September 7, 2007
Seminar Ikuhiro Kubota Shihan
Seminar Ikuhiro Kubota Shihan
Graha Surveyor Indonesia, 1 & 2 September 2007
Tanggal 1 & 2 September 2007 kemarin, Aiki Kenkyukai menggelar seminar Aikido dengan pengajar utama Ikuhiro Kubota Shihan (7th Dan). Seminar di laksanakan dua hari, hari Sabtu yang diperuntukkan bagi semua level, sedangkan dihari kedua yang direncanakan untuk yudansha tapi kemudian Kubota Shihan memperbolehkan diikuti oleh peserta hingga kyu 2.
Di hari pertama, seminar dimulai dengan aiki taisho (aiki preparation) dengan penekanan pada pelajaran kokyu-ho (melatih nafas), Kubota Shihan mengingatkan untuk melatih gerakan dan nafas ini paling sedikit 3 menit untuk tiap gerakannya dalam setiap sesi latihan, kemudian dilanjutkan dengan latihan sabaki (pergerakan badan), didalam latihannya Kubota Shihan memperlihatkan bahwa sabaki adalah hal penting karena menjadi dasar dalam tiap gerakan, dengan sabaki yang sama, bahkan bisa melakukan penyelesaian teknik yang berbeda-beda. Beliau memperlihatkan hal ini agar para murid mengerti & selalu ingat untuk melatih hal-hal yang menjadi dasar dari tiap teknik.
Didalam pembahasan teknik, Kubota Shihan tak bosan-bosan nya memperlihatkan similaritas antara satu teknik dan teknik yang lain, agar para murid dapat melihat hubungan dan benang merah dari tiap-tiap teknik yaitu prinsip dasar, beliau juga mengingatkan dengan memberi perumpaan sebuah pohon yang besar dan kuat berasal dari bijih (benih) yang baik, yang kemudian dirawat dengan benar. bahwa semua berawal dari benih, jika kita mau berhati-hati dalam memilih dan merawat benih yang kita tanam, maka hasilnya adalah sebuah pohon yang dapat tumbuh besar dan kokoh. Begitu juga adanya dengan teknik aikido, jika kita mau meluangkan waktu untuk lebih memahami apa yang menjadi dasar dari tiap-tiap gerakan, dan berlatih untuk memantapkan dasar tersebut, maka aikido kita akan berkembang dengan baik.
Selanjutnya Kubota Shihan menunjukkan bagaimana seharusnya Uke dan Nage itu berfungsi/ berperilaku dalam konteks latihan berpasangan. Bahwa keduanya harus bersikap layaknya dalam pertempuran sebenarnya, sehingga kedua pihak tidak boleh lengah karena keduanya juga sama-sama tahu bahwa pihak yang berlawanan juga memiliki niat yang sama yaitu menyelesaikan pertempuran ini secepat mungkin. Dari sikap demikian terbentuk suatu koneksitas yang disebut harmoni. Kubota Shihan lewat peragaan teknik betul-betul ingin menunjukkan bahwa ikatan yang kuat tidak harus muncul dari bentuk hubungan kerjasama dalam keadaan damai layaknya tarian, tapi juga pada saat dua pihak berhadapan dalam sebuah pertempuran hidup atau mati.
Pada hari kedua, Kubota Shihan memberikan penekanan pada apa-apa saja yang harus diperhatikan oleh para yudansha sebagai aikidoka yang telah memiliki tanggung jawab untuk berbagi ilmu dengan orang lain. Salah satunya kembali ditekankan tentang pentingnya memahami hubungan antara nage dan uke, apa peran masing-masing, dan bagaimana keduanya dapat berfungsi sesuai perannya. Kali ini menggunakan metode latihan menggunakan tali kecil sebagai penghubung, nage memegang satu ujung tali dan uke memegang ujung tali yang satunya lagi, inti dari latihan ini adalah memahami bagaimana seharusnya uke dan nage sama-sama berperan didalam menjaga koneksitas, dimana jika salah satu kemudian memutuskan hubungan baik dengan cara memaksa atau membuyarkan konsentrasi dari pasangan maka teknik akan menemui kegagalan, tapi sebaliknya pada saat keduanya berfungsi dengan baik maka hubungan uke-nage terikat kuat sehingga bahkan dapat dengan mudah uke yang memegang ujung tali yang berlawanan dapat terlempar.
Masuk ke pembahasan teknik, Kubota Shihan memberikan petunjuk dan hal-hal esensial dalam teknik koshi-nage (bantingan pinggul) yang seperti yang sudah semua ketahui termasuk salah satu teknik yang cukup rumit untuk dilakukan, menyusahkan dan bahkan menyengsarakan diri sendiri dan orang lain, bila tidak mengerti cara melakukan yang benar. Salah satu intinya adalah untuk tidak lupa menurunkan tanden, karena dengan begitu pusat keseimbangan nage akan lebih baik dan uke menjadi lebih kuzushi (tidak seimbang) dan pada akhirnya jatuh sendiri dikarenakan perubahan titik pusat keseimbangan. Penjelasan beliau betul-betul menggunakan pendekatan yang sederhana, sehingga walaupun dengan keterbatasan bahasa, para peserta sebagian besar terlihat mengangguk mengerti pada saat beliau memberikan penjelasan.
Dalam latihan dihari kedua ini juga Kubota Shihan kerap mengingatkan untuk tidak perlu takut atau memberikan perlawanan (ngotot) pada saat menjadi uke karena inti dari latihan adalah untuk mengerti proses penyelarasan energi (Aiki) dimana nage belajar menyelaraskan dan uke belajar beradaptasi agar dapat menerima penyelarasan tersebut dengan aman. Cukup dengan menjaga fokus (extend ki) pada nage sekaligus menjaga keseimbangan & sikap tubuh kita sendiri.
Di akhir latihan, barulah Kubota Shihan sedikit memperlihatkan kokoro no waza (teknik yang muncul dari hati), teknik aiki versi beliau, dengan melakukan zagi kokyuho dan membuat Hartanto Sensei terlempar hanya dengan menggunakan telunjuk, kemudian membuat Hartanto Sensei tidak dapat berdiri bahkan tanpa bersentuhan.
Acara diselingi oleh demonstrasi dari saudara-saudara kita dari silat Cikalong Pancer Bumi, yang mempertunjukkan teknik-teknik penyelarasan rasa yang juga secara esensial sama dengan teknik Aiki yang kita pelajari. Acara ditutup, dengan foto bersama dan potong kue ulang tahun Hakim Sensei yang juga bertepatan pada hari kedua seminar yaitu tanggal 2 September.
Popularity: 83% [?]
