March 3, 2007
Awal Sebuah Perjalanan
Saya akan bercerita sedikit tentang kehidupan remaja saya. Seperti kebanyakan orang, saya pada dasarnya tidak menyukai konflik, namun bila konflik itu muncul, saya percaya yang kuat lah yang menang, akibatnya saya mengembangkan sebuah kebiasaan buruk: ingin menjadi kuat dan membuktikannya dengan mengalahkan orang lain..
Semasa sekolah, saya sering terlibat perkelahian sampai suatu ketika menjelang kelulusan SMU, terjadi peristiwa yang hingga sekarang saya sikapi sebagai pelajaran berharga, saya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tangan kanan saya patah dan harus dipasang pin, sejak saat itu jangankan berkelahi, bermain tennis pun merupakan kegiatan yang menyakitkan untuk tangan kanan saya. Hari-hari perkelahian fisik saya berakhir.
Namun kebiasaan buruk saya tidak berhenti, perkelahian saya hanya berubah arena, ruang kuliah. Saya jadi sangat menyukai kuliah yang ada diskusi atau kesempatan berdebat. Saya belajar giat semata-mata untuk dapat melihat raut kecewa di wajah lawan debat saya ketika saya jatuhkan presentasi mereka didepan sidang. Bila menengok kembali kehari-hari itu ingin rasanya saya memohon maaf kepada semua orang yang telah saya sakiti hanya untuk kepuasan semu saya yang menyedihkan ini.
Dua tahun kuliah saya berjalan, saya mulai berlatih Aikido atas anjuran kawan yang mem”promosi”kan bahwa tangan saya tidak akan terbebani karena latihan aikido “tidak pakai banyak tenaga” karena lebih banyak menggunakan kuncian dan bantingan dari pada memukul. Saat awal latihan, persepsi saya tentang aikido tidak berbeda dengan beladiri lainnya, yaitu teknik untuk mengalahkan orang lain. Meskipun buku-buku aikido yang saya baca didalamnya banyak berbicara tentang harmonisasi, keselarasan dan cinta kepada semua mahluk (terutama buku yang mengutip ucapan ÕSensei), saya menganggap filosofi itu hanya hiasan.
Bila saya kaji kembali, persepsi seperti ini tidak sepenuhnya kesalahan saya, karena pada saat berlatih saya tidak dapat merasakan nafas filosofi tersebut didalam teknik. Contohnya, pada saat nage (orang yang melakukan teknik) melakukan teknik bantingan, saya sebagai uke (orang yang menerima teknik) terpaksa membantingkan diri hanya agar tangan saya tidak patah, atau pada saat nage melakukan kuncian, rasa sakit memang ada tapi saya tidak melawan hanya karena yang melakukan kuncian adalah kawan satu dojo dan bukan karena tidak mampu melawan.
Hati saya gundah, mana yang dikatakan harmonis? Mana yang dikatakan cinta kepada semua mahluk? Ataukah ucapan ÕSensei hanya igauan orang tua? Kondisi latihan seperti ini yang membentuk persepsi awal saya bahwa filosofi Aikido cukup tergantung di dinding dojo dan pada saat latihan, kita tetap saling banting dan kunci hingga orang lain menepuk kesakitan (didalam beladiri ada kebiasaan untuk menepukkan tangan ke matras atau kebagian tubuh lain untuk memberitahu bahwa teknik yang dilakukan sudah efektif menimbulkan rasa sakit). Meskipun begitu, saya tetap melanjutkan latihan saya hingga hampir satu tahun dengan harapan suatu saat saya akan lebih mengerti tentang aikido, hingga sampai kepada hari yang saya syukuri hingga hari ini sebagai awal perubahan latihan aikido saya dan hidup saya secara luas.
Hari saya pertama kali bertemu dengan Imanul Hakim Sensei, guru saya sampai sekarang, saat itu beliau bersilaturahmi ke dojo tempat saya latihan dan saya berkesempatan menjadi uke beliau. Singkatnya, saya menyerang dan saya terbanting diatas matras tanpa menyadari bagaimana saya jatuh atau kenapa saya jatuh bahkan tidak ada rasa sakit yang memaksa saya untuk jatuh. Padahal perawakan Sensei saya tinggi besar, jikalau beliau mau memaksa saya jatuh dengan tenaga fisik saja pun saya akan jatuh tapi saya sama sekali tidak merasakan itu. Saya coba menyerang hingga lebih dari tiga kali dan saya merasakan hasil yang sama. Setelah latihan, saya menanyakan pada beliau apa yang sebenarnya terjadi tadi, selama latihan hampir satu tahun saya belum pernah merasakan teknik seperti itu, bagaimana cara melakukannya? Beliau menjelaskan (dengan bahasa Indonesia), dan saya tidak mengerti sedikitpun maksud beliau. Anda mungkin bertanya-tanya penjelasan seperti apa yang diberikan? Sesulit itukah? Sebenarnya tidak, tapi malam itu saya belum punya dasar pengetahuan yang cukup untuk menalar penjelasan beliau sehingga kata yang sangat sering terdengar pun terasa sangat asing dan membingungkan.
Malam itu intinya beliau berkata “Harmoniskan.” Malam itu saya tidak mengerti maksud kata itu, namun saya merasakan nafas filosofi yang disampaikan ÕSensei hidup dalam teknik Sensei saya. Malam itu hati saya berseru, ini Aikido yang saya cari!. Malam itu saya bertekad merubah ketidaktahuan menjadi pemahaman. Perjalanan saya baru saja dimulai. Kata kunci pertama: “Harmoniskan!”
Popularity: 31% [?]
