Seminar Aikido Yoshinobu Takeda Shihan

July 3, 2008

Sebuah Perenungan dalam Aikido

Sebuah Perenungan dalam Aikido

Jakarta 2 Juli 2008


I.    Pendahuluan

Berikut ini adalah ‘perenungan’ saya perihal aikido yang saya ikuti sejak tahun 1993 -Jan 2000, 2004 - saat ini. Tahun 2000 -  2004 : vakum.
1993 - 2000, latihan waza tanpa mengaitkan atau diajarkan kaitannya dengan perkataan-perkataan O’Sensei.
2004-2005, sama dengan periode 1993-2000
2005-sekarang, ada pengaitan dengan esensi, hanya saja sampai dengan keluarnya perenungan ini, masih merasa “ada sesuatu “ yang mesti ‘dilakukan’ atau “dipikirkan” bersama.

II.    Perkataan O’sensei 
O’sensei berkata :
Fifty Six
A good stance and posture reflect a proper state of mind.
(Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens).

One Hundred One
The techniques of the Way of Peace change constantly; every encounter is unique,
and the appropriate response should emerge naturally. Today’s techniques will be
different tommorrow. Do not get caught up with the form and appearance of a
challenge. The Art of Peace has no form - it is the study of the spirit.

One Hundred Two
Ultimately, you must forget about technique. The further you progress, the fewer
teachings there are. The Great Path is really No Path.
Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens.

III.    Pemahaman dari seorang Aikidoka atas Perkataan O sensei
Di perkataan no 56 (fifty six) kata intinya ada di : “reflect”.  Disusun ulang bisa menjadi : “a proper state of mind is reflected in a good stance and posture”.
Kontemplasi lebih lanjut : apa yang dimaksud dengan “good stance and posture”  di kalimat tersebut ?
————-
http://www2.dokidoki.ne.jp/unoaiki/Qtaa-dic.html
Fudo No Shisei : Immoveable posture, mind focused on one point, body relaxed and Ki flowing
———–
Fudo No Shisei = mind focused on one point, body relaxed and Ki flowing
Fudo No Shisei didapat dari mind focused in one point, body relaxed dan ki flowing.
Focus in one point, body relaxed dan ki flowing didapat dari proper state of mind yakni  Fudoshin (Japanese: 不動心). Fudoshin is a state of equanimity or imperturbability (literally and metaphorically “immovable heart”or “immovable mind”)
Fudo No Shisei lahir dari Fudhosin.
Fudo no shisei tidak membicarakan bentuk tertentu. A good stance tidak lantas berarti posisi berdiri (stance) saja tapi bisa juga di posisi seiza (duduk). Dan kalau di’kembangkan’ lagi bahkan bisa di posisi jongkok .
Artinya fudo no shisei, a good stance and posture itu tidak terbatas oleh batasan2 fisikal (berdiri, duduk atau jongkok). Tidak terbatas di tegaknya punggung atau bungkuknya punggung. Kita juga bisa saksikan (melalui film atau langsung) bahwa dalam mengeksekusi shihonage terlihat O’sensei atau shihan2 membungkukkan punggungnya ketika memutar tangan di atas kepala.
Proper state of mind adalah esensi.
State of mind nya adalah :  awase, ki no musubi dan mushin atau malah bisa terangkum di satu kata saja  yakni mushin.
State of mind atau mind sejatinya adalah bebas. Mind tidak terbatas oleh bentuk, oleh materi. Ketika mind terbatas oleh bentuk/materi maka matilah mind itu.
Aikido melatih mind untuk kembali bebas. Mind over matter.  Oleh karena itu, O’sensei selanjutnya berkata :

Mind, proper state of mind atau esensi terefleksi di good stance and posture. Good stance and posture bukan bentuk fisikal tertentu, missal kaki jaraknya sekian cm, punggung tegaknya sekian tegak, tangan di posisi ttt dll,  tapi lebih ke non fisikal (abstrak) yakni fudo no shisei : Immoveable posture, yakni : mind focused on one point, body relaxed and Ki flowing
Fudoshisei bukan di masalah punggung tegak atau langkah kaki harus sekian derajat dll.
Fudhosin atau esensi (awase, musubi dan mushin) bisa terlihat di posisi fisikal berdiri, duduk atau bahkan tiduran (tergeletak). Good stance and posture, immoveable posture bisa di tiap posisi fisikal, entah tegak lurus, duduk atau bahkan jongkok.
Sama halnya penghormatan tidak harus ditunjukkan dengan sikap membungkuk karena dalam keadaan berdiri tegak pun penghormatan bisa dilakukan.

III.1 Lahirnya Esensi dan Penyampaiannya

Sebelum menemukan Aikido, O’sensei itu mempelajari banyak ilmu beladiri dan semuanya dalam mind setting : ada musuh yg harus dihadapi. Semua jurus adalah jurus2 untuk melumpuhkan musuh  (seefektif dan seefisien mungkin). Lalu dia mengalami pencerahan, Ai-ki-do, the way of harmony with ki, yang memiliki mind setting yang adalah kebalikan  dari semua ilmu2 yang pernah dipelajarinya, musuh bukan lagi dipikir/dipandang sebagai musuh tapi sebagai bagian dari diri (embrace, awase, ki no musubi).
Mitsugi Saotome Shihan (salah satu murid langsung dia) di buku nya : Aikido and Harmony of Nature menulis  O’sensei berkata : “there is no enemy of ai (love)”.
Yang didapatkan oleh O sensei itu adalah suatu pencerahan/enlightment, sesuatu yang abstrak dan dia ingin membagikan pencerahannya itu ke murid2nya.
Sesuatu yang abstrak (esensi) yang akan disampaikannya tersebut membutuhkan alat bantu sehingga dia memilih waza2 yang pernah dipelajarinya sebelum dia mendapatkan pencerahan (tehnik2 dari ilmu2 nya dulu).
Waza diberi muatan/konten/spirit yang berbeda, waza adalah sebagai alat bantu, bukan lagi yang hendak dikuasai (mastering). Sehingga dia katakan “Aikido is not about technique”.
Kalau boleh dianalogikan, misalnya rasa (analog pencerahan) yang timbul di hati  seseorang, lalu dia hendak mengkomunikasikan rasa itu pada orang lain. Maka kemudian orang itu menggunakan alat bantu, yakni perkataan (bahasa) atau  benda-benda, misalnya untuk mengungkapkan rasa sayang lalu berkata : “sayang” atau  memberikan bunga/perhiasan.
O’sensei meminjam/menggunakan apa yang telah diketahuinya, yang dipelajarinya sebelumnya yakni waza2/tehnik2 yang dipelajarinya.
O’sensei berangkat dengan latar belakangnya, kata/bahasa yang digunakannya adalah bahasa Jepang, karenanya digunakanlah bahasa Jepang : “ki no musubi”, “awase” dan “mushin” dan untuk menyampaikan hal itu, dia menggunakan waza (tehnik).
Tehnik (waza) adalah sarana, adalah alat untuk mewakili esensi.
Tehnik bukan lagi gerakan fisikal semata, bahkan bisa kita katakan tehnik kehilangan maknanya yang ‘dulu’ (untuk melumpuhkan, mematahkan, mengunci atau mengalahkan penyerang).
Dalam shihonage, four corner throw, bukan tehnik itu yang melumpuhkan uke, yang menjatuhkan uke.
Bukan nage yang menjatuhkan uke.  Uke unbalance, uke lumpuh atau terjatuh adalah karena ulahnya sendiri, karena berada di ketidakharmonian, yakni dengan pikirannya/niatnya untuk menyerang nage.
O’sensei bilang ( di “Harmony of Nature” nya Mitsugi Saotome) : berfikir akan adanya musuh sudah mengalahkan si pemikir itu.
Nage “tidak ada”. Nage tidak terpisah dengan alam, dengan harmony, bahkan nage meng-embrace uke. Karena nage tidak ada, tidak terpisah, maka tidak ada tehnik yang dieksekusi oleh nage. Nage tidak melakukan apa-apa, selain membawa uke dalam harmony, yang mana nage itu sendiripun bukanlah si harmony itu sendiri, nage hanya menyatukan dirinya dengan harmony.  Dan,harmony tidak melakukan apa-apa. Harmony hanya meng-ada, hanya ada.
Sebelum menyerang, uke berada dalam harmony juga, dalam ke-ada-an juga, namun ketika dia memilih untuk menyerang, maka dia memilih untuk mengingkari ke-ber-ada-annya, melawan dirinya sendiri, ini adalah konflik.
Karena nage tidak ada, maka tehnik tidak ada. Bukan gerakan fisikal tertentu yang membuat uke unbalance, membuat uke lumpuh atau terjatuh tapi itu semua ulahnya uke sendiri yang berniat menyerang, yang berada dalam disharmony.
Unbalancenya uke, lumpuhnya uke atau jatuhnya uke ini sudah terjadi sejak awal si uke memiliki a mind of discord, pikiran/niat yang disharmony, “jauh” sebelum tangannya terangkat ke atas untuk melakukan shomen, sebelum tangannya melakukan yokomen, sebelum dia melakukan katate atau ushiro ryo katate, atau tsuki.
Pada nage, “gerakan fisikal/bentuk” dari waza adalah indikasi/peng-lihatan bagi uke (dan bagi yang lainnya) apa yang terjadi di tataran pikiran/niat itu.
Redirecting ki, atau pelumpuhan yang seolah2 dilakukan nage itu sejatinya adalah uke melumpuhkan dirinya sendiri (ketika berbenturan dengan harmony, dengan nage).
Hara naik, hara turun, exploding, loosening dll adalah untuk menunjukkan bahwa disharmony adalah kehancuran, adalah pelemahan diri sendiri, adalah ‘kematian’ bagi uke.
Adapun pada pengamat, karena bukan pihak yang mengalami disharmony (menyerang)/menjadi uke dan menerima harmoni-sasi, maka  pengamat bisa salah dalam menyimpulkan, yakni seolah2 uke unbalance, lumpuh atau jatuh adalah karena gerakan fisikal dari si nage, karena jurus/waza yang dilakukan oleh nage.
Pengamat bisa dengan mudah terjebak di mengandalkan bentuk/jurus/waza.
Dalam shihonage, pengamat mungkin akan berfikir : “karena tangannya diarahkan ke bawah maka uke jatuh”, padahal tidak demikian. Uke jatuh karena dia melawan dirinya sendiri, berada dalam disharmony, menyerang nage.
Gerakan tangan ke bawah (shihonage) hanya penggambaran dari abstrak itu (disharmony uke).
Bukan gerakan tangan itu intinya, bukan sudutnya, bukan seberapa jauh tangannya direntang, bukan seberapa dekat tangan itu dari nage, bukan seberapa bengkok sikunya mesti dibengkokkan, bukan harus diletakkan didepan nage dan lain-lain bentuk2/aturan2 fisikal lainnya.
Waza bukan lagi gerakan yang melumpuhkan uke, karena toh the fight is finished before it’s begun.
Kurang lebih sama aja dengan penggunaan kata/bahasa untuk menyampaikan rasa yang kita alami, misalnya pada rasa sayang kita gunakan kata “sayang” atau rasa kruyuk2 di perut kita gunakan kata “lapar”.  Bukan kata2 itu intinya, intinya adalah rasa sayang dan lapar.
Tanpa berkata2 pun bisa, misalnya dengan menunjuk perut atau dengan memberi bunga (sayang) atau berkata2 tapi menggunakan bahasa Inggris.
Sama halnya dengan kata “sayang” dan “lapar”, maka menunjuk perut atau memberi bunga itu bukan intinya juga, intinya adalah rasa (rasa lapar dan rasa sayang). Karena bisa saja menunjuk perut tapi bukan karena lapar atau memberi bunga bukan karena sayang.

One Hundred Two
Ultimately, you must forget about technique. The further you progress, the fewer
teachings there are. The Great Path is really No Path.
Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens.

Waza adalah alat/sarana, waza adalah  untuk melatih mempertahankan esensi (awase, musubi dan mushin). Yang mana harapannya adalah kalau di sepanjang waza kita bisa mempertahankan esensi itu maka kita jadi terbiasa dan akhirnya bisa mempertahankannya atau menerapkannya dalam kehidupan sehari2 di luar dojo. Sepanjang hari, sepanjang hidup adalah awase, musubi dan mushin.
Shihonage adalah waza tersulit untuk mempertahankan esensi karena ada muternya, ada membelakangi uke yang bisa menyebabkan koneksi kita (awase) kita putus.  Ketika sudah dalam posisi menjatuhkan tangan, ego  nage bisa muncul.

III.2 Pengajaran  Esensi ?
1.    Dengan teori-teori, dengan wejangan2, ini untuk pikiran, untuk mind setting. Untuk pikiran agar mendapatkan gambaran.
2.    Dengan memberikan/transfer rasa /esensi itu atau pemberi (sempai/sensei) menjadi esensi itu sendiri. Ini untuk “memasukkan” esensi ke uke, merealisasikan esensi di uke (kalau uke mau).
Pengajar yang hendak mengajarkan/menjelaskan tentang esensi maka si pengajar itu mesti sudah menjadi esensi itu sendiri. Sehingga murid tidak cuma mendapatkan teori2 yang adalah hanya untuk intelek saja,untuk pikiran saja.
“Susah dong ?”
Ya benar susah, yakni  bagi pengajar yang cuma tahu teori2nya aja.
Pengajaran esensi harus dilakukan oleh essenser. Penjelasan/pengajaran tentang mangga harus dilakukan oleh “mangga” itu sendiri.  Kata-kata dan teori2 tidak bisa membuat orang paham rasa mangga. Rasa mangga hanya bisa didapatkan kalau memakan mangga. Sehingga pengajar haruslah memang sudah merupakan “mangga” yang bisa dirasakan oleh pendengar ajaran tentang mangga.
Yang diajarkan adalah esensi dengan alat bantu waza.
Waza adalah alat, sekedar alat, bukan yang hendak dikuasai. Waza adalah sarana bantu memahami/mempertahankan esensi (yg abstrak).  Dan karena waza adalah alat bantu maka tidak ada waza standar, tidak ada waza yang sama walau sama-sama katatetori shihonage, karena tidak ada uke yang sama, bahkan nage hari ini berbeda dengan nage kemarin, nage ketika berhadapan dengan uke A berbeda dengan nage (orang yg sama) ketika berhadapan dengan uke B 
Bentuk waza hanya guidelines umum, katate tori = pegangan satu tangan. Shihonage =four corner throw
One Hundred One
The techniques of the Way of Peace change constantly; every encounter is unique,
and the appropriate response should emerge naturally. Today’s techniques will be
different tommorrow. Do not get caught up with the form and appearance of a
challenge. The Art of Peace has no form - it is the study of the spirit.

IV.    Bagaimana kita tahu bahwa esensi sudah dipahami ? sudah dimengerti ? sudah terinternalisasi ?

Ini tidak bisa dicek/dilihat dengan apa yang terlihat (indra penglihatan), tidak bisa diamati. Pemahaman esensi/internalisasi esensi bisa diketahui dengan  dirasakan !. 
Sama halnya kita tidak bisa menilai orang dari tampilan fisiknya (dengan dilihat fisikalnya saja misalnya pakaiaannya rapih, tingkahnya santun, bahasanya halus), tapi harus dari mengenali “rasanya” orang itu, yakni dengan mengenali pribadinya. Dikatakan pohon dikenali dari buahnya. Ini berarti buah itu mesti dirasakan, bukan cuma dari melihatnya saja. Mesti dirasakan, mesti dimakan.
Tapi, bukankah pakaian yang rapih/bersih, tingkah yang santun dan bahasa yang halus dapat menggambarkan kepribadian (rasa/esensi) orang itu ? ya benar, tapi jangan sampai “bablas”/keterusan, esensi memang bisa terlihat di fisikal, namun tidak berarti fisikal mencerminkan esensi.

Mengapa demikian ? karena fisikal bisa saja sandiwara, sama saja dengan eksekusi waza, bisa dilakukan dengan sandiwara, sama halnya seperti adegan berkelahi di film-film… kayaknya beneran padahal diatur2 alias sandiwara.
Jadi bagaimana tahunya bahwa aikidoka sudah memahami esensi ? sudah menginternalisasi esensi ? ya rasakan si aikidoka itu, seperti halnya kita makan buah.
Esensi adalah rasa, sehingga untuk tahu rasa ya dirasakan, bukan ditonton/dilihat.:-)
Ujiannya repot dong ? ya memang !, penguji mesti merasakan satu-satu tiap aikidoka yang diujinya. Ya sama aja kayak ki-test.  Ki test ya mesti dilakukan penguji, bukan ditonton.
Dalam ujian maka  ujian adalah pada saat aikidoka menjadi nage (konsiten dengan ki-test).
Aikidoka menjadi uke :
Ketika menjadi uke, maka uke  tidak diuji, artinya kalau si uke sudah kecapaian (apalagi pakai hara-to hara, esensi) yang sangat menguras tenaga uke, maka uke bisa digantikan oleh yang lainnya.
Uke tidak sedang diuji semangat juangnya (fighting spirit) karena uke berada dalam posisi disharmony, semangat juang bukanlah semangat juang dalam disharmony, semangat juang melawan. Semangat juang dalam disharmony adalah suatu kesia-siaan.
Satu-satunya yang bisa didapatkan ketika aikidoka menjadi uke adalah pelemahan fisik si aikidoka dengan tujuan pengujian ketika dia menjadi nage (kalau mau menepuh pelemahan fisikal dengan metode ini). Perlu hati2 juga jangan sampai uke jadi terlalu lemah bahkan sampai pingsan, karena dia malah nggak bisa perform sebagai nage yang bisa mempertahankan awase, musubi dan mushin.
Aikidoka menjadi Nage :
Pengujian pemahaman esensi dan fighting spirit.
Ini diuji ketika Aikidoka menjadi nage. Ketika dia adalah harmony atau berupaya mempertahankan harmony (awase, ki no musubi dan mushin).
Hancurkanlah harmony si nage, dengan berbagai cara, fisikal dan mental-spiritual.
Sama halnya seperti di medan pertempuran, semangat tempur, semangat juang, fighting spirit itu bisa hancur oleh berbagai sebab. Kondisi alam, jumlah musuh yang lebih banyak, gugurnya prajurit2,  luka yang dialami/diderita dll, keluarganya disandera atau bahkan terbunuh dll.
Di dojo ? di ujian ?
Fisikal : lemahkan fisik si nage.
Cara ?
1.    Jadikan aikidoka sebagai uke terlebih dahulu.
2.    Bikin nage lapar dan haus : minta datang ke ruang ujian pagi-pagi, tapi ujian dimulai siang atau sore hari dan siangnya tidak diperbolehkan makan. .
Kemudian nage menghadapi uke yang  sehat2 dan kenyang-kenyang, muda2 dan kuat2 . Ini ujian bagi nage, bukan bagi uke 
Perut yang lapar dan kehausan akan mudah melemahkan mental-spiritual si nage, melemahkan fighting spiritnya.
Lokasi/medan pertempuran : ujian dilakukan di tempat yang panas atau dingin.

Sekedar usul…
Ujian bagi kyu2 awal (5 dan 4) :
1.Durasinya tidak terlalu panjang (missal 15 -30 menit nonstop), uke yang menyerang bisa satu atau dua atau lebih bergatian, tujuan : demi nonstopnya si nage memperlihatkan esensi. Uke nya mesti selalu yang segar, yang fit, uke yang sudah kecapean tidak begitu bermanfaat, karena menyerangnya saja sudah nggak focus (tidak powerfull lagi). Di dunia nyata juga begitu, tidak ada penyerang yang lemah/kecapean.
2. Pelemahan fisikal sebelumnya :  menjadi uke nonstop selama 10 menit (lihat kondisi fisikal si uke juga, umur, jenis kelamin dll) atau pelemahan dengan puasa makan siang (supaya bisa diobservasi kebenaran tidak makannya).

Ujian bagi kyu 3,2,1

1.Durasinya lebih  panjang (missal 30 menit – 1 jam nonstop), uke yang menyerang dua orang atau lebih bergatian, tujuan : demi nonstopnya si nage memperlihatkan esensi. Uke nya mesti selalu yang segar, yang fit, uke yang sudah kecapean tidak begitu bermanfaat, karena menyerangnya saja sudah nggak focus (tidak powerfull lagi). Di dunia nyata juga begitu, tidak ada penyerang yang lemah/kecapean.
2. Pelemahan fisikal sebelumnya :  menjadi uke nonstop selama 20 menit/lebih (tergantung tingkatan kyu) (lihat kondisi fisikal si uke juga, umur, jenis kelamin dll) atau pelemahan dengan puasa makan siang (supaya bisa diobservasi kebenaran tidak makannya).
3. Penggunaan negative ki. Yakni dari Ki (pikiran) penonton/peserta ujian yang belum ujian/dari penguji. Pada tingkatan yang lebih tinggi, penonton diminta untuk memandang rendah/mencela  nage, melontarkan ki negative ke nage (contoh : “ah payah kamu”… “alah apa sih bisanya loe”  dll). Ini adalah ujian fighting spirit, sebagaimana halnya bisa kita temui di kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang memandang rendah, yang mencibir upaya/ikhtiar kita.
4.Pengalihan2 atau penghancuran ki no musubi, awase dan mushin nage bisa dilakukan dengan cara-cara lainnya, semua yang terkait dengan ego nage bisa digunakan.
5. Ujian bisa juga dimodifikasi dengan membuat hambatan fisikal tertentu, misalnya menutup mata nage, mengikat tangan/kakinya dll.

Waza tidak diuji di ujian, maksudnya, bentuk waza bukanlah sesuatu yang dinilai/faktor penentu kelulusan.  Waza toh diperkenalkan di kala latihan. Ini konsisten dengan makna Aikido. Aikido is not about technique. Yang diuji adalah esensi.
Terserah si nage aja mau pakai waza atau tidak.
Yang bisa menunjukkan esensi plus bentuk yang terlihat jelas, akan mendapat nilai lebih, yakni (kalau si aikidoka mau) dia bisa meneruskan tradisi esensi (aikido) dengan waza, dia bisa mengajar Aikido dengan tradisi O’sensei.
Yang no touch atau bentuknya tidak terlalu terlihat jelas, namun ukenya lumpuh atau jatuh maka dia lulus, tapi tidak diperkenankan mengajar aikido (esensi) versi O’Sensei (Tradisi O’Sensei).
Ini konsisten dengan O’sensei yang mengajarkan esensi dengan bantuan (bentuk) waza2 di aikido.
Kalau dia mau ‘ngajar esensi dengan batuan/alat gerakan senam kesegaran jasmani atau gerakan silat (misalnya) maka ya silahkan saja .
Di kehidupan sehari2, orang bisa kita katakan  mengerti aikido (esensi aikido) walaupun dia tidak sedang mempraktekkan waza tertentu, misalnya ketika dia berdebat/diskusi dengan atasannya atau rekan kerjanya. Ketika dia menunjukkan esensi mushin, awase dan musubi maka dia lulus aikido, walau dia tidak melakukannya dengan gerakan2 waza. Orang tersebut memahami atau menguasai aikido.
Untuk mengajarkannya pada orang lain, maka kalau mengikuti tradisi O’sensei dia mesti mengikuti bentuk2 waza (bentuk tehnik yang diketahui O sensei) baru dia bisa diakui/dikatakan sebagai pengajar Aikido tradisi O’Sensei. Kalau dia mau pakai bentuk/form yang lain maka dia dikatakan mengajarkan Aikido dengan tradisi lainnya. Esensinya sama (Aikido : awase, musubi dan mushin) tradisi (formnya) saja yang berbeda (tradisi O’sensei atau tradisi versi A, versi B, versi C dstnya).
Sama halnya dengan rasa. Rasanya sama, yakni lapar, cuma kata yang digunakan berbeda, satu pakai bahasa jepang satunya lagi pakai bahasa Indonesia atau Inggris atau bahasa Jawa.
Aikido ada di dalam tiap bentuk (any form) sebagaimana Aikido ada di dalam dojo maupun di luar dojo. Mushin, awase, musubi ada di mana-mana walau bentuknya (form/waza) berbeda2.
One Hundred Two
Ultimately, you must forget about technique. The further you progress, the fewer
teachings there are. The Great Path is really No Path.
Excerpted from The Art of Peace translated by John Stevens.

Jakarta, 2 Juli 2008
Domo Arigato Gozaimas..
R

Popularity: 1% [?]

April 10, 2008

Words Of The Founder April’08

As soon as you concern yourself with the “good” and “bad” of your fellows, you create an opening in your heart for maliciousness to enter. Testing, competing with, and criticizing others weaken and defeat you.

Ketika kau memikirkan tentang baik dan buruk nya sesama-mu, maka kau ciptakan kesempatan untuk kejahatan memasuki hati mu. Menguji kemampuan, berkompetisi dan mengkritik orang lain akan melemahkan dan mengalahkan dirimu

Popularity: 15% [?]

March 18, 2008

Words Of The Founder Maret’08

The secret of Aikido is not in how you move your feet, it is how you move your mind.

Rahasia aikido tidak terletak pada bagaimana menggerakan kaki mu melainkan pada bagaimana menggerakkan hati dan pikiran mu

Popularity: 18% [?]

Mencegah Kebosanan dalam Berlatih Aikido

Rasa bosan atau jenuh adalah salah satu kendala yang ditemui oleh hampir semua orang yang berlatih aikido. Rasa bosan dalam berlatih aikido banyak faktor penyebabnya antara lain, bentuk latihan dasar yang monoton, teknik dasar aikido yang terkesan tidak aplikatif, tidak adanya pertandingan ataupun wahana “uji kemampuan” untuk melihat apakah latihan kita sudah benar atau belum, dan lagi ditambah pemahaman terhadap filosofi terasa sangat sulit dicapai melalui latihan yang kita lakukan.

Popularity: 18% [?]

February 4, 2008

Words of The Founder Februari ’08

“Loyalty and devotion lead to bravery. Bravery leads to the spirit of self-sacrifice. The spirit of self-sacrifice creates trust in the power of love.”

Kesetiaan dan pengabdian mengarahkan kita pada keberanian. Keberanian membawa kita pada semangat rela berkorban. Semangat rela berkorban menumbuhkan kepercayaan akan kekuatan cinta.

Popularity: 25% [?]

January 2, 2008

Tahap/Aspek Kedua Pembelajaran Aikido

Memasuki tahap kedua dari pembelajaranku akan Aikido membuatku agak kesulitan untuk mengadaptasikan apa yang telah kualami ke dalam segi pemikiran yang terwakili ke dalam kalimat-kalimat sederhana.  Dua tahap pembelajaran Aikido yang kumaksud adalah masa-masa dimana diriku bersentuhan dengan dua aspek yang semula kelihatannya berbeda namun pada akhirnya tampak berkaitan satu sama lain.  Tahap pertama yang kualami adalah pengenalan Aikido di dalam dimensi keteknikan yang masih dapat dijelaskan secara logis.  Dalam hal ini, teknik masih dapat terpahami secara sederhana melalui penjabaran kombinasi sudut masuk (irimi), kuncian dan movement yang berkesinambungan setelah melebur dengan arah dan intensi serangan uke (yang terwakili dalam proses penerimaan, positioning antara center line kita sebagai nage dan center line uke serta positioning untuk mengalirkan arah intensi-serangan uke tanpa konflik).  Dalam tahap pertama ini, rasionalisasi dari proses eksekusi teknik ke dalam pembahasaan sederhana sekurang-kurangnya dapat ‘menularkan pengetahuan’ ini bagi rekan aikidoka yang lain.  Dalam hal ini, penjelasan konseptual mendahului dan mampu merangsang munculnya pemahaman dan pengalaman.

Memasuki tahap kedua, yang telah kualami selama beberapa minggu belakangan ini dan puncaknya terakhir, malam latihan kemarin yang baru saja berlalu, membuatku kembali teringat akan sebuah untuaian kalimat-kalimat tua yang amat sulit untuk terpahami olehku selama ini.  Bersentuhan dengan aspek kedua Aikido adalah berada di dalam dimensi ‘pengenalan melalui pengalaman’, mengalami sendiri secara langsung, tanpa didahului pra-konsepsi.  Jika di dalam tahap pertama, penyampaian konsepsi (penjelasan logis-intelektual) dapat menumbuhkan pengenalan (pemahaman) tanpa proses mengalami, di dalam tahap kedua ini, mutlak diperlukan proses mengalami terlebih dahulu.  Setelah itu, apabila sempat, baru dibahasakan untuk disimpan dalam Buku Diary :)  Logika dan Pikiran manusia menemui sejenis hambatan dalam pengenalan aspek kedua ini.

Berikut ini adalah beberapa baris kalimat sulit yang tampaknya baru tersingkap maknanya setelah diriku berkesempatan mengecap dan mengalami proses tahap kedua Aikido:

The Tao1) that can be expressed in words,
Is not the true and eternal Tao;
The name that can be uttered in words,
Is not the true and eternal name.

The word “Nothingness” may be used
to designate the beginning of Heaven and Earth2);
The word “Existence (Being)” may be used
to designate the mother of all things.

Hence one should gain an insight into the subtley
of Tao by observing Nothingness,
and should gain an insight into the beginning
of Tao by observing Existence (Being).

These two things, Nothingness and Existence,
Are of the same origin but different in name.
They are extremely profound in depth
Serving as the door of myriad secret beings.

Chapter 1, The Book of Tao and Teh (Dao De Jing)

Tulisanku kali ini mungkin akan sedikit membingungkan rekan-rekan pembaca yang lain.  Untuk memahami apa yang seseorang alami, minimal perlu sebuah tindakan menarik mundur ke dalam historisitas perkembangan pengalaman dan pemikiran orang tersebut, berusaha menyelami apa yang dimaksud oleh orang tersebut dengan penggunaan konsep dan kata-kata tertentu.  Beberapa penjelasan sederhana berikut ini mudah-mudahan dapat membawa orang lain menuju apa yang menurut saya amat sangat menarik untuk dibahas dan dibagikan ke teman-teman yang lain.

Kearifan Timur setahu saya secara sederhana seringkali dikatakan berbeda dengan kearifan Barat.  Mungkin hal ini ada benarnya tatkala kita mencoba untuk menyelami ‘tools’ pengenalan dan proses penjabaran masing-masing kubu akan sesuatu.  Dunia barat cenderung menggunakan rasio untuk menjelaskan segala sesuatu dan umumnya mencapai tujuan melalui analisis dan penyederhanaan, diaman suatu kasus atau benda dipilah-pilah yang kemudian ditelusuri satu persatu secara mendalam secara terpisah.  Kearifan timur cenderung dikembangkan melalui intuisi dan dalam prosesnya mencoba untuk menggabungkan, menyatukan berbagai aspek yang pada awalnya terlihat tidak berkaitan satu sama lain.  Aikido, sebagai salah satu produk kearifan timur mewakili kecederungan pola pikir timur ini.  Makanya jangan heran, mengapa O’ Sensei berbagi ‘peta’ proses perjalanan spiritualnya berupa teknik bela diri.  Apa hubungan logis antara teknik bela diri dan spiritualitas?  :)

Dalam bait kedua kalimat di atas disinggung dua konsep kata yang kalau mau kita analisa mendalam, akan menumbuhkan banyak pengertian dan mudah-mudahan menstimulasi sedikit pencerahan :)  Kita cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang telah ada, nyata dan terlihat, atau bahasa filosofisnya ‘telah bereksistensi’.  Kalau semata-mata membahas masalah dalam dimensi “keberadaan”, logika dan pemikiran barat telah dikembangkan dengan sangat baik selama ini dan membuahkan karya peradaban tinggi manusia akhir-akhir ini.  Science dan Teknologi adalah salah produk unggulan dimensi ini.

Dalam tataran pengalamanku, apa yang menjadi terpahami setelah memasuki tahap kedua dari pembelajaran akan Aikido adalah penyadaran akan adanya aspek atau dimensi lain yang dalam bahasa sederhananya terwakili dalam kata “Nothingness” (Chinese: Wu, Japanese: Mu).  Kalau kata pertama, ‘Eksistensi’ mewakili segala sesuatu yang ada dan dapat dikenali, kata kedua, ‘Ketiadaan’ mewakili sesuatu yang ada namun tidak (atau belum) dikenali, tentu saja oleh penginderaan dan pikiran sebagai alat penerima proses pengenalan.

Penggunaan kata “dikenali” ini umumnya kita pakai untuk mewakili dimensi keberadaan yang dikenali secara kognitif, berada di dalam dimensi intelek dimana processing tools-nya adalah kognisi/pencerapan dan rasio.  Pola pendidikan kita selama ini terbiasa dengan pola pikir Barat sehingga seringkali tanpa kita sadari, aspek pengenalan kita menjadi terbatas, hanya pada sesuatu yang nyata dan dapat dilihat, atau sekurang-kurangnya mengacu pada sesuatu yang telah tertanam entah dari kapan di dalam pikiran kita.  Segala sesuatu diterima sebagai ada karena masuk akal3), dapat terpahami karena telah ada pra-kognisi dan pra-konsepsi sebelumnya, yang ujung-ujungnya hanya menyentuh aspek kognitif dari keberadaan.  Padahal pada kenyataannya, keberadaan-diluar-jangkauan-kognitif juga banyak.  Maka dari itu, menurut pendekatan ini, eksistensi atau keberadaan hanya menyentuh aspek yang dapat diterima oleh pikiran saja, segala sesuatu ada karena ada dalam pikiran, dikenali oleh pikiran dan sesuai dengan alur logika berpikirnya.  Logika sesatnya akhirnya menjadi: karena tidak ada dalam pikiran (cth: karena sulit dinalar, sulit diterima akal sehat), maka sesuatu itu disimpulkan tidak ada.  Sesuatu dikatakan bereksisten apabila telah mendapat ‘polesan mind’ manusia berupa pengenalan (labelling) melalui proses pencerapan dan berpikir (penalaran).  Cogito ergo sum, “aku berpikir, maka aku ada”.

Bersentuhan dengan kata kedua, ‘Nothingness’, penggunaan pola pikir ketimuran akan lebih dapat membimbing kita menuju ke dalam pemahaman sejati akan makna kata yang sulit ini. Contoh istilah dalam Zen dan seni beladiri Jepang yang sering menggunakan kata ini, termasuk Aikido adalah istilah Mushin (Mu = tiada/tanpa; Shin = hati/pikiran).  Pengertian sederhananya adalah menjadi ‘tanpa pikiran’ atau ‘tanpa didahului proses berpikir’.  Mushin adalah fenomena yang jelas-jelas ada, walaupun menggunakan kata yang sifatnya negatif, yakni ‘tiada’.  Keefektifannya dalam eksekusi teknik merupakan pembuktian bahwa itu ada; sesuatu yang “tiada(tanpa)-pikiran” itu ada.  Sebuah ketiadaan yang ada; sebuah statement yang sulit dipahami oleh pola pikir Barat.  Unik bukan?  Jadi pembelajaran penting yang kuperoleh kali ini adalah penerimaan adanya keberadaan tataran pengenalan lain, selain yang melalui proses pemikiran (kognisi).  Nah inilah yang menurutku menjadi pintu gerbang untuk masuk dan memahami aspek atau tahap kedua dalam Aikido.

Apa itu aspek dan tahap kedua dalam Aikido?  Secara sederhana dapat dijabarkan (sesuai dengan apa yang pernah disampaikan Sensei Hakim) ke dalam istilah ‘Bentuk-Tanpa-Bentuk, Teknik-Tanpa-Teknik’.  Jika dalam tahap pertama, cara yang diandalkan untuk mengontrol nage adalah melalui sarana fisik seperti sudut kuncian, positioning dan tentunya memanfaatkan grabbing (pegangan tangan); memasuki tahap kedua, diriku mengalami pengontrolan secara non-fisik (’non-touch’, istilah Sensei Jamal).  Dalam hal ini, ada semacam daya (kekuatan) di luar hukum-hukum materi dan yang pastinya membingungkan pikiran karena selama ini ia telah terbiasa berpikir secara mekanistis (cth: siapa lebih kuat, lebih cepat pasti menang; ada keterhubungan/koneksi secara mekanis baru bisa bekerja, dll…).

Controlling through ki, through mind dan through will (aiki-waza?) yang melangsungkan proses pengontrolan tanpa didahului tindakan sentuhan fisik (non-touch), sepanjang yang kupahami, mewakili aspek/tahap kedua pembelajaran Aikidoku kali ini.  Mungkin bagi yang belum pernah mengalami, akan mengalami kesulitan dalam menangkap maksud penyampaian ini.

Inti yang ingin kusampaikan kali ini adalah bahwa fenomena semacam ini ada dan nyata walaupun sulit terpahami oleh pikiran.  Satu-satunya jalan masuk adalah pengenalan melalui pengalaman, mengalami sendiri secara langsung, sulit untuk memulainya dengan konsepsi manusia yang terbatas.  Maka dari itu, diriku seakan membagi proses pembelajaran Aikido ke dalam dua tahap, dimana dalam tahap kedua ini, proses pengenalan tahap pertama, yang memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan secara konseptual, tidak cukup relevan.  Dalam tahap kedua, kurang lebih terwakili dalam statement sederhana berikut: ‘Pengalaman mendahului Eksistensi, yang kemudian baru diikuti Esensi’ (modifikasi dari pernyataan Sartre, Eksistensi Manusia mendahului Esensinya :-p).

Kalau pada tahap pertama, esensi keteknikan bisa disampaikan secara verbal melalui pembicaraan untuk merangsang pengenalan yang kemudian dikonfirmasi melalui pengalaman ketika eksekusi berlangsung, dalam tahap kedua, esensi baru bisa terpahami secara perlahan setelah seseorang mengalami sendiri, yang akhirnya mengarahkan dirinya untuk mencari seluk beluk akan keberadaan hal baru tersebut.  Ujung-ujungnya, baru bisa dipahami bahwa esensi kedua tahap yang awalnya seakan berbeda itu kurang lebih ternyata rada-rada mirip pada akhirnya!  Bingung kan, hehehe….  Kemiripan esensi ini belum bisa saya utarakan dalam tulisan kali ini karena tampaknya bersentuhan dengan aspek filosofis-spiritual Aikido, yang perlu saya konfirmasi lagi melalui banyak pengalaman lain.  Mohon maaf sebelumnya….

Mengacu pada bait ketiga mengenai kedua ‘jalan menyelami Tao’, prinsip yang sama tampaknya juga berlaku di dalam Aikido.  Cara menyelami pertama adalah pendekatan melalui aspek yang terlihat, terpahami oleh pikiran, pendekatan terhadap sesuatu yang dikatakan telah bereksistensi, telah ada di dalam kerangka konseptual pikiran.  Produknya adalah penemuan suatu hukum, prinsip, yang dapat terkomunikasikan, yang akhirnya dapat diwariskan sebagai sebuah ‘ilmu’, sama seperti produk science dan teknologi Barat.  Penjabaran keefektifan teknik Aikido secara fisik dan mekanistis mewakili produk aspek pertama.  Sebaliknya, cara kedua, sebagai pelengkap cara pertama adalah langsung menembusi inti Tao melalui pendekatan terhadap aspek yang sifatnya Nothingness (Tiada namun Ada), tidak berwujud, tidak terbentuk, tidak terdefinisi, tidak ternalar proses pikiran selama ini.  Darinya mungkin penelusuran kembali dimensi spiritualitas manusia bermula dan dapat membimbing manusia kembali ke hakikat awal keberadaan dirinya.  Dalam hal ini, apa yang diceritakan para Sensei mengenai Aiki-Waza (ekstrimnya Kami-Waza) mungkin mewakili dimensi ini, dan sarana pemahaman satu-satunya menurut saya adalah hanya dengan mencicipinya secara langsung dari Sensei atau Sempai atau rekan Aikidoka lain yang kompeten.

Secara sederhana, refleksi yang penuh dengan segala keterbatasan akan pengalaman tahap kedua ini bagi saya  cukup bermanfaat untuk menstimulasi semangat untuk lebih menggali prinsip Aikido yang tampaknya hampir tidak terbatas.  Hal ini terus terang belum menyentuh aspek spiritualitas Aikido sebagaimana yang diutarakan O’ Sensei.  Tapi bagi saya hal ini cukuplah… cukup membingungkan, hehehe.

Terakhir, sama halnya dengan bait keempat, kedua jalan ini juga berlaku di dalam Aikido, dimana jalan yang satu akan melengkapi jalan yang lain.  Apa yang terpahami dalam proses kedua, kurang lebih memiliki esensi yang sama walaupun hal ini dalam diri saya hal ini masih baru tampak sebagai cahaya yang remang-remang.  Kedua tahap ini berhubungan satu sama lain dan membimbing kita lebih dalam kepada Inti Aikido yang masih penuh dengan misteri :) (bagi saya).

Intinya, dalam pembelajaran akan tahap kedua ini, saya pribadi mengalami sebuah transformasi paradigma mengenai keberadaan hubungan antara materi dan energi.  Ada dimensi dan keberadaan daya energi halus yang melampaui hukum mekanikal-fisikal materialistis yang bekerja di dalam alam semesta, dan hal yang sama ternyata juga berlaku di dalam keberadaan diri saya sebagai manusia yang terbatas.  Pengenalan akan hal ini menyadarkan diri saya bahwa saya adalah bagian dari Alam Semesta yang sangat luas dan akan menjadi sangat bodoh apabila saya berpikir bahwa diri saya dapat terpisah darinya, apalagi berpikir mampu untuk menguasainya (mengeksploitasi tanpa batas) secara keseluruhan.  Mungkin pemahaman ini masih jauh dari spiritualitas Aikido yang sejati, tapi bagi saya, hal ini cukup efektif untuk sedikit demi sedikit mengikis ‘false belief’ mengenai keberadaan diri yang salah selama ini.

Berusaha untuk tetap menjaga Beginner’s Spirit (Shoshin) mungkin salah satu sikap yang baik untuk tetap menjaga dan mengasah kepekaan guna mampu menerima pemahaman-pemahaman lanjutan Aikido yang tampaknya makin lama makin menghalus.  Mengacu pada bait pertama, apa yang saya jadikan dasar spirit saya pribadi selama ini dalam mendalami Aikido adalah selalu jangan terburu-buru menjustifikasi pengalaman yang saya temukan baru-baru ini sebagai inti tertinggi dari Aikido.  Sebagaimana dengan jelas tersirat, pengenalan dan penamaan hanyalah sarana bantu untuk mewakili, mendekati obyek yang sesungguhnya, namun pengenalan dan penamaan itu sendiri bukanlah Hal Itu.

Akhir kata, terima kasih sekali lagi untuk bimbingan dan transfer ilmu dari para Sensei (S. Hakim untuk transfer ilmunya secara konseptual, sayang saya agak jarang bertemu dengan beliau; secara khusus thd. S. Jamal dan S. Imei untuk pengenalan Aiki-Wazanya & S. Tony, thx juga tuk sharing karakteristik aikinya 2 minggu yang lalu), juga dari para Sempai Aiki kenkyukai (Mas Gunarto, Mas Iwan, P’ Kendy, P’ Haresh, P’ Handry, dll..) selama ini, khususnya dalam share ‘ilmu hitam’nya (aspek Aikido kedua, dalam istilah saya pribadi), hehehe…  Mari kita menjadi lebih semangat dalam menelusuri inti Aikido sebagaimana yang diajarkan oleh O’ Sensei dan yang juga difasilitasi oleh komunitas Aiki Kenkyukai.  Onegai Shimasu!

Footnote:

1. Secara eksplisit, masih belum jelas adakah konektivitas antara Aikido yang berakar dari Shinto (Chinese: Shen Dao / Shen Tao) dengan Daoisme (Taoisme) klasik China.  Untuk sementara ini, saya hanya dapat menyimpulkan, bahwa dengan fakta penggunaan huruf Kanji (Chinese: Han Zi) yang sama, “Do” (Chinese: Dao/Tao), mungkin kedua pola pikir peradaban tinggi kuno tersebut saling berhubungan satu sama lain.

2. Dalam bait kedua menyentuh istilah ‘Heaven and Earth’, yang bisa dan seringkali diterjemahkan secara harafiah, dalam tataran makrokosmik (Heaven:Langit/Surga dan Earth: Bumi/Alam Manusia).  Dalam pengertian lain, kedua kata ini ternyata sering juga digunakan untuk mewakili aspek mikrokosmik (Heaven=Mind/Spirit, Earth=Body).  Ingat kan nama teknik Tenchi-nage (Ten/Tian=Heaven; Chi/Di=Earth)?  Ternyata dengan penggabungan penggunaan kedua pengertian ini akan lebih mudah ‘masuk’ karena selain aspek fisik yang terwakili dalam eksekusi berupa positioning tangan yang berbeda yang mewakili posisi Langit dan Bumi, tanpa ‘harmonizing’ mind and body antara nage dan uke, eksekusi teknik tersebut akan sulit untuk mengalir secara smooth.  Lagi-lagi apabila pendekatan ini menggunakan penggabungan dua pendekatan jalan, akan saling menunjang satu-sama lain.   Menarik bukan?

3. Istilah ‘make sense’ (masuk akal) walaupun produk pemikiran Barat sebenarnya menyiratkan adanya tools selain akal sebagai sarana untuk mengkonfirmasikan keberadaan sesuatu.

Jon

(13 Desember 2007: 03.00 ~ 12.30)

Popularity: 45% [?]

November 13, 2007

Aiki no Kokoro (Jiwa dari Aiki) Bagian 2

 

Menyatu dengan lawan dapat digambarkan seperti dua sisi mata uang logam, meskipun berbeda dan bertolak belakang namun tidak mungkin ada satu sisi tanpa sisi lainnya dan tidak dapat dipisahkan. Setelah kita melebur dengan ki lawan, selanjutnya anda memelihara hubungan (koneksitas) yang harmonis dengannya setiap saat melalui sensitifitas, anda dapat mengikat “ki” lawan anda dalam gerakan yang anda lakukan, seakan menjadi dua kutub magnet yang saling melekat. Bila “ki” telah menjadi milik anda, maka anda dapat menggerakkan tubuh lawan seperti menggerakkan tubuh anda sendiri. Pada kondisi seperti ini, anda tidak merasakan lagi kekuatan atau berat tubuh lawan anda. Kedua hal tersebut seperti menghilang begitu saja, pada saat anda memulai kontak pertama dengan lawan. Hal ini yang disebut dengan “ki no musubi”

Popularity: 64% [?]

October 1, 2007

Aiki no Kokoro (Jiwa dari Aiki) Bagian 1

Langkah pertama untuk mempelajari Aikido adalah untuk memahami jiwanya (spirit/ kokoro), sedangkan langkah pertama untuk mempelajari jiwa Aiki (aiki no kokoro) adalah memulainya dengan memahami diri kita sendiri. Artinya anda mempelajari tentang hati, pikiran dan tubuh kita sebagai satu kesatuan.

Popularity: 79% [?]

September 7, 2007

Seminar Ikuhiro Kubota Shihan

Seminar Ikuhiro Kubota Shihan
Graha Surveyor Indonesia, 1 & 2 September 2007

Tanggal 1 & 2 September 2007 kemarin, Aiki Kenkyukai menggelar seminar Aikido dengan pengajar utama Ikuhiro Kubota Shihan (7th Dan). Seminar di laksanakan dua hari, hari Sabtu yang diperuntukkan bagi semua level, sedangkan dihari kedua yang direncanakan untuk yudansha tapi kemudian Kubota Shihan memperbolehkan diikuti oleh peserta hingga kyu 2.

Popularity: 80% [?]

August 11, 2007

Aiki Trip: Yogya!

        Akhir Juli lalu, Hakim Sensei mendapat undangan dari Aikikai Yogya untuk menghadiri semacam martial arts seminar dan coaching clinic yang diikuti oleh banyak cabang beladiri. Beliau berangkat bersama istri (Santi Sempai) dan beberapa murid senior (Eka Sensei, Hartanto Sensei, Erik Sempai dll) juga murid-murid setia (baca: tim penggembira) dari Cipete dan Mayapada. Berikut liputannya :

Popularity: 84% [?]

June 11, 2007

Untuk Apa Kita Belajar Aikido?

Sekilas pertanyaan ini sepertinya hanya layak dilontarkan pada orang-orang yang belum atau baru saja berlatih & belajar tentang aikido. Tapi dalam satu kesempatan bercengkrama setelah latihan dengan Hakim Sensei beberapa waktu lalu, pertanyaan ini beliau lontarkan kepada semua murid yang pada waktu itu hadir, baik junior maupun senior.

Popularity: 87% [?]

Kesamaan Filosofi Aikido dengan Meditasi Lintas Agama

Dear Sensei,

Dalam perjalanan tugas ke Bali awal Juni 2007 ini saya berbincang-bincang dengan kakak Ipar saya yang merupakan penduduk asli Bali.

Secara tidak sengaja kami masuk kedalam topic Meditasi yang setelah saya dengarkan secara seksama memiliki banyak persamaan dengan filosofi Aikido yang saya terima di Dojo.

Popularity: 87% [?]

May 10, 2007

Liputan Khusus

Acara Ulang Tahun Aiki Kenkyukai ke-2 di Dojo Sportmall Kelapa Gading

Tanggal 6 Mei kemarin diadakan acara syukuran ulang tahun Aiki Kenkyukai di dojo Sportmall acara dihadiri oleh sebagian besar anggota Aiki Kenkyukai, senior-senior, para guru Aiki Kenkyukai, tamu-tamu dari Aikido Bali, Mizu dojo, Forum Pecinta Silat Indonesia, dan tamu kehormatan dari perguruan silat Cikalong Pancer Bumi.
Acara ulang tahun kali ini unik karena diisi dengan diskusi bertemakan “similaritas aikido dengan silat cikalong”. Sejak pertemuan pertama dengan silat Cikalong di bulan februari dalam acara diskusi yang diakomodir oleh Forum Pecinta Silat Indonesia, fenomena kesamaan antara Aikido dan silat Cikalong ini kerap menjadi pembahasan dikalangan aikido maupun kalangan silat. Untuk lebih memuaskan rasa ingin tahu dari anggota aikikenkyukai yang tidak sempat menghadiri pertemuan pertama, maka pada kesempatan syukuran ini Hakim Sensei mengundang saudara-saudara dari silat Cikalong Pancer Bumi untuk berbagi dan mengkaji lebih dalam tentang fenomena keharmonisan yang juga ditemukan di filosofi dan teknik silat Cikalong seperti di Aikido.

Popularity: 89% [?]

Angin Barat & Angin Timur

Sebagai orang yang mempelajari beladiri  seringkali kita kesulitan oleh apa yang kita pelajari. Maksudnya ada saat-saat dimana kita terbebani oleh keinginan untuk cepat-cepat menguasai apa yang kita pelajari. Namun kita lebih sering menemui kegagalan dan semakin kita berusaha sekuat mungkin, semakin kita merasa tidak mengerti dan tidak memahami. Akhirnya banyak diantara kita yang putus asa dan tidak ingin melanjutkan apa yang sudah kita mulai.

Popularity: 89% [?]

March 31, 2007

Wacana Internal Aiki Kenkyukai: “Aiki Kenkyukai Berbenah Diri”

1. Latar Belakang

Aiki Kenkyukai adalah komunitas perguruan seni beladiri yang sejak didirikannya menekankan pada penegakan nilai-nilai ke-ksatria-an (Budo) sehingga secara otomatis Aiki Kenkyukai sebagai sebuah komunitas bersifat non-profit. Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu hingga sekarang Aiki Kenkyukai telah berkembang menjadi komunitas yang cukup besar.

Popularity: 96% [?]

Kisah Cangkir & Teko

” Maaf, rasanya lebih baik saya latihan dengan yang lain saja, yang lebih tinggi “, reflek saya menoleh ke arah asal suara tersebut, wheew !…ternyata anak baru latihan hari ini, kontan saya tersenyum, teringat kisah tentang teko dan cangkir, yang pernah di ceritakan sensei…

Popularity: 90% [?]

March 3, 2007

Efektifkah Aikido?

Ini pertanyaan yang sering diutarakan oleh orang yang baru berlatih aikido. Bila sekilas melihat latihan aikido, wajar memang bila pertanyaan ini terlontar. Karena didalam latihan aikido kita tidak akan menemukan berbagai gaya pukulan maut atau tendangan lompat nan spektakuler. Pemandangan yang umum terlihat pada sebuah dojo aikido adalah dua orang yang berlatih berpasangan melakukan sebuah gerakan bak tarian yang anggun namun sekaligus powerful.

Popularity: 97% [?]

“Ai” Harmonisasi

Sebelum saya menekuni Aikido, konsep beladiri bagi saya adalah cara bagaimana orang yang lemah dapat menang menghadapi orang yang lebih kuat. Dalam prakteknya, orang yang lemah harus memperkuat diri dengan cara berlatih hingga menjadi cukup kuat untuk dapat mengalahkan orang yang tadinya lebih kuat dari dirinya. Namun sampai kapan kita dapat menjadi yang terkuat, tercepat dan paling cerdik? Bukankah ada pepatah diatas langit masih ada langit?

Popularity: 100% [?]

Tahap -Tahap Harmonisasi

( lanjutan artikel Ai “Harmonisasi” )
Setelah kita memahami tentang konsep harmonisasi, pertanyaan yang umumnya muncul adalah “Bagaimana?”. Bagaimana kita melatih harmonisasi? Bagaimana kita mengadaptasi pemahaman konsep kepada aplikasi sehari-hari? Untuk menjawab ini, aikido yang saya pelajari mem-breakdown harmonisasi menjadi beberapa tahap yang masing-masing tahap bersifat hirarki dimana pemahaman tentang tahap berikutnya sangat tergantung penguasaan kita pada tahap yang lebih rendah. Tahap pertama, seperti juga banyak hal lain dalam hidup kita, mulai dari diri sendiri.

Popularity: 89% [?]

Ukemi

Setiap orang yang berlatih aikido tentu sangat akrab dengan istilah ukemi. Lebih dari separuh waktu latihan kita habiskan untuk melakukan ukemi. Apa sebenarnya manfaat ukemi?. Kebanyakan dari kita pada saat menjadi uke dan melakukan ukemi, masih berpikir ukemi hanya sekedar cara menyelamatkan diri, atau cara menghindar dari cidera serius dalam latihan dan tidak lebih dari itu. Tidak sedikit juga yang termotivasi belajar berbagai bentuk ukemi yang “spektakuler” agar teknik yang dilakukan dapat terlihat lebih “dahsyat”. Apakah ini makna dari berlatih ukemi? Jika memang ukemi hanya berfungsi agar teknik aikido terlihat “heboh” seperti di film-film, bukankah sebenarnya kita hanya berlatih sebuah sandiwara bertemakan beladiri?

Popularity: 87% [?]

KIHON GENRI (PRINSIP DASAR) Bag IV

KOKYU (NAFAS)
Kokyu secara harfiah berarti “nafas”.dalam Budo “kokyu” dihubungkan dengan “energi kehidupan universal” yang terdapat dalam diri manusia, yaitu dimana “seika tanden” (hara) menjadi titik poros konsentrasi “kokyu” melaluinya, “ki” terserap dan terpancar keluar hingga menyatu dengan energi yang datang dari luar.

Popularity: 86% [?]

Konsekuensi Jalan Ksatria: Tugas, Tanggung Jawab & Pengorbanan Diri.

 

Belum lama berselang, di sebuah obrolan setelah latihan, kembali saya diingatkan tentang apa yang menjadi esensi dari latihan aikido yang saya tekuni ini. Yaitu tentang Budo atau jalan ksatria. Didalam hidup, setiap manusia diberi wewenang oleh Yang Maha Kuasa untuk memilih jalan hidupnya. Pada saat seseorang memutuskan untuk hidup di jalan tertentu, maka sebaiknya orang tersebut sudah berpikir matang-matang tentang apa konsekuensi dari menjalani hidup di jalan tersebut. Jika kemudian konsekuensi-konsekuensi jalan hidup ini tidak sanggup diterima, maka kemungkinan besar jalan tersebut akan dirasakan teramat berat dan pada akhirnya menyerah atau mencari jalan hidup yang lain.Contohnya saja seseorang yang memutuskan untuk menjalani hidupnya sebagai selebriti/public figure dengan segala kemewahan dan kehidupan glamour yang dapat diraih melalui jalan hidup sebagai selebriti namun disisi lain seorang seleb harus sanggup menanggung konsekuensi seperti kehilangan privasi kehidupan pribadi, keharusan memakai topeng dalam kehidupannya agar tetap mendapat simpati publik, dan lain-lain. Dan tidak sedikit kasus selebriti yang tidak sanggup menanggung beban konsekuensi hidup sebagai seleb dan akhirnya kehidupannya hancur bahkan bunuh diri, atau meninggalkan dunia gemerlap tersebut untuk kemudian hidup sebagai orang biasa.

Popularity: 79% [?]

KIHON GENRI (PRINSIP DASAR) Bag III

Su Chu (Fokus/ Proyeksi)

Kemampuan untuk memfokuskan seluruh elemen kekuatan material dan immaterial ke satu arah atau pun satu titik, merupakan hal yang sangat esensial dalam memahami arti “kekuatan” dalam Aiki. Bahkan pada level seseorang telah mampu memelihara “Chushin” (centre line) dengan sangat baik namun pada saat bergerak ia gagal memfokuskan seluruh elemen “kekuatan” yang ia miliki dengan baik, maka ia akan mengalami kesulitan, bahkan kegagalan dalam melakukan teknik.

Popularity: 85% [?]

Apa itu Aikido?

Apa itu Aikido?

Aikido bagi kebanyakan orang mungkin just another japanese martial arts, sebagian lagi mungkin berkomentar “Aikido itu beladirinya Steven Seagal”. Orang yang lebih mendalami beladiri mungkin dapat menilai “Aikido itu beladiri yang menggunakan teknik kuncian dan bantingan serta memanfaatkan tenaga lawan seperti judo atau jujutsu dan bukan menekankan pada pukulan atau tendangan seperti karate atau tae kwon do”. Semua penilaian diatas tidak dapat disalahkan, namun belum dapat dikatakan tepat. Layaknya menilai buah hanya dari kulitnya, kita sulit untuk menikmati durian kalau yang kita makan hanya kulitnya bukan?. Segala sesuatu tentunya jadi lebih bernilai pada saat kita mengerti hingga ke esensinya.

Popularity: 76% [?]

Tips Berkendara Ala Aikido

Kita hidup di jaman yang relatif damai, kebanyakan dari kita tidak mengisi kesehariannya dengan bertempur atau berperang. Tapi bukan berarti hidup ini lepas dari konflik. Konflik dalam kehidupan masa damai seperti ini banyak muncul dalam bentuk-bentuk yang lebih halus namun tetap merupakan sebuah konflik, yang bila tidak diselesaikan dengan baik akan berakibat buruk secara psikis maupun fisik.

Popularity: 75% [?]

KIHON GENRI (PRINSIP DASAR) Bag II

ENSHIN(POROS LINGKARAN)

Hakikat dari tehnik-tehnik Aiki adalah sebuah lingkaran yang sempurna, tidak terputus ataupun terpatahkan. Bagaikan air yang mengalir tanpa gangguan atau seperti ritme nafas kehidupan yang terus berhembus hingga akhir waktu.

Popularity: 83% [?]

Awase: Menyatukan Diri Dengan Segala Sesuatu

“Awase: Menyatukan Diri Dengan Segala Sesuatu”

Tujuan dari aikido adalah harmonisasi. Harmonisasi adalah suatu keadaan dimana segala sesuatu merupakan bagian dari satu kesatuan besar yang setiap bagiannya berjalan selaras, sesuai peran masing-masing, tanpa konflik. Melalui latihan, saya menyadari bahwa untuk dapat mewujudkan keharmonisan yang dimaksud didalam teknik dan kehidupan maka pintu pertama yang harus dilalui adalah mengerti tentang awase.

Popularity: 82% [?]

KIHON GENRI (PRINSIP DASAR)

Bag I

CHUSIN(GARIS TENGAH/CENTER LINE)

Segala sesuatu selalu memiliki garis tengah / garis pusat sebagai titik pusat tumpuan atau poros keseimbangan. Pada tubuh manusia garis pusat keseimbangan dimulai dari titik seika tanden yang berada kira-kira 3 jari dibawah pusar. Kemudian ditarik garis lurus keatas melalui bagian tengah tubuh hingga berakhir pada ubun-ubun kepala dan dari tanden ditarik garis lurus kearah bawah, sehingga jatuh tepat diantara dua kaki pada posisi Shizen Tai. Pada saat anda berkonsentrasi di garis tengah tersebut, anda akan merasa lebih seimbang, stabil dan terfokus. Posisi selanjutnya untuk melatih Chusin adalah pada posisi Kamae. Pada posisi ini anda dapat melihat dan merasakan keberadaan Chusin sebagai garis imajiner dalam latihan. Bagi para pemula, wajib untuk mengkonsentrasikan setiap gerakan dan tehnik yang mereka lakukan pada Chusin. Fokuskan tubuh, tangan, pinggang dan kaki dalam satu garis lurus. Bergeraklah secara simultan.

Popularity: 76% [?]

Aikido (baca: bela diri) identik dengan Kekerasan?

Terkadang bila kita bicara tentang bela diri dengan masyarakat awam, bela diri sering di identikkan dengan penyelesaian konflik melalui kekerasan, dan hanya membawa akibat yang buruk. Opini tersebut telah melekat pada orang-orang yang belum terbuka hati dan pikirannya untuk menyelami lebih dalam akan makna bela diri (khususnya Aikido).

Popularity: 69% [?]

Menyuarakan Pengajaran Aikido

Sekilas kita akan bertanya-tanya mengenai judul tulisan ini, apa yang dimaksud dengan menyuarakan pengajaran Aikido? Aikido saat ini muncul sebagai trend di ibukota Jakarta dan sekitarnya sehingga membuat perkembangan Aikido maju dengan pesat. Banyak dojo-dojo yang berdiri dibawah naungan organisasi Aikido yang sudah ada maupun lisensi dari luar negri.

Popularity: 68% [?]

Memahami Makna Hakama Dalam Latihan Kita

Hakama adalah pakaian tradisional Jepang yang biasa digunakan dalam seni beladiri seperti Aikido, Kendo, Jujutsu, dan Kyudo. Hakama dianggap sebagai suatu hal yang menarik bagi praktisi beladiri yang memakainya. Tidak sedikit dari praktisi beladiri tersebut yang berlatih hanya karena berambisi untuk dapat mengenakan hakama tanpa memahami maknanya. Bahkan beberapa diantaranya hanya ingin terlihat gagah atau anggun dengan hakama. Tentu saja hal ini sangatlah disayangkan.

Popularity: 54% [?]

Aikido: Kokoro No Budo

Seni Beladiri yang Datang dari Hati

Aikido adalah Budo. Banyak orang berpikir bahwa Budo adalah jalan (cara) untuk membela diri atau suatu alat yang dapat dipakai untuk membela diri. Pendapat ini tidak salah, namun juga belum sepenuhnya benar. Jika kita berpikir bahwa Budo hanya sebagai alat untuk membela diri, bahkan hewan pun dapat membela diri mereka dengan menggunakan kemampuan fisik dan naluri (insting). Oleh sebab itu, apabila manusia hanya dapat bergantung kepada kemampuan tubuh dan instingnya saja untuk membela diri, maka dimana perbedaan antara kita manusia dengan hewan?

Popularity: 52% [?]

Aikido Book Refference

 

Souvenirs