Aula Gedung INDOSAT, Jakarta, Minggu, 28 Juni 2009.
Akhir bulan Juni yang lalu, Aiki Kenkyukai mengadakan seminar yang telah menjadi semacam agenda rutin tahunan yaitu seminar aikido yang dipimpin oleh Ikuhiro Kubota Shihan (7th Dan). Tetapi untuk tahun ini seminar hanya diadakan 1 hari saja di Jakarta & Kubota Shihan pada hari Senin nya langsung melanjutkan seminarnya di Bandung.
Pada seminar kali ini, Kubota Shihan memberikan beberapa pengulangan singkat tentang kokyu sore yaitu 9 sistem / bentuk latihan napas. (kokyu sore sudah beliau bahas lebih panjang di seminar tahun 2008). Seminar dilanjutkan dengan latian 5 bentuk kokyu ho, 5 bentuk ini pada dasarnya adalah metode latian dasar agar kita bisa memahami apa itu awase (blending/ penyelarasan) dan musubi (connection/ keterikatan), terutama bentuk ke-5 yang menggunakan gerakan melingkar membuat kita lebih mudah mengerti konsep ki no nagare (flowing energy).
Sehubungan dengan pelatihan teknis, Kubota shihan memberikan pelatihan tentang morotte dori (uke memegang satu tangan nage menggunakan dua tangan). Beliau menekankan bahwa didalam aikido kita menyesuaikan diri dengan keadaan, jadi tidak ada teknik yang harus dipaksakan, ini ditunjukkan dengan melakukan berbagai teknik penyelesaian dari satu bentuk serangan (morotte dori). Arah gerakan dan penyelesaian teknik sangat tergantung dari faktor-faktor seperti posisi awal, reaksi uke, keadaan lingkungan dan lain-lain.
Di akhir sesi latian teknik, Kubota shihan memberikan beberapa contoh teknik token-dori (teknik menghadapi pedang). Hal yang sama juga ditekankan bahwa penyelesaian teknik dalam aikido sangat bergantung dari bagaimana jalan yang terbaik menyesuaikan diri dengan keadaan pada saat itu. Selain itu juga Kubota shihan menyampaikan bahwa dalam teknik dasar Token-dori, atemi perlu dilakukan untuk melemahkan genggaman uke pada pedang.
Wejangan Kubota shihan dalam seminar kali ini adalah “untuk dapat berkembang dengan baik , kita harus meniru/mengkopi guru/Sensei kita†tentunya bukan hanya dalam konteks teknik, melainkan juga hal-hal yang baik lainnya dari guru kita. Semangatnya, sikapnya, tindak-tanduknya dan sebagainya.
Sungguh latihan dengan beliau adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan dan membawa pemahaman lebih dalam. Walaupun penggunaan bahasa jepang oleh beliau ditambah translator yang masih on & off membuat beberapa murid mengantuk pada saat diberikan penjelasan panjang lebar tentang pemahaman latihan. Mudah-mudahan hal ini bisa diperbaiki di seminar tahun depan, ada yang berminat latihan jadi penterjemah?

Popularity: 28% [?]
“untuk dapat berkembang dengan baik , kita harus meniru/mengkopi guru/Sensei kita†(Kubota)
——
Rio :
Ya benar, kita harus mencontoh/mengkopi guru/sensei kita. Pertanyaannya adalah siapakah sensei kita ? sensei sejati ?
Sesuai perkataan Morihei Ueshiba, kalau mau mencontoh maka contohlah Tuhan, Tuhanlah sensei sejati dan hanya ada satu sensei.
——–
Then, how can you straighten your warped mind, purify your heart, and be harmonized with the activities of all things in Nature? You should first make God’s heart yours. It is a Great Love, Omnipresent in all quarters- and in all times of the universe. “There is no discord in love. There is no enemy of love.” A mind of discord, thinking of the existence of an enemy, is no longer consistent with the will of God.
———-
Make God’s heart yours, jadikanlah hati Tuhan sebagai hatimu.
O’sensei itu sensei yang sekaligus bukan sensei karena ternyata dia sendiri belajar dari Tuhan. Tuhan lah sensei sejati, bukan Kubota, bahkan bukan O’sensei.
Bukti lainnya bisa kita lihat di pendiri silat cikalong aliran pancer bumi, esensi ilmunya sama dengan Aikidonya O’sensei, padahal mereka terpisah jarak dan waktu. Artinya apa ? mereka punya sensei yang sama, yakni harmoni atau kita menyebutnya Tuhan.
Salam,
Rio