January 15, 2008
Q&A
Q:
Dear Jon,
Tulisan yang menarik, terima kasih sudah berbagi dengan kita semua…
Ada pertanyaan…
Bisakah saya mengganti/memodifikasi paragraf satu (lihat artikel “Tahap Kedua Pembelajaran Aikido” oleh Jon) menjadi sbb ? :
—————
The Tao that can be expressed in words,
Is not the true and eternal Tao;
…………….
The Aikido that can be expressed in waza,
Is not the true and eternal Aikido;
—————
Thanks,
Rio
A:
Rekan Rio,
Hehehe, trims tuk tanggapannya…
Sebenarnya saya merasa belum cukup kompeten untuk menanggapi lanjut nih, karena pembelajaran Aikido menurut saya adalah pembelajaran seumur hidup dan sering sekali pemahaman yang telah kita peroleh di ‘tingkat’ tertentu akan dikoreksi kembali oleh pencapaian-pencapaian idi tingkat berikutnya.
Memasuki wilayah yang makin esensial akan menjadi semakin sulit untuk diuraikan ke dalam kata-kata karena kata-kata adalah produk dari pengenalan dan pengalaman kita yang terbatas. Dalam proses yang panjang ini, tidak ada salah-benar secara absolut, karena kebenaran di satu ‘tingkat’ bisa jadi malah perlu dihancurkan terlebih dahulu untuk dapat memasuki tingkat yang lain. Tapi sepanjang kita mencoba untuk menelusuri, baik secara intelek maupun secara intuitif, kajian ini bisa menjadi sangat menarik untuk diteruskan, sepanjang juga menerapkan prinsip harmoni Aiki.
Kita coba ya.. Anggap aja ‘penuangan ke dalam kata-kata’ dan diskusi juga merupakan salah satu bentuk waza untuk mengekspresikan pemahaman masing-masing individu akan Aikido Sejati, hehehe…
From Rio:
“The Aikido that can be expressed in waza,
Is not the true and eternal Aikido”
…………………
Bagi saya, di satu sisi, statement modifikasi ini bisa diterima sepanjang Aikidoka memahami bahwa inti Aikido bukanlah pada wazanya. Dalam hal ini benar, karena Aikido sangat luas ekspresinya, tidak hanya melalui waza saja.
…………………
Namun kalo mau diselami lebih dalam ni, hehehe… Di sisi lain, bagi saya, sepertinya pernyataan tersebut mempunyai celah untuk menjustifikasi, menjadikan seakan-akan waza malah menjadi hal yang menegasikan esensi Aikido. Pengertian awamnya seakan-akan: apapun yang dapat diekspresikan ke dalam waza, itu pasti bukan Aikido sejati. Kira-kira begitu bukan ya? Kalo ya, mungkin kita perlu bersama-sama menyempurnakan lagi statement modifikasi tersebut.
…………………
Sepanjang pemahaman saya, waza, baik dalam bentuk teknik fisik maupun ki-waza adalah sarana bantu untuk:
1. mengenal & mempelajari (kita dalam posisi belum tahu sama sekali, dikenalkan oleh para sensei maupun Aikidoka lain yang telah lebih dulu tahu dan memahami, dalam bentuk waza)
2. memahami (di balik waza2 yang berbeda terdapat prinsip/esensi Aikido yang universal)
3. mengekpresikan (kita telah tahu sedikit dan mencoba untuk mengaplikasikan pemahaman tsb ke dalam bentuk eksekusi teknik)
4. menguji (proses pengulangan aplikasi guna mengecek apakah pemahaman kita sudah menjadi lebih baik atau belum, sambil mengurangi efek bias dari pemahaman lain yang bukan Aikido melalui feedback dari uke ketika kita menjadi nage)
prinsip-prinsip Aiki yang berlaku universal. Jadi intinya, waza adalah salah satu bentuk (form) yang penting untuk memperoleh dan menguji prinsip/esensi Aiki yang telah dan tengah kita pahami. Transfer pemahaman O’ Sensei akan Aikido terwariskan kepada kita-kita dari lineage yang lumayan panjang justru melalui waza. Inilah uniknya!
——————————————————————————————-
Prosesnya transfer esensi Aikido melalui waza:
* Nage : Pemahaman esensi Aiki (Dimensi Formless) –> transfer kepada Uke melalui eksekusi waza (Dimensi Form)
* Uke : melalui Ukemi (receiving) terhadap waza yang dieksekusikan nage (Dimensi Form) –> menumbuhkan pemahaman akan esensi Aiki (Dimensi Formless), dst kepada rangkaian uke-nage berikutnya…
——————————————————————————————-
Balik ke urusan kata-kata :), menurut saya mungkin akan ada baiknya kalo kita tambahkan dua kata “always an expression of” untuk mengurangi efek justifikasi tersebut, menjadi:
“The Aikido that can be expressed in waza,
Is not always an expression of the true and eternal Aikido”
Dengan ini, walaupun modifikasi lanjutan ini masih jauh dari sempurna, setidaknya mengingatkan kita untuk tidak terus terjebak dalam upaya mengabsolutkan pengertian pribadi kita akan Aikido (dengan penggunaan kata “is” atau “is not”). Selain itu juga mencegah kita untuk terburu-buru memastikan secara sepihak apakah seseorang yang memperlihatkan eksekusi waza itu dapat benar-benar telah mengerti atau tidak mengerti prinsip/esensi Aikido. Karena untuk menguji ‘pencapaian’ sang nage, kita tokh tetap harus melalui proses ukemi dengan menjadi uke langsung kan? Kalo hanya melihat, seringkali bias persepsi.
Akhir kata, bagi saya, waza tetap merupakan bagian penting dalam pembelajaran Aikido karena melaluinyalah prinsip2 atau esensi2 dapat tersalur (’ditransfer’) kepada kita dengan cara yang unik walaupun waza itu sendiri bukanlah Aikido sejati, juga bukan satu-satunya perwujudan Aikido (setuju dengan pemahaman di sisi pertama dari statement rekan Rio).
Rekan Rio, kapan-kapan kita berlatih bersama ya… Btw, Anda berlatih di dojo mana? Mohon tanggapannya lebih lanjut untuk sama-sama mengkoreksi pemahaman saya yang terbatas ini kalo ada.. Tanggapan ini masih jauh dari sempurna dan masih belum mewakili intisari Aikido itu sendiri. O-negai…
Rgrds,
Jonhul
P.S.:
1. Sebenarnya aplikasi pemahaman Aikido dapat diwujudkan tidak hanya melalui waza saja karena penerapan di lingkungan pergaulan sosial, dll juga terbuka luas untuk hal ini. O’ Sensei mewariskan Aikido dalam bentuk yang proporsional, pelatihan yang melibatkan antara body & mind (spirit), tidak semata aspek mind (spirit) saja. Jadi waza yang menyentuh aspek physically tetap perlu mendapat polesan demi mempertahankan otentisitas pengajaran O’ Sensei.
Popularity: 49% [?]
