Q:
Yth. Sensei
Ada yang menjadi pikiran dalam diri saya, selama berlatih aikido, saya belum memahami apa itu KI, bagaimana cara melatihnya, sehingga seperti yang pernah saya dapat aikido tidak menggunakan otot, kenyataannya saya masih menggunakan otot, kadang kalau saya sebagai nage dan ukenya agak menahan gerakan saya, saya masih menggunakan otot/tenaga. Yang ingin saya tanyakan :
1. Apakah melatih KI itu cukup dibayangkan atau harus dipraktekkan ?
2. Bagaimana cara melatih KI yang baik dan benar ?
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk dapat menggunakan KI ?
Demikian pertanyaan karena ketidaktahuan saya dan saya ingin sekali bisa. Akhirnya saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatian Sensei.
Hormat saya
Adi
A:
Mohon diperhatikan, penjelasan verbal didalam aikido hanyalah sebagian dari jawaban, jawaban yang lengkap hanya bisa diperoleh pada saat anda sudah melihat, mendengar & merasakan, jadi saran saya, jika penjelasan dibawah ini belum dapat dimengerti maka satu-satunya cara adalah bertemu dengan orang yang mengerti dan belajar dari orang tersebut (latihan bersama/ jadi uke)
1. jawabannya di bayangkan (di visualisasikan tepatnya) DAN dipraktekkan,
artinya anda harus menyadari bahwa kesadaran anda (pikiran & hati) adalah bagian yang tidak terpisah dari tubuh anda, dan “kekuatan” bukan hanya berasal dari fisik/ kontraksi otot-otot, tapi ada juga yang disebut kekuatan pikiran & kekuatan hati, dan ini nyata bukan trick atau bohong-bohongan. dan pada saat melakukan gerakan, sangat penting untuk juga memperhatikan hati & pikiran kita selain konsentrasi pada teknik.
2. sebenarnya yang kita latih didalam aikido bukanlah KI, melainkan AIKI, Ki adalah universal life energy (benda nya), sedangkan AIKI adalah Hukum/ cara kerja dari KI, kita belajar menyadari adanya hukum yang mengikat segala sesuatu secara universal, kemudian tunduk (berlaku sesuai) pada hukum tersebut. dan cara berlatih yang benar adalah dengan melatih pikiran, hati & tubuh secara satu kesatuan dan tidak dipisah-pisah, AIKIDO bukan TENAGA DALAM.
3. Jawabannya: SEKEJAP & SEUMUR HIDUP
Sekejap karena begitu kita selaras dengan hukum alam tersebut (AIKI) maka kita langsung bisa merasakan efektivitas, tidak ada latihan untuk menghimpun sebuah kekuatan yang nantinya akan “digunakan”, efek yang terjadi (uke terlempar atau apapun) adalah hasil dari sebuah fenomena hukum alam, anda tinggal mempelajari bagaimana hukum itu bekerja dan menempatkan diri (pikiran,hati & tubuh) selaras dengan hukum tersebut, anda akan LANGSUNG bisa merasakan efektivitas AIKI!!
Seumur hidup karena efektivitas aiki sangat tergantung dari seberapa “pas”/ selarasnya penempatan diri kita dengan hukum alam /AIKI yang senantiasa sedang bekerja, meskipun latihan sudah puluhan tahun, jika satu saat saja kita “lupa” untuk senantiasa menyelaraskan diri maka efektivitas AIKI tidak akan terjadi.
Jadi tidak ada jumlah jam latihan yang bisa menjamin anda pasti sudah menguasai AIKIDO,
kalo boleh saya beri perumpamaan sederhana, anda BISA saja mengendarai motor/mobil di jalan TANPA harus tau ATURAN, tapi akibatnya anda sering sekali berbenturan/mengalami kecelakaan,tapi selama anda belum tau aturan berkendara kemungkinan besar anda akan berpikir BEGINILAH keadaan menyetir di jalan.
sampai satu waktu anda ditangkap polisi dan dikasi TAHU ATURAN yang benar dalam berkendara, sejak saat itu anda TUNDUK pada aturan, SEKETIKA anda TUNDUK pada aturan, maka benturan/kecelakaan yang anda alami selama ini tentu akan hilang, meskipun sudah tahu dan tunduk pada hukum tersebut sekian puluh tahun, BEGITU anda MELANGGAR aturan tersebut, anda mengambil resiko untuk terlibat kecelakaan lagi.
AIKIDO juga sama, anda bisa saja melakukan “teknik-teknik aikido” TANPA mengerti tentang AIKI, tapi anda akan banyak sekali harus menghadapi hambatan/benturan dll. tapi begitu anda MENGETAHUI, MENYADARI kemudian TUNDUK pada hukum yang mengikat kita semua, maka AIKIDO anda akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.
akhir kata saya ingatkan kembali bahwa penjelasan verbal seperti ini hanya mampu membuka sekelumit dari rahasia & kebaikan di dalam AIKIDO, sebagian besar porsinya anda hanya bisa dapatkan diatas matras berlatih dengan orang yang lebih mengerti (sempai / Sensei anda), jika anda berkenan silahkan bertamu ke dojo-dojo kami, kami akan dengan senang berbagi bersama anda.
Popularity: 48% [?]
salam…
saya ingin menambahkan penjelasan dari sensei, dalam memahami Aiki kita juga harus selalu “open mind” dalam belajar dari senpai atau sensei untuk memahami esensi Aiki, artinya selama Anda, saya, atau siapa saja yang ingin belajar bagaimana memahami Aiki selalu berfikir positif dan mengharapkan yang terbaik. bagaimanapun dalam belajar kita pasti akan menemukan kebingungan(saya pertama kali juga begitu), namun seiring dengan berjalannya waktu dan seringnya kita berlatih saya yakin kita akan memahami apa itu Aiki.
Adi :
bagaimana cara melatihnya, sehingga seperti yang pernah saya dapat aikido tidak menggunakan otot, kenyataannya saya masih menggunakan otot, kadang kalau saya sebagai nage dan ukenya agak menahan gerakan saya, saya masih menggunakan otot/tenaga.
————————–
Rio :
Ikutan ya ….
Kalau dari bagian tulisan Adi di atas maka jawabnya ..ya dilatihlah jangan pakai otot
.Berhentilah menggunakan otot !.
Namun demikian, kalau masih pakai otot di awal2 latihan ya nggak papa juga, otot toh ki juga, nanti perlahan-lahan belajar “meninggalkan” ketergantungan pada otot.
Kalau tertahan sama uke, ‘nggak usah dipaksakan, nggak usah cari-cari “celah”, mencari kelemahan uke artinya mencari salah benar, alias keterpisahan, nggak usah juga mikirin diri sendiri, cari-cari apa yang salah pada diri sendiri (“gw salah apa ya ?”), mikirin diri sendiri ya keterpisahan juga.
Lakukan satu hal, yakni semakin embrace uke, semakin menyatu dengan uke, terima uke dengan segala keinginannya (megang tangan kita/konflik dengan kita), ikatkan diri, serahkan diri sepenuhnya pada uke, dan beradalah (be in) harmony, mushin, nggak usah mikirin yang nggak harus dipikirin, and then …move in harmony.
Cheers,
Rio
Dear Adi,
Lanjut ya..
Ketika misalnya katatetori atau ryokatate, “perlakukan” (mind setting) tangan kita yang dipegang itu sebagai “kabel” sebagai penghubung fisikal antara kita (nage) dan uke.
Hubungan itu sejatinya sudah ada di tataran ki bahkan sebelum uke memegang tangan kita, atau disebut ki no musubi. Ki no musubi adalah dari kita (nage), kita menerima bahwa segala sesuatu itu saling terhubung (interconnected). Secara sederhana bisa kita lihat dari oksigen yang sama-sama dihirup oleh nage dan uke, bumi yang dipijak oleh baik nage maupun uke, space/ruangan yang sama-sama ditempati oleh keduanya, semuanya terhubung.
Nage menerima ketersalingterhubungan ini dengan pikirannya, dan terutama dengan hatinya (kokoro).
Kemudian uke datang, memegang tangan kita (pegangan tangan adalah simulasi konflik), uke ingin mendominasi nage, mengintimidasi nage.
Lah yang dilakukan uke ini adalah suatu ilusi, karena yang saling terhubung tidak bisa saling mendominasi, konflik akan ter-adjust oleh harmony.
Ketika uke memegang tangan nage, maka uke justru meng-iya-kan apa yang ada di mind set nage, bahwa semua terhubung. Jadi nage tidak perlu “ngapa-ngapain” lagi, mushin, nggak perlu ada keinginan mengalahkan uke, melempar uke, menjatuhkan uke, hanya ber-ada saja, keberadaan dengan penerimaan akan saling terhubungnya satu sama lain (ki no musubi).
Tangan yang terpegang adalah kabel, adalah penghubung fisikal antara nage dan uke,yang mana itu juga sebenarnya “tidak perlu” wong secara ki sudah terhubung kok (ki no musubi). Sehingga tidak perlu otot, tidak perlu maksa.
Ki digerakkan oleh mind. Tubuh fisik uke ya ki, tubuh fisik nage ya ki, di antara nage dan uke ya ada ki juga. Analogi : di paru-paru uke ada oksigen, lah di paru-paru nage juga ada oksigen dan diantara nage dan uke ya ada oksigen juga.
Selanjutnya ya tinggal move in harmony, drop hara, maju, mundur, ke kanan atau ke kiri.
Moving in harmony itu tidak boleh ada niat/keinginan si nage, misalnya “saya ingin menurunkan/mendorong si uke”. Adanya keinginan (saya/nage) akan langsung memisahkan nage dari uke.
Lalu ? ya praktek, seperti kata Sensei Hakim, mesti dilakukan, teori mungkin bisa menolong sampai tingkatan tertentu, tapi merasakan adalah segalanya
Cheers,
Rio
Sensei Hakim,mohon ijin ikut sharing pengalaman
Nama saya Irwan,dari Dojo Gelanggang Taruna Bandung.Ikut berlatih Aikido sejak tahun 1991 dibawah Sensei Gustiana.Sensei,kita sebenarnya pernah bertemu waktu Sensei jadi penguji di Bandung sekitar th 1996-1997.
Sejak saya berlatih Aikido sampai saat ini, yang namanya AIKI itu sangat susah untuk diterangkan.Tiap orang juga pasti akan menjawab berbeda atas pertanyaan ini.Yang menarik,setelah belasan tahun berlatih Aikido, saya merasakan bgmn AIKI itu dan mempraktekannya hanya dalam hitungan menit.Saya mendapatkan hal itu dari rekan Aikido saya dan dia mendapatkannya justru bukan dari orang yang belajar Aikido secara resmi.Yang saya rasakan ketika itu, ketika saya melakukan Katatedori dan morote dori thd rekan saya itu, saya nerasakan seolah-olah tenaga saya hilang tersedot, dan saya ikut kemana rekan saya itu mengarahkan badan saya.Apakah memang rasanya AIKI seperti itu?Mohon penjelasannya,Terima kasih
ma’af sensei, ada yang tertinggal.
Waktu saya melakukan pegangan katatedori dan morotedori,rekan saya itu belum melakukan teknik apapun, tetapi tenaga saya sudah kosong, sehingga dia dengan mudah membawa badan saya.Terimakasih