Seminar Aikido Yoshinobu Takeda Shihan

February 4, 2008

Editorial Februari’08

Mempertanyakan Keberanian

Jalan beladiri menempa diri kita salah satunya untuk menjadi orang yang berani atau memiliki keberanian, tetapi apa sebenarnya definisi aplikatif dari berani? Bagaimana cerminan keberanian dalam keseharian seseorang? Sebagai ilustrasi, untuk mencapai rumahnya si A dapat memilih 2 jalan, satu jalan gelap yang sering ditongkrongi preman-preman yang sedang mabuk atau satu jalan lagi terang dan dekat dengan tempat ibadah, jika si A adalah seorang pemberani jalan mana yang akan dia pilih? Jika anda ditempatkan pada posisi si A, jalan mana yang anda pilih? Jika anda memilih jalan yang terang, apa kah otomatis anda tidak dapat dikategorikan sebagai seorang pemberani? Tentu kebanyakan dari anda tidak akan setuju dengan penilaian seperti ini. Begitu juga sebaliknya, jika anda memilih jalan yang gelap dan berbahaya, lalu katakanlah karena nasib, anda harus berkelahi dengan para preman tersebut sehingga mendapat luka, menurut anda tindakan seperti ini berani, atau malah (maaf,) bodoh?. Atau bagaimana jika jalan menuju rumah kita hanya satu, biasanya jalan tersebut aman-aman saja, tapi malam ini, jalan itu dipenuhi preman-preman bersenjata yang baru kalah judi (berhubung cuma ilustrasi sedikit ekstrim tak apalah), apa yang akan kita lakukan? Apa kita lihat dulu, berapa banyak premannya? 1, 2 orang kah? Kalo segitu, masih berani. Kalau 10 orang? Apa lalu kita memilih tidur di pos ronda dan meninggalkan keluarga kita dirumah khawatir?
Atau mari kita ambil contoh yang lain lebih mendekati kenyataan, jika anda telah melakukan kesalahan misalnya saja, melakukan pengeboran yang akhirnya mengakibatkan keluarnya isi bumi, lumpur beracun yang mengakibatkan ratusan bahkan ribuan warga sekitar kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian dan menimbulkan kesengsaraan yang kian hari makin parah, meluas dan tak terkendali. Anda sendiripun tidak tahu bagaimana menyelesaikan itu semua. Masih berani kah anda mengatakan “Ya, ini salah saya, dan saya akan bertanggung jawab menyelesaikan semua ini dengan jalan yang terbaik bagi semua” atau justru merasa lega ketika pemerintah mencabut semua tuntutan pada anda dan menyalahkan itu semua pada bencana alam?
Dari contoh ilustrasi diatas, pertanyaannya adalah apakah keberanian itu relatif? Apakah bersikap berani adalah sebuah pilihan yang kita tentukan?
Jawabannya: memang ada keberanian macam ini tapi ini adalah sebuah keberanian semu yang didasari ke-akuan.Oleh karena itu, didalam aplikasinya keberanian seperti ini masih didasari banyak pertimbangan, untung-rugi, jika pasti untung saya berani, jika kemungkinan besar rugi, saya tidak berani. Kalah-menang, jika pasti menang saya berani, jika kemungkinan besar kalah, saya tidak berani. Keberanian seperti ini bukanlah keberanian sejati.
Keberanian sejati adalah keberanian yang tidak bersifat relatif, karena dari awal keberanian sejati bukan muncul dari keinginan atau pilihan pribadi tetapi Ditanamkan oleh Yang Maha Kuasa karena kita berserah diri untuk alasan yang tepat, yaitu menegakkan kebenaran dan menjaga amanat. Kedua alasan tersebut tepat karena ia tidak bersifat egosentris, tidak ada keuntungan pribadi yang dapat kita ambil dari situ. Pada saat itu lah keberanian yang kita rasakan dalam diri kita tidak lagi bersifat meluap-luap seperti api yang siap membakar dan melahap semua yang ada dihadapannya, melainkan berbentuk ketenangan hati dan kesabaran untuk menghadapi apapun. Semoga latihan kita membawa kita menjadi orang-orang yang memiliki keberanian sejati…

Popularity: 31% [?]

Harmoniskan dengan Komentar

   

Aikido Book Refference

 

Souvenirs