Seminar Aikido Yoshinobu Takeda Shihan

September 7, 2007

Q&A September’07

Q & A:

Q: Sensei, saya mau tanya, kenapa ada aikido yang keras dan ada yang lembut? Jika melihat filosofinya, aikido yang gerakannya lembut memang lebih cocok, tapi jika lihat di video2 ada juga shihan yang tekniknya terlihat keras, apa berarti Shihan tersebut salah? Mana yang benar? Mohon penjelasannya, terimakasih…

A: Jawaban singkatnya, teknik yang keras dan lembut dua-duanya bisa jadi benar, asalkan secara prinsip dasar tidak melenceng dari prinsip dasar aikido. Mungkin perumpamaan yang paling cocok adalah buah durian, durian kulitnya keras dan tajam tapi lembut dan manis rasa buah didalamnya. Baik kulit maupun buah didalamnya adalah bagian dari satu kesatuan yaitu buah durian. Jika kita baru menyentuh kulitnya saja, durian itu tentu hanya mendatangkan rasa sakit bagi kita, dan terkesan hanya bermanfaat untuk digunakan menyakiti orang lain lagi, tapi jika kita mau bersusah payah untuk membuka kulitnya dan meneliti lebih dalam maka kita akan menemukan bahwa dibalik kulit yang keras, tajam dan menyakitkan, terdapat daging buah yang begitu lembut dan manis, dan kita dapat melihat banyak manfaat lain dari buah durian bahkan tidak lagi melihat durian sebagai benda yang dapat kita gunakan untuk menyakiti orang lain.
Begitu pula aikido, aikido memiliki akar teknik beladiri yang keras, (kenjutsu, aiki jujutsu,dll) sehingga wajar jika pada tahap pemantapan prinsip-prinsip dasar, aikido terlihat keras dan dapat “dimanfaatkan” untuk menimbulkan rasa sakit atau cidera agar lawan menyerah kalah. Tapi jika kita mau sedikit bersusah payah menggali lebih dalam tentang aikido maka kita akan mendapatkan filosofi aikido yang begitu lembut dan tidak menekankan pada penggunaan kekerasan dalam penyelesaian masalah, sehingga dapat tergambar pemanfaatan aikido dalam aspek-aspek kehidupan yang lain selain beladiri atau berkelahi.
Menjawab pertanyaan kenapa banyak shihan yang tetap menggunakan teknik keras, saya rasa agak terlalu naif dan underestimate jika mengatakan beliau-beliau belum mendapatkan latihan sampai ke intinya, jadi penjelasan yang paling logis adalah mereka ingin murid yang baru tidak menjadi mabuk terhadap kenyataan bagaimana mudahnya melakukan beladiri menggunakan aiki, melainkan kembali mengingatkan bahwa segala sesuatunya bermula dari hal-hal dasar yang ditanamkan dan dilatih dengan baik dan benar. Seperti perumpamaan durian tadi, untuk mengenali durian tadi tentu yang pertama kali kita hadapi adalah kulitnya, baru kemudian dibuka, dan dinikmati isinya. Teknik Aiki yang lembut ibarat buah yang dinikmati setelah bersusah-payah menanam dan merawat benih durian hingga menjadi sebuah pohon yang besar dan kokoh dan berbuah durian yang baik. Lalu membuka kulit durian yang keras dan tajam dan menikmati buahnya. Para Shihan yang memilih untuk tetap melatih bentuk keras dari aikido kemungkinan berpendapat bahwa lebih baik untuk mengajarkan bagaimana menanam dan merawat benih yang baik sehingga suatu hari nanti muridnya akan dapat menikmati durian hasil tanam mereka sendiri dibandingkan menawarkan durian hasil kupas miliknya.

Popularity: 82% [?]

Harmoniskan dengan Komentar

   

Aikido Book Refference

 

Souvenirs