Perlu hati2 juga jangan sampai uke jadi terlalu lemah bahkan sampai pingsan, karena dia malah nggak bisa perform sebagai nage yang bisa mempertahankan awase, musubi dan mushin.
Aikidoka menjadi Nage :
Pengujian pemahaman esensi dan fighting spirit.
Ini diuji ketika Aikidoka menjadi nage. Ketika dia adalah harmony atau berupaya mempertahankan harmony (awase, ki no musubi dan mushin).
Hancurkanlah harmony si nage, dengan berbagai cara, fisikal dan mental-spiritual.
Sama halnya seperti di medan pertempuran, semangat tempur, semangat juang, fighting spirit itu bisa hancur oleh berbagai sebab. Kondisi alam, jumlah musuh yang lebih banyak, gugurnya prajurit2, luka yang dialami/diderita dll, keluarganya disandera atau bahkan terbunuh dll.
Di dojo ? di ujian ?
Fisikal : lemahkan fisik si nage.
Cara ?
1. Jadikan aikidoka sebagai uke terlebih dahulu.
2. Bikin nage lapar dan haus : minta datang ke ruang ujian pagi-pagi, tapi ujian dimulai siang atau sore hari dan siangnya tidak diperbolehkan makan. .
Kemudian nage menghadapi uke yang sehat2 dan kenyang-kenyang, muda2 dan kuat2 . Ini ujian bagi nage, bukan bagi uke
Perut yang lapar dan kehausan akan mudah melemahkan mental-spiritual si nage, melemahkan fighting spiritnya.
Lokasi/medan pertempuran : ujian dilakukan di tempat yang panas atau dingin.
Sekedar usul…
Ujian bagi kyu2 awal (5 dan 4) :
1.Durasinya tidak terlalu panjang (missal 15 -30 menit nonstop), uke yang menyerang bisa satu atau dua atau lebih bergatian, tujuan : demi nonstopnya si nage memperlihatkan esensi. Uke nya mesti selalu yang segar, yang fit, uke yang sudah kecapean tidak begitu bermanfaat, karena menyerangnya saja sudah nggak focus (tidak powerfull lagi). Di dunia nyata juga begitu, tidak ada penyerang yang lemah/kecapean.
2. Pelemahan fisikal sebelumnya : menjadi uke nonstop selama 10 menit (lihat kondisi fisikal si uke juga, umur, jenis kelamin dll) atau pelemahan dengan puasa makan siang (supaya bisa diobservasi kebenaran tidak makannya).
Ujian bagi kyu 3,2,1
1.Durasinya lebih panjang (missal 30 menit – 1 jam nonstop), uke yang menyerang dua orang atau lebih bergatian, tujuan : demi nonstopnya si nage memperlihatkan esensi. Uke nya mesti selalu yang segar, yang fit, uke yang sudah kecapean tidak begitu bermanfaat, karena menyerangnya saja sudah nggak focus (tidak powerfull lagi). Di dunia nyata juga begitu, tidak ada penyerang yang lemah/kecapean.
2. Pelemahan fisikal sebelumnya : menjadi uke nonstop selama 20 menit/lebih (tergantung tingkatan kyu) (lihat kondisi fisikal si uke juga, umur, jenis kelamin dll) atau pelemahan dengan puasa makan siang (supaya bisa diobservasi kebenaran tidak makannya).
3. Penggunaan negative ki. Yakni dari Ki (pikiran) penonton/peserta ujian yang belum ujian/dari penguji. Pada tingkatan yang lebih tinggi, penonton diminta untuk memandang rendah/mencela nage, melontarkan ki negative ke nage (contoh : “ah payah kamu”… “alah apa sih bisanya loe” dll). Ini adalah ujian fighting spirit, sebagaimana halnya bisa kita temui di kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang memandang rendah, yang mencibir upaya/ikhtiar kita.
4.Pengalihan2 atau penghancuran ki no musubi, awase dan mushin nage bisa dilakukan dengan cara-cara lainnya, semua yang terkait dengan ego nage bisa digunakan.
5. Ujian bisa juga dimodifikasi dengan membuat hambatan fisikal tertentu, misalnya menutup mata nage, mengikat tangan/kakinya dll.
Waza tidak diuji di ujian, maksudnya, bentuk waza bukanlah sesuatu yang dinilai/faktor penentu kelulusan. Waza toh diperkenalkan di kala latihan. Ini konsisten dengan makna Aikido. Aikido is not about technique. Yang diuji adalah esensi.
Terserah si nage aja mau pakai waza atau tidak.
Yang bisa menunjukkan esensi plus bentuk yang terlihat jelas, akan mendapat nilai lebih, yakni (kalau si aikidoka mau) dia bisa meneruskan tradisi esensi (aikido) dengan waza, dia bisa mengajar Aikido dengan tradisi O’sensei.
Yang no touch atau bentuknya tidak terlalu terlihat jelas, namun ukenya lumpuh atau jatuh maka dia lulus, tapi tidak diperkenankan mengajar aikido (esensi) versi O’Sensei (Tradisi O’Sensei).
Ini konsisten dengan O’sensei yang mengajarkan esensi dengan bantuan (bentuk) waza2 di aikido.
Kalau dia mau ‘ngajar esensi dengan batuan/alat gerakan senam kesegaran jasmani atau gerakan silat (misalnya) maka ya silahkan saja .
Di kehidupan sehari2, orang bisa kita katakan mengerti aikido (esensi aikido) walaupun dia tidak sedang mempraktekkan waza tertentu, misalnya ketika dia berdebat/diskusi dengan atasannya atau rekan kerjanya. Ketika dia menunjukkan esensi mushin, awase dan musubi maka dia lulus aikido, walau dia tidak melakukannya dengan gerakan2 waza. Orang tersebut memahami atau menguasai aikido.
Untuk mengajarkannya pada orang lain, maka kalau mengikuti tradisi O’sensei dia mesti mengikuti bentuk2 waza (bentuk tehnik yang diketahui O sensei) baru dia bisa diakui/dikatakan sebagai pengajar Aikido tradisi O’Sensei. Kalau dia mau pakai bentuk/form yang lain maka dia dikatakan mengajarkan Aikido dengan tradisi lainnya. Esensinya sama (Aikido : awase, musubi dan mushin) tradisi (formnya) saja yang berbeda (tradisi O’sensei atau tradisi versi A, versi B, versi C dstnya).
Sama halnya dengan rasa. Rasanya sama, yakni lapar, cuma kata yang digunakan berbeda, satu pakai bahasa jepang satunya lagi pakai bahasa Indonesia atau Inggris atau bahasa Jawa.
Aikido ada di dalam tiap bentuk (any form) sebagaimana Aikido ada di dalam dojo maupun di luar dojo. Mushin, awase, musubi ada di mana-mana walau bentuknya (form/waza) berbeda2.
One Hundred Two
Ultimately, you must forget about technique. The further you progress, the fewer
teachings there are. The Great Path is really No Path.
Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens.
Jakarta, 2 Juli 2008
Domo Arigato Gozaimas..
R
Popularity: 1% [?]
