Nen
Dalam kesempatan saya berlatih bulan lalu, saya kembali diingatkan tentang salah satu aspek penting dalam latihan Aikido yaitu tentang Nen. Nen adalah istilah bahasa Jepang yang dapat diartikan kekuatan visualisasi. Didalam latihan seringkali kita ditekankan untuk menggunakan visualisasi dalam melakukan tiap gerakan. Misalnya, pada saat melakukan ikyo~undo maka tidak hanya kita mengayun tangan kedepan dan membuka telapak tangan, tapi pada saat yang sama kita dianjurkan untuk memvisualisasikan ada gelombang energi yang memancar deras keluar dari telapak tangan kita kearah depan, atau semacamnya. Contoh lain misalnya, pada saat suwari waza kokyu~ho, meskipun tangan kita dalam keadaan dipegang erat, agar tidak beradu kekuatan dengan lawan, kita harus visualisasikan bahwa tangan kita dan tangan lawan adalah satu kesatuan sehingga dapat bergerak layaknya sebuah satu kesatuan, dari visualisasi demikian maka akan menghasilkan gerakan harmonis tanpa konflik. Bagi kita yang telah berlatih aikido tentu setuju jika saya katakan, keberhasilan atau kegagalan dalam peng-eksekusian teknik aikido banyak tergantung dari Nen atau kekuatan visualisasi kita.
Nen, tidak hanya berarti kekuatan visualisasi dari sisi fokus pikiran, tetapi juga termasuk didalamnya niat, sikap, dan keyakinan sehingga bila kita kaji lebih dalam, Nen merupakan sesuatu yang berdimensi tidak hanya intelektual, namun juga emosional dan spiritual.
Sehubungan dengan pembahasan tentang Nen, kita semua bangsa Indonesia baru saja kembali dihadapkan pada cobaan yaitu gempa yang menimpa saudara-saudara kita di Yogya dan sekitarnya, yang kemudian menarik perhatian adalah aftermath dari kejadian tersebut. Di beberapa suratkabar ada yang memberitakan penduduk setempat yang menjadi korban bencana kemudian bunuh diri karena stress menghadapi kejadian ini,tapi di salah satu wawancara televisi ada juga korban lain seorang lansia dengan kepala masih diperban karena cidera dan juga tengah dilanda kehilangan harta dan nyawa sanak keluarganya dapat mengatakan “Alhamdulillah, sekarang saya baik-baik saja…â€.
Memang adalah sesuatu yang hampir mustahil mengukur dan membandingkan kepedihan hati seseorang yang sedang berduka, namun bila kita melihat kejadian yang menimpa dalam skala besar seperti ini, tanpa maksud mengecilkan arti duka dari tiap-tiap individu yang merasakan maka dapat dikatakan semua orang berduka, semua orang tertimpa musibah yang sama beratnya, tapi mengapa ada orang yang bereaksi berbeda?
Bila saya boleh berpendapat, hal ini dikarenakan Nen masing-masing individu tersebut. Bagaimana mereka memvisualisasikan keadaan yang mereka harus hadapi, bagaimana mereka mempersepsikan, mensikapi dan meyakini kejadian tersebut yang membuat reaksi mereka menjadi beragam pula.
Dari kejadian yang menimpa saudara kita di Yogya dan sekitarnya mudah-mudahan kita warga Aiki Kenkyukai dapat mengambil hikmah, jika dalam keseharian kita masih mengeluh betapa beratnya hidup saya ini, tidak ada problem yang lebih berat dari problem saya, tidak ada yang lebih menyedihkan dari yang saya alami, mari kita ingat tentang Nen, kekuatan visualisasi, persepsi, sikap dan keyakinan. Mari kita ingat apa yang telah diajarkan kepada kita tentang Aikido, Aikido adalah Budo, Budo adalah bagaimana memiliki sikap yang terbaik bahkan pada saat harus menghadapi yang terburuk. Untuk dapat bersikap yang terbaik dihadapan yang terburuk kita harus memiliki Nen yang terbaik. Dan sebaik-baiknya Nen adalah yang bersandar kepada kebenaran sejati, kebenaran yang datang dari Yang Maha Benar dan Maha Kuasa.
Popularity: 11% [?]