January 2, 2008
Tahap/Aspek Kedua Pembelajaran Aikido
Memasuki tahap kedua dari pembelajaranku akan Aikido membuatku agak kesulitan untuk mengadaptasikan apa yang telah kualami ke dalam segi pemikiran yang terwakili ke dalam kalimat-kalimat sederhana. Dua tahap pembelajaran Aikido yang kumaksud adalah masa-masa dimana diriku bersentuhan dengan dua aspek yang semula kelihatannya berbeda namun pada akhirnya tampak berkaitan satu sama lain. Tahap pertama yang kualami adalah pengenalan Aikido di dalam dimensi keteknikan yang masih dapat dijelaskan secara logis. Dalam hal ini, teknik masih dapat terpahami secara sederhana melalui penjabaran kombinasi sudut masuk (irimi), kuncian dan movement yang berkesinambungan setelah melebur dengan arah dan intensi serangan uke (yang terwakili dalam proses penerimaan, positioning antara center line kita sebagai nage dan center line uke serta positioning untuk mengalirkan arah intensi-serangan uke tanpa konflik). Dalam tahap pertama ini, rasionalisasi dari proses eksekusi teknik ke dalam pembahasaan sederhana sekurang-kurangnya dapat ‘menularkan pengetahuan’ ini bagi rekan aikidoka yang lain. Dalam hal ini, penjelasan konseptual mendahului dan mampu merangsang munculnya pemahaman dan pengalaman.
Memasuki tahap kedua, yang telah kualami selama beberapa minggu belakangan ini dan puncaknya terakhir, malam latihan kemarin yang baru saja berlalu, membuatku kembali teringat akan sebuah untuaian kalimat-kalimat tua yang amat sulit untuk terpahami olehku selama ini. Bersentuhan dengan aspek kedua Aikido adalah berada di dalam dimensi ‘pengenalan melalui pengalaman’, mengalami sendiri secara langsung, tanpa didahului pra-konsepsi. Jika di dalam tahap pertama, penyampaian konsepsi (penjelasan logis-intelektual) dapat menumbuhkan pengenalan (pemahaman) tanpa proses mengalami, di dalam tahap kedua ini, mutlak diperlukan proses mengalami terlebih dahulu. Setelah itu, apabila sempat, baru dibahasakan untuk disimpan dalam Buku Diary :) Logika dan Pikiran manusia menemui sejenis hambatan dalam pengenalan aspek kedua ini.
Berikut ini adalah beberapa baris kalimat sulit yang tampaknya baru tersingkap maknanya setelah diriku berkesempatan mengecap dan mengalami proses tahap kedua Aikido:
The Tao1) that can be expressed in words,
Is not the true and eternal Tao;
The name that can be uttered in words,
Is not the true and eternal name.
The word “Nothingness” may be used
to designate the beginning of Heaven and Earth2);
The word “Existence (Being)” may be used
to designate the mother of all things.
Hence one should gain an insight into the subtley
of Tao by observing Nothingness,
and should gain an insight into the beginning
of Tao by observing Existence (Being).
These two things, Nothingness and Existence,
Are of the same origin but different in name.
They are extremely profound in depth
Serving as the door of myriad secret beings.
Chapter 1, The Book of Tao and Teh (Dao De Jing)
Tulisanku kali ini mungkin akan sedikit membingungkan rekan-rekan pembaca yang lain. Untuk memahami apa yang seseorang alami, minimal perlu sebuah tindakan menarik mundur ke dalam historisitas perkembangan pengalaman dan pemikiran orang tersebut, berusaha menyelami apa yang dimaksud oleh orang tersebut dengan penggunaan konsep dan kata-kata tertentu. Beberapa penjelasan sederhana berikut ini mudah-mudahan dapat membawa orang lain menuju apa yang menurut saya amat sangat menarik untuk dibahas dan dibagikan ke teman-teman yang lain.
Kearifan Timur setahu saya secara sederhana seringkali dikatakan berbeda dengan kearifan Barat. Mungkin hal ini ada benarnya tatkala kita mencoba untuk menyelami ‘tools’ pengenalan dan proses penjabaran masing-masing kubu akan sesuatu. Dunia barat cenderung menggunakan rasio untuk menjelaskan segala sesuatu dan umumnya mencapai tujuan melalui analisis dan penyederhanaan, diaman suatu kasus atau benda dipilah-pilah yang kemudian ditelusuri satu persatu secara mendalam secara terpisah. Kearifan timur cenderung dikembangkan melalui intuisi dan dalam prosesnya mencoba untuk menggabungkan, menyatukan berbagai aspek yang pada awalnya terlihat tidak berkaitan satu sama lain. Aikido, sebagai salah satu produk kearifan timur mewakili kecederungan pola pikir timur ini. Makanya jangan heran, mengapa O’ Sensei berbagi ‘peta’ proses perjalanan spiritualnya berupa teknik bela diri. Apa hubungan logis antara teknik bela diri dan spiritualitas?
Dalam bait kedua kalimat di atas disinggung dua konsep kata yang kalau mau kita analisa mendalam, akan menumbuhkan banyak pengertian dan mudah-mudahan menstimulasi sedikit pencerahan :) Kita cenderung lebih mudah memahami sesuatu yang telah ada, nyata dan terlihat, atau bahasa filosofisnya ‘telah bereksistensi’. Kalau semata-mata membahas masalah dalam dimensi “keberadaan”, logika dan pemikiran barat telah dikembangkan dengan sangat baik selama ini dan membuahkan karya peradaban tinggi manusia akhir-akhir ini. Science dan Teknologi adalah salah produk unggulan dimensi ini.
Dalam tataran pengalamanku, apa yang menjadi terpahami setelah memasuki tahap kedua dari pembelajaran akan Aikido adalah penyadaran akan adanya aspek atau dimensi lain yang dalam bahasa sederhananya terwakili dalam kata “Nothingness” (Chinese: Wu, Japanese: Mu). Kalau kata pertama, ‘Eksistensi’ mewakili segala sesuatu yang ada dan dapat dikenali, kata kedua, ‘Ketiadaan’ mewakili sesuatu yang ada namun tidak (atau belum) dikenali, tentu saja oleh penginderaan dan pikiran sebagai alat penerima proses pengenalan.
Penggunaan kata “dikenali” ini umumnya kita pakai untuk mewakili dimensi keberadaan yang dikenali secara kognitif, berada di dalam dimensi intelek dimana processing tools-nya adalah kognisi/pencerapan dan rasio. Pola pendidikan kita selama ini terbiasa dengan pola pikir Barat sehingga seringkali tanpa kita sadari, aspek pengenalan kita menjadi terbatas, hanya pada sesuatu yang nyata dan dapat dilihat, atau sekurang-kurangnya mengacu pada sesuatu yang telah tertanam entah dari kapan di dalam pikiran kita. Segala sesuatu diterima sebagai ada karena masuk akal3), dapat terpahami karena telah ada pra-kognisi dan pra-konsepsi sebelumnya, yang ujung-ujungnya hanya menyentuh aspek kognitif dari keberadaan. Padahal pada kenyataannya, keberadaan-diluar-jangkauan-kognitif juga banyak. Maka dari itu, menurut pendekatan ini, eksistensi atau keberadaan hanya menyentuh aspek yang dapat diterima oleh pikiran saja, segala sesuatu ada karena ada dalam pikiran, dikenali oleh pikiran dan sesuai dengan alur logika berpikirnya. Logika sesatnya akhirnya menjadi: karena tidak ada dalam pikiran (cth: karena sulit dinalar, sulit diterima akal sehat), maka sesuatu itu disimpulkan tidak ada. Sesuatu dikatakan bereksisten apabila telah mendapat ‘polesan mind’ manusia berupa pengenalan (labelling) melalui proses pencerapan dan berpikir (penalaran). Cogito ergo sum, “aku berpikir, maka aku ada”.
Bersentuhan dengan kata kedua, ‘Nothingness’, penggunaan pola pikir ketimuran akan lebih dapat membimbing kita menuju ke dalam pemahaman sejati akan makna kata yang sulit ini. Contoh istilah dalam Zen dan seni beladiri Jepang yang sering menggunakan kata ini, termasuk Aikido adalah istilah Mushin (Mu = tiada/tanpa; Shin = hati/pikiran). Pengertian sederhananya adalah menjadi ‘tanpa pikiran’ atau ‘tanpa didahului proses berpikir’. Mushin adalah fenomena yang jelas-jelas ada, walaupun menggunakan kata yang sifatnya negatif, yakni ‘tiada’. Keefektifannya dalam eksekusi teknik merupakan pembuktian bahwa itu ada; sesuatu yang “tiada(tanpa)-pikiran” itu ada. Sebuah ketiadaan yang ada; sebuah statement yang sulit dipahami oleh pola pikir Barat. Unik bukan? Jadi pembelajaran penting yang kuperoleh kali ini adalah penerimaan adanya keberadaan tataran pengenalan lain, selain yang melalui proses pemikiran (kognisi). Nah inilah yang menurutku menjadi pintu gerbang untuk masuk dan memahami aspek atau tahap kedua dalam Aikido.
Apa itu aspek dan tahap kedua dalam Aikido? Secara sederhana dapat dijabarkan (sesuai dengan apa yang pernah disampaikan Sensei Hakim) ke dalam istilah ‘Bentuk-Tanpa-Bentuk, Teknik-Tanpa-Teknik’. Jika dalam tahap pertama, cara yang diandalkan untuk mengontrol nage adalah melalui sarana fisik seperti sudut kuncian, positioning dan tentunya memanfaatkan grabbing (pegangan tangan); memasuki tahap kedua, diriku mengalami pengontrolan secara non-fisik (’non-touch’, istilah Sensei Jamal). Dalam hal ini, ada semacam daya (kekuatan) di luar hukum-hukum materi dan yang pastinya membingungkan pikiran karena selama ini ia telah terbiasa berpikir secara mekanistis (cth: siapa lebih kuat, lebih cepat pasti menang; ada keterhubungan/koneksi secara mekanis baru bisa bekerja, dll…).
Controlling through ki, through mind dan through will (aiki-waza?) yang melangsungkan proses pengontrolan tanpa didahului tindakan sentuhan fisik (non-touch), sepanjang yang kupahami, mewakili aspek/tahap kedua pembelajaran Aikidoku kali ini. Mungkin bagi yang belum pernah mengalami, akan mengalami kesulitan dalam menangkap maksud penyampaian ini.
Inti yang ingin kusampaikan kali ini adalah bahwa fenomena semacam ini ada dan nyata walaupun sulit terpahami oleh pikiran. Satu-satunya jalan masuk adalah pengenalan melalui pengalaman, mengalami sendiri secara langsung, sulit untuk memulainya dengan konsepsi manusia yang terbatas. Maka dari itu, diriku seakan membagi proses pembelajaran Aikido ke dalam dua tahap, dimana dalam tahap kedua ini, proses pengenalan tahap pertama, yang memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan secara konseptual, tidak cukup relevan. Dalam tahap kedua, kurang lebih terwakili dalam statement sederhana berikut: ‘Pengalaman mendahului Eksistensi, yang kemudian baru diikuti Esensi’ (modifikasi dari pernyataan Sartre, Eksistensi Manusia mendahului Esensinya :-p).
Kalau pada tahap pertama, esensi keteknikan bisa disampaikan secara verbal melalui pembicaraan untuk merangsang pengenalan yang kemudian dikonfirmasi melalui pengalaman ketika eksekusi berlangsung, dalam tahap kedua, esensi baru bisa terpahami secara perlahan setelah seseorang mengalami sendiri, yang akhirnya mengarahkan dirinya untuk mencari seluk beluk akan keberadaan hal baru tersebut. Ujung-ujungnya, baru bisa dipahami bahwa esensi kedua tahap yang awalnya seakan berbeda itu kurang lebih ternyata rada-rada mirip pada akhirnya! Bingung kan, hehehe…. Kemiripan esensi ini belum bisa saya utarakan dalam tulisan kali ini karena tampaknya bersentuhan dengan aspek filosofis-spiritual Aikido, yang perlu saya konfirmasi lagi melalui banyak pengalaman lain. Mohon maaf sebelumnya….
Mengacu pada bait ketiga mengenai kedua ‘jalan menyelami Tao’, prinsip yang sama tampaknya juga berlaku di dalam Aikido. Cara menyelami pertama adalah pendekatan melalui aspek yang terlihat, terpahami oleh pikiran, pendekatan terhadap sesuatu yang dikatakan telah bereksistensi, telah ada di dalam kerangka konseptual pikiran. Produknya adalah penemuan suatu hukum, prinsip, yang dapat terkomunikasikan, yang akhirnya dapat diwariskan sebagai sebuah ‘ilmu’, sama seperti produk science dan teknologi Barat. Penjabaran keefektifan teknik Aikido secara fisik dan mekanistis mewakili produk aspek pertama. Sebaliknya, cara kedua, sebagai pelengkap cara pertama adalah langsung menembusi inti Tao melalui pendekatan terhadap aspek yang sifatnya Nothingness (Tiada namun Ada), tidak berwujud, tidak terbentuk, tidak terdefinisi, tidak ternalar proses pikiran selama ini. Darinya mungkin penelusuran kembali dimensi spiritualitas manusia bermula dan dapat membimbing manusia kembali ke hakikat awal keberadaan dirinya. Dalam hal ini, apa yang diceritakan para Sensei mengenai Aiki-Waza (ekstrimnya Kami-Waza) mungkin mewakili dimensi ini, dan sarana pemahaman satu-satunya menurut saya adalah hanya dengan mencicipinya secara langsung dari Sensei atau Sempai atau rekan Aikidoka lain yang kompeten.
Secara sederhana, refleksi yang penuh dengan segala keterbatasan akan pengalaman tahap kedua ini bagi saya cukup bermanfaat untuk menstimulasi semangat untuk lebih menggali prinsip Aikido yang tampaknya hampir tidak terbatas. Hal ini terus terang belum menyentuh aspek spiritualitas Aikido sebagaimana yang diutarakan O’ Sensei. Tapi bagi saya hal ini cukuplah… cukup membingungkan, hehehe.
Terakhir, sama halnya dengan bait keempat, kedua jalan ini juga berlaku di dalam Aikido, dimana jalan yang satu akan melengkapi jalan yang lain. Apa yang terpahami dalam proses kedua, kurang lebih memiliki esensi yang sama walaupun hal ini dalam diri saya hal ini masih baru tampak sebagai cahaya yang remang-remang. Kedua tahap ini berhubungan satu sama lain dan membimbing kita lebih dalam kepada Inti Aikido yang masih penuh dengan misteri
(bagi saya).
Intinya, dalam pembelajaran akan tahap kedua ini, saya pribadi mengalami sebuah transformasi paradigma mengenai keberadaan hubungan antara materi dan energi. Ada dimensi dan keberadaan daya energi halus yang melampaui hukum mekanikal-fisikal materialistis yang bekerja di dalam alam semesta, dan hal yang sama ternyata juga berlaku di dalam keberadaan diri saya sebagai manusia yang terbatas. Pengenalan akan hal ini menyadarkan diri saya bahwa saya adalah bagian dari Alam Semesta yang sangat luas dan akan menjadi sangat bodoh apabila saya berpikir bahwa diri saya dapat terpisah darinya, apalagi berpikir mampu untuk menguasainya (mengeksploitasi tanpa batas) secara keseluruhan. Mungkin pemahaman ini masih jauh dari spiritualitas Aikido yang sejati, tapi bagi saya, hal ini cukup efektif untuk sedikit demi sedikit mengikis ‘false belief’ mengenai keberadaan diri yang salah selama ini.
Berusaha untuk tetap menjaga Beginner’s Spirit (Shoshin) mungkin salah satu sikap yang baik untuk tetap menjaga dan mengasah kepekaan guna mampu menerima pemahaman-pemahaman lanjutan Aikido yang tampaknya makin lama makin menghalus. Mengacu pada bait pertama, apa yang saya jadikan dasar spirit saya pribadi selama ini dalam mendalami Aikido adalah selalu jangan terburu-buru menjustifikasi pengalaman yang saya temukan baru-baru ini sebagai inti tertinggi dari Aikido. Sebagaimana dengan jelas tersirat, pengenalan dan penamaan hanyalah sarana bantu untuk mewakili, mendekati obyek yang sesungguhnya, namun pengenalan dan penamaan itu sendiri bukanlah Hal Itu.
Akhir kata, terima kasih sekali lagi untuk bimbingan dan transfer ilmu dari para Sensei (S. Hakim untuk transfer ilmunya secara konseptual, sayang saya agak jarang bertemu dengan beliau; secara khusus thd. S. Jamal dan S. Imei untuk pengenalan Aiki-Wazanya & S. Tony, thx juga tuk sharing karakteristik aikinya 2 minggu yang lalu), juga dari para Sempai Aiki kenkyukai (Mas Gunarto, Mas Iwan, P’ Kendy, P’ Haresh, P’ Handry, dll..) selama ini, khususnya dalam share ‘ilmu hitam’nya (aspek Aikido kedua, dalam istilah saya pribadi), hehehe… Mari kita menjadi lebih semangat dalam menelusuri inti Aikido sebagaimana yang diajarkan oleh O’ Sensei dan yang juga difasilitasi oleh komunitas Aiki Kenkyukai. Onegai Shimasu!
Footnote:
1. Secara eksplisit, masih belum jelas adakah konektivitas antara Aikido yang berakar dari Shinto (Chinese: Shen Dao / Shen Tao) dengan Daoisme (Taoisme) klasik China. Untuk sementara ini, saya hanya dapat menyimpulkan, bahwa dengan fakta penggunaan huruf Kanji (Chinese: Han Zi) yang sama, “Do” (Chinese: Dao/Tao), mungkin kedua pola pikir peradaban tinggi kuno tersebut saling berhubungan satu sama lain.
2. Dalam bait kedua menyentuh istilah ‘Heaven and Earth’, yang bisa dan seringkali diterjemahkan secara harafiah, dalam tataran makrokosmik (Heaven:Langit/Surga dan Earth: Bumi/Alam Manusia). Dalam pengertian lain, kedua kata ini ternyata sering juga digunakan untuk mewakili aspek mikrokosmik (Heaven=Mind/Spirit, Earth=Body). Ingat kan nama teknik Tenchi-nage (Ten/Tian=Heaven; Chi/Di=Earth)? Ternyata dengan penggabungan penggunaan kedua pengertian ini akan lebih mudah ‘masuk’ karena selain aspek fisik yang terwakili dalam eksekusi berupa positioning tangan yang berbeda yang mewakili posisi Langit dan Bumi, tanpa ‘harmonizing’ mind and body antara nage dan uke, eksekusi teknik tersebut akan sulit untuk mengalir secara smooth. Lagi-lagi apabila pendekatan ini menggunakan penggabungan dua pendekatan jalan, akan saling menunjang satu-sama lain. Menarik bukan?
3. Istilah ‘make sense’ (masuk akal) walaupun produk pemikiran Barat sebenarnya menyiratkan adanya tools selain akal sebagai sarana untuk mengkonfirmasikan keberadaan sesuatu.
Jon
(13 Desember 2007: 03.00 ~ 12.30)
Popularity: 50% [?]
