Saya berbagi pengalaman ini di ilhami tulisan di Inside Aiki beberapa edisi yang lalu tentang awase, penyatuan dengan segala sesuatu. Pada saat saya kuliah dulu, ada seorang pegawai Tata Usaha di kampus saya yang terkenal orangnya sangat judes & tidak bersahabat, sehingga urusan administrasi selalu terkesan hal yang merepotkan untuk teman-teman saya mahasiswa yang lain, sampai menurut cerita ada mahasiswa yang sampai marah-marah dan gebrak meja di ruang TU karena berurusan dengan orang tersebut sebut saja Nn. X,saya sebut Nona karena walaupun sudah berumur tapi (lagi- lagi menurut cerita teman-teman saya) belum menikah.
Suatu hari karena harus mengurus ijazah lebih cepat, mau tidak mau saya harus berurusan dengan Nn.X. Singkatnya, ketika saya baru masuk ruang TU dan menghampiri mejanya, Nn. X sudah melirik dan dengan ketus berkata “mau ngapain!?â€. Detik itu saya teringat semua cerita-cerita tentang Nn. X dari teman-teman saya,betapa sulit mereka berurusan dengan Nn. X, sehingga kemudian saya memutuskan untuk menggunakan pendekatan yang berbeda. Saya bertekad menyelesaikan masalah ini dengan praktek filosofi aikido.
Seperti yang saya latih didalam aikido, konflik yang datang tidaklah diselesaikan dengan adu tenaga & gontok-gontokan melainkan dengan menjadi satu kesatuan sehingga konflik yang muncul menjadi lebur dan tidak merupakan konflik lagi dan baru kemudian diselesaikan. Untuk dapat menyatu dengan orang lain, pertama saya harus bersedia membuka hati dan pikiran saya untuk menerima orang lain. Didalam dojo, menerima uke, di dalam kasus saya, menerima keadaan Nn. X ini apa adanya.
Sehingga kemudian yang terbersit dipikiran saya saat itu adalah keadaan Nn. X, yang sudah berumur namun belum menikah, kerja setiap hari dibelakang meja dan mungkin kurang penghargaan, jarang berinteraksi dengan banyak orang, sekali-kalinya orang mau menyapanya adalah pada saat mahasiswa menyuruh (bukan butuh pertolongan) nya melakukan sesuatu. Dengan membuka hati kepada keadaan Nn. X, saya jadi bisa mengerti kenapa perilaku Nn. X sedemikian rupa pada mahasiswa.
Dengan modal hati yang sudah menerima keadaan Nn. X, saya dapat bereaksi pada pertanyaan ketus Nn. X tadi dengan sebuah senyuman tulus dari hati yang berempati kepada Nn. X. Dan kemudian kata-kata yang keluar dari mulut saya bukan lah makian atau suruhan (seperti pendekatan teman-teman saya) melainkan sebuah permohonan tulus “Mba, maaf kalo aku n’ganggu, aku ngerti Mba’ mungkin lagi repot sekarang, tapi tolong dilihat keperluan saya mau ambil ijazah ini masih bisa dibantu ngga ya?â€.
Dan betapa perubahan kecil dari niat kita dapat merubah situasi konflik menjadi suatu keadaan yang menyenangkan untuk kedua belah pihak. Nn. X kemudian menjawab permohonan saya “mana coba sini lihat!†masih dengan ketus, tapi paling tidak saya tidak ditolak mentah-mentah. Kemudian sesaat berikutnya Nn. X berdiri, berkata “Tunggu sebentar.†(tanpa ekspresi), meninggalkan pekerjaan yang sedang dilakukannya, lalu masuk keruang arsip. Tidak lama, Nn. X keluar dengan ijazah saya dan berkata “ini, minta tanda tangan dekan, nanti balikin kesini, saya capâ€. Masih tersisa nada-nada ketus dalam ucapan nya memang, tapi seperti yang dapat anda semua duga, urusan saya selesai tanpa konflik.
Saya bersyukur belajar sebuah beladiri yang mengajarkan saya untuk tidak menyelesaikan masalah dengan tendangan atau pukulan, tetapi membuka hati dan menerima lawan apa adanya, menyatukan segala sesuatu, kemudian menyelesaikan masalah tanpa konflik.
Popularity: 20% [?]